banner 728x250

PKBM Tabea Ebenhaezer Mimika Bentuk Generasi Baru Pelestari Tradisi

PKBM Tabea Ebenhaezer menggelar Workshop Penata Music dan Tari seka, di Hotel Kamoro Tame, Mimika. (Papuadaily/Crystal)

Timika, Papuadaily — Kekhawatiran terhadap hilangnya pemahaman asli tentang tari Seka mendorong Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM)Tabea Ebenhaezer Mimika menggelar pelatihan intensif selama tiga hari sebagai bagian dari rangkaian Timika Art Creation Festival.

Kegiatan ini melibatkan 45 peserta yang terdiri dari tutor, pengurus, serta generasi muda binaan PKBM. Berlangsung pada, 8-10 Desember 2025, berlokasi di Komoro Theme Hotel & Resort.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk mengembalikan pemahaman dasar mengenai Seka, khususnya bagi anak-anak muda yang kini mulai menjauh dari tradisi.

Pemateri Music Tradisional, Dominggus Kapiyau, menegaskan bahwa Seka bukan tarian adat, melainkan tarian pergaulan muda-mudi yang telah ada sejak tahun 1960-an di Kokonao.

“Seka itu tarian pergaulan muda-mudi. Banyak yang salah kaprah menganggapnya tari adat. Padahal dulu, anak muda menari Seka untuk bertemu dan mencari jodoh,” jelas.

Ia memaparkan bahwa pergeseran fungsi Seka kini semakin terlihat. Banyak generasi muda tampil dengan pakaian adat, bahkan mengecat wajah dengan motif yang tidak mereka pahami artinya. Selain itu, musik pengiring Seka yang semestinya akustik ukulele, gitar, bass, hingga stick bambu, kini mulai digantikan musik elektronik.

“Kalau kita mulai terpengaruh budaya luar, kita bisa kehilangan jati diri. Kita tahu kita orang Papua, tapi apakah kita tahu tradisi asli kita?” tegasnya.

Dalam pelatihan, peserta dikenalkan dua bagian utama gerak Seka: gerak dasar dan gerak variasi, yang masing-masing diiringi lagu bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Dominggus juga menekankan bahwa formasi Seka hanya berbentuk lingkaran, berbeda dengan tarian kontemporer yang memodifikasi pola lantai. Untuk konteks lomba, peserta wajib membuat sinopsis serta pola lantai sesuai petunjuk teknis.

Ia juga meluruskan kesalahpahaman publik yang menyebut bahwa Seka bercampur dengan Yosim Pancar. Menurutnya, Seka adalah tradisi Kamoro, bukan berasal dari Biak maupun Serui.

Praktisi seni budaya Dominggus Kapiau menegaskan bahwa generasi muda yang ingin melestarikan tari Seka harus belajar dari instruktur yang benar-benar memahami esensi gerak tari.

“Menurutnya, dalam tari Seka tidak ada istilah gerak asli atau tidak asli, melainkan gerak yang sebenarnya dan yang tidak sebenarnya,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat, berani bertanya, menerima koreksi, serta siap kalah dan menang dalam perlombaan. Domingus juga mengingatkan agar anak-anak muda tidak mengambil jalan pintas dalam belajar budaya, karena pelestarian tradisi menuntut pemahaman yang utuh dan benar.

Dominggus menilai pelestarian tari Seka membutuhkan kerja sama antara masyarakat adat, lembaga masyarakat, PKBM, dan pemerintah, serta keterlibatan aktif anak-anak dari suku asli agar tidak tersisih oleh keadaan. Menurutnya, ruang dan keberanian harus diberikan agar mereka bisa berkembang.

Selain itu, ia mengusulkan pengembangan tari Seka melalui program tur budaya ke luar Mimika agar masyarakat luas memahami bentuk tari Seka yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa kerja sama, koordinasi, dan saling pengertian menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan budaya.

Sementara itu , Ketua Panitia Pelaksana, Regina Meiciez menyampaikan pelatihan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Sehingga kesempatan belajar langsung dari pelaku budaya menjadi pengalaman berharga.

Program peningkatan kapasitas ini juga didukung oleh Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan di Mimika.

Melalui kegiatan ini, Regina Meiciez berharap terbentuknya generasi pelestari budaya yang mampu menjaga akar tradisi di tengah perubahan zaman, sekaligus mengembangkan potensi Seka sebagai karya budaya bernilai ekonomi.