Barista Mimika Punya Semangat, Kopi Lokal Masih Terkendala Akses dan Pasar

Timika, Papuadaily – Semangat barista di Kabupaten Mimika untuk berkembang mendapat perhatian dari praktisi sekaligus juri kompetisi kopi nasional, Willy Sidewalk.

Kehadiran Willy dalam gelaran Tanding Seduh Kapolres Cup yang diselenggarakan Polres Mimika dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tidak hanya sebagai juri. Ia juga meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada barista lokal secara gratis.

Sesi sharing dan diskusi kopi tersebut menjadi ruang bagi barista Mimika untuk belajar langsung mengenai dasar-dasar kopi yang selama ini dinilai jarang dibahas secara mendalam.

Perwakilan Barista Mimika, Umme, mengatakan kehadiran Willy memberikan semangat baru bagi barista di Mimika.

“Kalau di Papua ini sudah kedua kalinya ada kegiatan sharing dan diskusi kopi seperti ini. Tetapi pertemuan ini sangat berbeda. Kedatangan juri nasional kopi di Timika membuat kami sangat antusias karena beliau mau berbagi ilmu dan semangat baru untuk barista Mimika,” ujarnya di salah satu cafe di Timika, 22 Agustus 2026 lalu.

Menurut Umme, materi yang dibagikan Willy menjadi hal menarik karena menyentuh pengetahuan dasar yang justru jarang mereka dapatkan.

“Kita tidak pernah mendapatkan ilmu-ilmu basic kopi seperti ini, basic yang jarang sekali dibahas. Biasanya kalau kami belajar hanya secara umum,” katanya.

Ia menilai kehadiran juri nasional tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan kopi di Mimika mulai mendapat perhatian dari luar daerah.

“Pastinya dia juga pengen tahu, barista di Timika ini seperti apa, dan pencinta kopi sudah sampai mana,” ujarnya.

Umme menyebut perkembangan penikmat kopi di Mimika saat ini cukup pesat. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya kafe dan tempat usaha kopi yang tumbuh di Timika.

“Untuk Kabupaten Mimika, penikmat kopi sedang meledak dan sangat terkenal. Ditambah lagi dengan banyaknya kafe, itu sudah membuktikan bahwa kopi sedang naik kelas,” katanya.

Namun, geliat tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kuatnya ekosistem kopi lokal. Salah satu persoalan yang masih dihadapi pelaku usaha adalah akses terhadap biji kopi mentah produksi Mimika.

Owner salah satu roastery UMKM di Mimika, Dilan, mengatakan saat ini pihaknya masih mendatangkan biji kopi mentah dari Jawa Tengah.

“Saat ini kita mengambil biji kopi mentahnya masih dari Jawa. Di sana sangat murah dan ketika kita butuh stoknya ada juga,” kata Dilan.

Menurutnya, bukan karena pelaku usaha tidak tertarik menggunakan kopi lokal. Persoalannya justru terletak pada sulitnya mengetahui akses untuk mendapatkan biji kopi dari petani Mimika.

“Kalau untuk mengambil dari petani biji kopi di Kabupaten Mimika sendiri belum karena kami tidak tahu aksesnya dan tidak ada pasarnya,” ujarnya.

Dilan mengatakan informasi mengenai akses kopi lokal selama ini dinilai masih terbatas.

“Kami boleh mengakses kopi Timika dan susah sekali akses untuk mendapatkan biji kopi yang mentahnya, soalnya yang tahu akses itu hanya orang dinas dan perusahaan swasta di Kabupaten Mimika,” katanya.

Padahal, kata Dilan, pelaku usaha roastery dan barista lokal memiliki keinginan untuk mengangkat kopi Timika agar dikenal lebih luas.

“Sebenarnya kita mau sekali untuk mempromosikan dan memamerkan kopi Timika ke daerah lain. Tetapi selama ini tidak ada yang bergerak untuk mempromosikan lewat barista-barista lokal Timika,” ujarnya.

Menurutnya, kepastian pasar menjadi kunci. Jika jalur pemasaran dan permintaan kopi lokal sudah jelas, pelaku usaha akan lebih berani mengembangkan dan mempromosikannya.

“Apabila kami tahu pasarnya, pasti secara terang-terangan kita juga akan mempromosikan kopi Timika,” katanya.

Ia mencontohkan Jayapura yang dinilai memiliki pasar kopi lebih jelas. Ketika permintaan meningkat, petani dapat menyesuaikan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Contohnya saja di Jayapura, sangat jelas pasarnya. Ketika permintaan pasar kopi banyak, para tani mampu untuk menyeimbangkan supply-nya,” ujarnya.

Dilan menyebut saat ini terdapat sekitar lima roastery kopi di Timika. Di sisi lain, jumlah barista lokal juga cukup banyak. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan petani kopi lokal.

“Di Timika roastery kopi ada lima, termasuk saya, dan barista di Mimika lumayan banyak. Sayangnya kita tidak tahu pasar penjualan biji kopi mentah di mana,” katanya.

Di sisi lain, Umme mengakui pertemuan antarsesama barista di Mimika juga masih jarang dilakukan. Kesibukan masing-masing menjadi salah satu kendalanya.

“Untuk sharing sesama barista itu sangat jarang sekali. Bahkan dalam komunitas barista sendiri itu sudah pada kerja dan punya kesibukan lain,” tuturnya.

Meski demikian, ia menilai ruang bertemu dan bertukar pengetahuan tetap penting untuk menjaga perkembangan barista lokal.

“Untuk membuat kegiatan tersebut sangat susah, tetapi kita juga menyadari bahwa kita butuh pertemuan. Maka kita sendiri harus punya inisiatif untuk bertemu, tetapi tidak wajib,” katanya.

Sementara itu, Willy Sidewalk menilai para barista lokal Mimika memiliki modal penting untuk berkembang, yakni semangat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan.

Menurut Willy, semangat tersebut perlu terus dijaga agar barista lokal tidak hanya menjadi penikmat kopi, tetapi mampu berkembang dan bersaing lebih luas.

Bagi para pelaku kopi Mimika, persoalannya kini bukan sekadar bagaimana membuat secangkir kopi yang baik. Lebih jauh, mereka membutuhkan ekosistem yang mempertemukan petani, biji kopi lokal, roastery, barista, hingga pasar.

Jika akses bahan baku dan pasar dapat dibuka, kopi Mimika berpeluang tidak hanya dinikmati di Timika, tetapi juga diperkenalkan ke daerah lain melalui tangan para pelaku kopi lokal.