Timika, Papuadaily – Kedatangan KM Tatamailau di Pelabuhan Poumako, Kabupaten Mimika, pada Jumat (12/12/2025), dipadati ratusan penumpang pada puncak arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026.
Kepadatan penumpang tersebut menyebabkan kondisi kapal laut tidak normal. Salah satu penumpang rute Timika–Tual, Yohana, mengaku merasakan langsung situasi di atas kapal yang sangat padat.
Menurutnya, banyaknya penumpang yang naik secara bersamaan membuat kapal berlayar dalam kondisi miring. Situasi tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman hingga pusing bagi sebagian penumpang.
“Di dalam kapal sangat padat. Penumpang tidak bisa duduk dengan baik karena keterbatasan ruang. Tempat tidur tidak tersedia, bahkan ruang untuk berdiri pun hampir tidak ada,” ujar Yohana.
Ia juga mengungkapkan bahwa meskipun terdapat pengecekan oleh petugas, masih ditemukan penumpang yang tidak memiliki tiket saat naik ke kapal. Kondisi ini dinilai menunjukkan pengawasan keluar-masuk penumpang belum berjalan maksimal.
Kepadatan tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan pelayaran, terutama saat kapal diberangkatkan dengan muatan penumpang yang melebihi kapasitas di tengah tingginya arus mudik.
Kepala Pelni Cabang Timika, Rachmansyah Chaidir, menyebutkan bahwa pada hari tersebut hampir 1.000 penumpang tercatat berangkat menggunakan jasa kapal laut milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).
“Pada hari itu hampir 1.000 orang berangkat menggunakan KM Tatamailau,” kata Rachmansyah.
Ia menjelaskan bahwa KM Tatamailau merupakan kapal terakhir yang masih dapat mengantar penumpang untuk merayakan Natal bersama keluarga di kampung halaman. Pasalnya, jadwal kedatangan kapal berikutnya diperkirakan sudah melewati perayaan Natal.
“Ke depannya sudah tidak ada lagi karena sudah lewat Natal. Tanggal 23 Desember 2025 KM Sirimau masuk, tanggal 24 Tatamailau kembali dengan tujuan Agats dan Merauke. Kapal kembali sekitar tanggal 29 dan 31 Desember, sehingga sudah tidak bisa dikatakan puncak arus mudik lagi,” jelasnya saat dihubungi, Sabtu (13/12/2025) sore.
Diketahui, pada kedatangan dan keberangkatan KM Tatamailau, suasana tak biasa terlihat di Dermaga Pelabuhan Poumako. Ribuan orang memadati area dermaga hingga menghambat aktivitas bongkar muat serta menutup sejumlah akses jalan masuk.
Kepadatan tidak hanya terjadi di dermaga, tetapi juga di atas kapal. KM Tatamailau bahkan dilaporkan berangkat dalam kondisi miring ke kanan saat meninggalkan dermaga.
Rachmansyah menjelaskan bahwa kepadatan di dermaga tidak hanya disebabkan oleh penumpang, tetapi juga pengantar, penjemput, serta pengunjung pelabuhan. Bahkan kendaraan roda dua, roda empat, hingga ternak dilaporkan turut masuk ke area dermaga.
“Selain penumpang, ada pengantar, penjemput, dan pengunjung. Ditambah lagi ada KRI yang sandar lebih dulu dan menurunkan sekitar 2.000 personel BKO di Timika, sehingga penjemputnya juga banyak dan membaur di area dermaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, kepadatan tersebut diperparah oleh lemahnya sistem keamanan pelabuhan akibat minimnya fasilitas pendukung.
“Tidak ada terminal penumpang, tidak ada pos untuk mensterilkan penumpang. Seharusnya yang masuk hanya pemilik tiket, tetapi di sini pengantar, pengunjung, mobil, dan motor semuanya masuk,” terangnya.
Lebih lanjut, Rachmansyah mengatakan bahwa Pelni bersama seluruh otoritas terkait tidak dapat berbuat banyak karena status lahan Pelabuhan Poumako saat ini bukan lagi milik pemerintah, melainkan pihak swasta.








