banner 728x250

CV SSP Timika: Contoh Sukses Pemberdayaan Masyarakat Adat di Sektor Perikanan

TIMIKA, Papuadaily — Di tengah pesatnya geliat pembangunan di tanah Amungme dan Kamoro, muncul satu praktik bisnis yang tak sekadar berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat asli. Adalah CV Seafood Sejahtera Papua (SSP), perusahaan yang dinilai mampu menyeimbangkan aktivitas bisnis dengan tanggung jawab sosial melalui sektor perikanan.

Dalam situasi di mana banyak pihak mengklaim mewakili kepentingan masyarakat adat, CV SSP justru hadir dengan pendekatan yang lebih nyata: memberdayakan, melibatkan, dan mengembalikan manfaat ekonomi kepada masyarakat tempat mereka beroperasi.

Tokoh masyarakat Amungme, Melianus Hagabal, menilai CV SSP sebagai contoh nyata bagaimana pelaku usaha bisa berkontribusi tulus terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.

“CV SSP benar-benar memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat Kamoro sebagai hak mereka. Komitmen mereka jelas: karena mengambil hasil dan beroperasi di tanah ini, menjadi tanggung jawab mereka untuk memfasilitasi masyarakat asli dengan sarana prasarana, termasuk alat tangkap, bahan makanan, serta pemberdayaan sumber daya manusia,” ungkap Melianus.

Menurutnya, langkah yang dilakukan CV SSP sejalan dengan semangat Otonomi Khusus (Otsus) yang menekankan kesejahteraan masyarakat Papua melalui pemberdayaan ekonomi lokal.

Melianus juga menegaskan bahwa kiprah CV SSP layak menjadi inspirasi bagi perusahaan lain yang beroperasi di wilayah Amungme dan Kamoro, termasuk PT Freeport Indonesia dan PT Pangan Sari Utama, khususnya dalam hal kualitas dan kuantitas suplai ikan serta udang.

Ia berharap, pemerintah daerah dan pusat memberi dukungan nyata kepada perusahaan-perusahaan dengan komitmen serupa — baik melalui bantuan sarana penangkapan ikan, dukungan teknis dinas perikanan, maupun pembangunan cold storage untuk memperkuat rantai pasok.

“Kementerian terkait juga diharapkan memberikan perhatian khusus, termasuk dukungan untuk pembangunan cold storage yang sangat krusial bagi operasional perusahaan,” ujarnya.

Saat ini, CV SSP mempekerjakan 20 tenaga lokal dari total lebih dari 50 karyawan, dan terus berupaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai produksi. Hasil tangkapan nelayan lokal disalurkan ke perusahaan melalui sistem penampungan dan pendinginan (cold storage) sebelum dipasarkan.

Model bisnis seperti ini memberi manfaat ganda: masyarakat memiliki akses pasar yang jelas untuk hasil tangkapannya, sementara perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku berkualitas yang berkelanjutan.

“Niat baik seperti ini harus didukung oleh pemerintah pusat dan daerah. Sebagai tokoh masyarakat, saya melihat niat baik CV SSP dalam merangkul masyarakat dan memberikan hak mereka. Selama ini, mereka bekerja dengan tenang dan memberikan dampak positif demi kesejahteraan masyarakat lokal, yang pada akhirnya meningkatkan ekonomi keluarga mereka,” pungkas Melianus Hagabal.

Penulis: TerryEditor: Sevianto