News  

BMKG Timika: Bahkan Musim Hujan pada Oktober Belum Normal Akibat Pengaruh El Nino

Prakirawan BMKG Timika, Dwi Christianto. (Papuadaily/Crystal)

Timika, Papuadaily – Fenomena El Niño dengan intensitas kuat hingga sangat kuat berdampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Kabupaten Mimika. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027 dan berpotensi memperpanjang periode kemarau serta meningkatkan risiko kekeringan.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Timika, Dwi Christianto, menyebut Agustus hingga September masih merupakan periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Bahkan ketika memasuki musim penghujan pada Oktober, curah hujan diperkirakan belum langsung kembali normal karena pengaruh El Niño masih berlangsung,” ujarnya saat ditemui wartawan di Timika, Rabu (26/8/2026).

Untuk Kabupaten Mimika, dampak El Niño terlihat dari penurunan curah hujan sejak Juni 2026.

“Curah hujan yang rata-rata berada di kisaran 500 milimeter, pada Juni hanya tercatat sekitar 378 milimeter,” jelasnya.

Penurunan lebih signifikan terjadi pada Juli. Dari rata-rata curah hujan sekitar 700 milimeter, BMKG mencatat curah hujan hanya sekitar 276 milimeter.

“Kondisi tersebut membuat curah hujan di Mimika mengalami penurunan sekitar 50 persen,” katanya.

Menurut Dwi, El Niño dengan intensitas moderat saja sudah dapat memengaruhi kondisi curah hujan di Mimika. Ketika intensitasnya semakin kuat, dampaknya terhadap kondisi kekeringan juga perlu diwaspadai.

Hal yang paling dikhawatirkan apabila kondisi ini terus berlanjut adalah berkurangnya ketersediaan air tanah. Terlebih, berdasarkan prediksi, pengaruh El Niño masih dapat berlangsung hingga awal 2027 meski intensitasnya diperkirakan perlahan menurun.

Di sisi lain, BMKG juga memantau keberadaan titik panas di wilayah Papua Tengah. Pada 24 Agustus 2026, berdasarkan pengamatan pukul 00.00 hingga 09.00 WIB, terdeteksi enam titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan 14 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan cukup besar adanya titik api di lapangan, sementara tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan indikasi yang lebih kuat terhadap keberadaan titik api.

Kondisi musim kemarau juga berkaitan dengan pola angin. Pada periode April hingga September, wilayah Indonesia umumnya dipengaruhi angin timuran yang bertiup dari Australia menuju wilayah Indonesia.

Pola angin tersebut memungkinkan asap dari wilayah yang mengalami kebakaran bergerak ke daerah lain. Dalam beberapa hari terakhir, asap mulai terpantau bergerak menuju wilayah Mimika.

Sementara itu, wilayah Merauke saat ini terpantau memiliki sejumlah titik panas. Namun, hingga saat ini keberadaan asap tersebut belum mengganggu aktivitas penerbangan di Mimika.

Dengan kondisi El Niño yang masih diprediksi bertahan, masyarakat perlu mewaspadai dampak kemarau berkepanjangan, terutama terhadap ketersediaan air tanah serta potensi penyebaran asap dari wilayah yang mengalami kebakaran.