Juri Nasional ke Barista di Timika: Harus Bangga Kopi Daerah Sendiri

Timika, Papuadaily – Pertumbuhan coffee shop di Timika yang semakin pesat dinilai tidak serta-merta membuat kualitas kopi terabaikan. Justru, sejumlah pelaku usaha mulai menunjukkan keseriusan dalam membangun budaya kopi dan meningkatkan kualitas produk yang mereka sajikan.

Hal tersebut disampaikan juri kopi nasional, Willy Sidewalk, saat melihat perkembangan coffee shop dan barista di Timika.

Menurut Willy, meski perkembangan industri coffee shop di Timika terbilang masih baru, para pelaku usaha mulai menunjukkan perhatian serius terhadap kualitas kopi.

“Masih baru, tapi walaupun pemain-pemainnya baru, mereka serius di coffee,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan di Timika, 22 Agustus 2026.

Ia mencontohkan salah satu coffee shop yang dikunjunginya selama berada di Timika. Menurutnya, pemilik usaha tersebut bahkan memiliki ruang khusus untuk melakukan riset dan pengembangan atau research and development (R&D) terhadap produk kopi.

“Owner-nya malah bikin lab di lantai dua. Saya diajak ke sana untuk research and development produk-produk dia, nyobain kopi-kopi semuanya. Mereka ada lab sendiri,” katanya.

Willy menilai, langkah tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal mulai memahami pentingnya kualitas, mulai dari pemilihan biji kopi, proses roasting hingga penggunaan peralatan.

“Mereka sudah mulai concern di kualitas kopinya. Mulai memilih kopi yang bagus, roasting-nya juga bagus, alat-alatnya sudah proper semua. Itu maju,” ujarnya.

Dari sejumlah coffee shop yang dikunjunginya di Timika, juri kopi nasional Willy Sidewalk mengaku belum menemukan tempat yang dinilainya gagal dalam menyajikan kopi.

“Selama di Timika ini kita mengumpulkan tempat yang memang kita cari yang serius di coffee. Sampai sejauh ini belum ketemu yang fail,” katanya.

Namun, menurutnya, peningkatan kualitas tidak cukup hanya dengan kemampuan barista membuat kopi. Barista juga perlu memahami alasan di balik setiap proses penyeduhan agar mampu memberikan edukasi kepada pelanggan.

“Mereka bisa bikin kopi, bisa jago, diajarin sampai bisa. Tapi kadang yang tidak tahu itu buahnya. Kenapa harus pakai air ini? Kenapa harus pakai suhu ini? Kenapa harus pakai lama-lama ini?” jelasnya.

Pemahaman tersebut, kata Willy, penting agar barista tidak hanya menjadi pembuat minuman, tetapi juga mampu berkomunikasi dan menjelaskan karakter kopi kepada pelanggan.

“Jadi kalau ada customer, mereka juga lebih bisa menjelaskan,” katanya.

Di sisi lain, Willy mendorong barista di Timika untuk lebih berani mengeksplorasi kopi Papua. Menurutnya, sebagai daerah yang memiliki keterkaitan dengan produksi kopi Papua, coffee shop di Timika semestinya ikut memperkenalkan dan membanggakan kopi lokal.

“Kalau buat saya, wajib harus ada. Apalagi kita daerah penghasil kopi, kita harus bangga dengan kopi kita. Baru nanti kalau baristanya sudah eksplor, sudah jago, dia harus belajar untuk berani kompetisi-kompetisi,” ujarnya.

Ia mengatakan kopi Papua sendiri memiliki karakter yang khas dan berbeda-beda, tergantung varietas maupun proses pengolahannya.

“Kalau ngomongin rasa, prosesnya macam-macam. Ada yang bagus, ada yang natural. Cuma selalu ada ciri khas sendiri yang memang beda dengan kopi yang lain,” katanya.

Menurutnya, kopi Papua cenderung memiliki karakter yang seimbang atau balance, dengan tingkat keasaman yang tidak terlalu dominan dan karakter cokelat yang dapat muncul dalam cita rasanya.

Willy juga mengungkapkan bahwa kopi Papua sebenarnya sudah lama dikenal di kalangan roaster. Namun, ketersediaannya masih menjadi salah satu tantangan karena tidak banyak pihak yang menjual kopi Papua ke pasar yang lebih luas.

“Dari dulu kita main kopi, roaster-roaster itu selalu kesulitan cari kopi Papua. Karena yang jualan itu tidak banyak,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai Timika memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem kopi Papua.

Perkembangan tersebut, menurut Willy, juga perlu didukung dengan semakin seringnya kompetisi kopi dan kegiatan yang menghadirkan praktisi maupun juri dari luar daerah.

“Kalau sering diadakan kompetisi, barista akan lebih kompetitif satu sama lain,” katanya.

Ia menilai kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang bagi barista lokal untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas wawasan tentang dunia kopi.

Sementara itu, salah satu tantangan yang dihadapi pemilik coffee shop untuk menyediakan kopi Papua adalah persoalan harga. Menurut Willy, kopi lokal yang berkualitas tidak selalu berarti harus dijual murah.

“Kalau bahan lebih mahal, itu kadang bisa dihitung. Bedanya seberapa. Kalau memang mahal, ya jualnya agak mahal sedikit. Selama kualitasnya bagus,” jelasnya.

Menurutnya, harga dan kualitas dapat disesuaikan dengan segmen coffee shop yang dibangun. Coffee shop yang memang membangun budaya kopi akan lebih memperhatikan kualitas bahan dibanding sekadar menjual minuman.

Dengan semakin banyaknya coffee shop, meningkatnya kemampuan barista, serta hadirnya kompetisi dan praktisi kopi dari luar daerah, juri kopi nasional Willy Sidewalk melihat perkembangan budaya kopi di Timika masih memiliki ruang yang besar untuk tumbuh.

Ia berharap perkembangan tersebut tidak hanya membuat Timika menjadi pasar kopi dari luar, tetapi juga mampu menjadikan kopi Papua sebagai produk yang semakin dikenal dan dinikmati masyarakat luas.