Timika, Papuadaily – Maraknya kasus bunuh diri yang melibatkan anak usia di bawah 12 tahun di Kabupaten Mimika dinilai sebagai indikasi krisis kesehatan mental yang serius. Kondisi ini menjadi perhatian khusus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kabupaten Mimika yang menyoroti pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Wakil Ketua HIMPSI Mimika, Christin Yoku, menjelaskan bahwa anak usia sekitar 10 tahun sudah memasuki fase remaja awal, di mana emosi mereka cenderung labil dan sedang dalam proses pencarian jati diri serta pengakuan sosial. Di fase ini, dukungan dari lingkungan terdekat menjadi sangat krusial.
“Ketika anak mengalami emosi negatif tetapi tidak memiliki support system atau dukungan, mereka bisa kehilangan arah. Apalagi tantangan yang dihadapi bukan hanya dari rumah, tetapi juga dari sekolah dan pergaulan,” ujar Christin di Timika, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, masalah akan semakin rumit jika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan. Emosi yang dipendam tanpa adanya edukasi dan pendampingan yang tepat berpotensi menjadi tekanan psikologis yang membahayakan.
“Emosi yang dipendam itu seperti bom waktu. Anak tidak tahu harus menyalurkan ke mana, akhirnya semua disimpan sendiri,” jelasnya.
Christin juga mengingatkan dampak paparan informasi kasus serupa. Anak-anak bisa terpengaruh dan salah memahami bahwa mengakhiri hidup adalah solusi atau jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.
“Anak bisa menilai bahwa tindakan tersebut adalah jalan keluar, karena melihat contoh dari kasus yang ada,” tambahnya.
Pendampingan dan Program Sosialisasi
Terkait penanganan korban dan keluarga, Christin menyebutkan bahwa tim pendamping telah melakukan kunjungan awal. Observasi menemukan adanya trauma mendalam, terutama pada saudara kandung korban yang masih anak-anak. Proses ini akan dilanjutkan dengan penanganan lebih intensif bersama psikolog profesional.
Ke depan, HIMPSI Mimika berencana meluncurkan program sosialisasi kesehatan mental mulai Mei mendatang. Program ini akan menyasar sekolah, lingkungan keagamaan, hingga masyarakat umum, guna meningkatkan kesadaran dan menciptakan ruang aman bagi anak serta remaja.

