Oleh: Jake Merril Ibo (Direktur Pusat Bantuan Mediasi GKI)
Di ruang-ruang rapat yang tertutup, di meja-meja kebijakan yang sering dingin terhadap suara rakyat Papua, satu usulan muncul seperti pukulan keras ke jantung birokrasi: Dana Otsus harus masuk langsung ke rekening Orang Asli Papua (OAP). Tanpa perantara. Tanpa ritual antre panjang. Tanpa potongan. Tanpa permainan.
Dan yang menyuarakannya bukan tokoh adat, bukan politisi Papua, bukan aktivis lama yang sudah puluhan tahun mengangkat isu yang sama. Usulan itu datang dari seseorang yang bukan Orang Asli Papua (OAP), tetapi berhati OAP dan dekat dengan kekuasaan Presiden Republik Indonesia. Namanya: YANNI, S.H., M.H., M.Sos (dipanggil Ibu Yani), anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (Otsus).
Dalam politik, lokasi menentukan segalanya. Lokasi seseorang di lingkaran kekuasaan bisa mengubah sebuah ide dari sekadar catatan pinggir menjadi debat nasional. Dan begitulah yang kini terjadi.
1. Suara- Suara yang Lama Dipinggirkan
Jauh sebelum nama Ibu Yani masuk ke percakapan, isu penyaluran Dana Otsus secara langsung sudah berulang kali dibahas di Papua. Dari ruang kuliah hingga ke forum dialog dan rumah adat, dari aktivis pro-demokrasi hingga tokoh agama, semuanya pernah menyuarakan hal yang sama:
- Dana Otsus bocor.
- Dana Otsus tidak sampai ke rakyat.
- Dana Otsus menguap di birokrasi.
- Dana Otsus jadi bancakan elit politik.
Sudah terlalu banyak laporan yang menggambarkan perjalanan dana dari pusat yang dipenuhi tikungan: potongan di provinsi, distorsi di kabupaten, belok kiri di dinas, mampir di panitia lokal, dan akhirnya tiba di masyarakat dalam bentuk serpihan, karena memang dana otsus berstatus dana tambahan APBD.
Tetapi suara-suara itu, meski benar, kurang kuat. Karena mereka tak punya akses ke pusat kekuasaan. Hingga datang Ibu Yani. Dalam politik Indonesia, punya relasi langsung dengan Presiden adalah sebuah gaya soft gravitasi tersendiri. Ide sederhana pun bisa berubah menjadi kebijakan besar jika disampaikan oleh orang yang tepat di telinga yang tepat.
Dan bagi banyak orang Papua, inilah pertama kalinya aspirasi lama mereka menemukan pendorong yang diyakini mampu mengetuk pintu paling penting di negara ini.
2. BLT Adalah Masa Lalu, Uang Rakyat Harus Turun Tanpa Sirkus Birokrasi
Begitu usulan ini terdengar dan mencuak ke permukaan, para penentang tergesa-gesa mengaitkannya dengan BLT.
Ada yang bilang:
- “Nanti rakyat jadi malas.”
- “Susah mengawasi.”
- “Ini hanya populisme murah.”
- “BLT itu kacau, kita sudah coba.”
Tapi argumen-argumen itu bisa dipatahkan. Karena yang ditawarkan Ibu Yani bukan BLT.
Bukan bantuan yang dibagikan di lapangan dengan panitia berlapis-lapis. Bukan bantuan yang memaksa orang antre sambil membawa fotokopi KTP dan KK berlembar-lembar.
Model BLT lama, dengan segala drama antrean, salah sasaran, dan celah pungli, adalah peninggalan masa kertas, era sebelum Indonesia punya NIK digital, Dukcapil terintegrasi, dan sistem transfer perbankan yang bisa mengirim jutaan transaksi dalam hitungan detik.
Ibu Yani bicara tentang masa depan:
Transfer langsung berbasis NIK dan rekening bank OAP.
Tidak ada lagi ruang untuk “uang hilang di tengah jalan”.
Tidak ada lagi pejabat yang memotong “biaya administrasi”.
Tidak ada lagi “tunggu besok mama-mama, kepala distrik belum tandatangan”.
Sekali jika tombol ditekan di Jakarta, uang OAP masuk ke rekeningnya.
Dan jejaknya tidak bisa dihapus.
3. Politik Data menjadi Arena Pertarungan Baru
Tetapi mari jujur: Usulan ini tidak hanya memotong birokrasi. Ia juga memotong kekuasaan.
Setiap rupiah Dana Otsus yang turun langsung ke rakyat adalah rupiah yang tidak lagi bisa dikelola, dibagi, atau diarahkan oleh pemerintah daerah, dinas, atau kelompok kepentingan tertentu.
Skema transfer langsung adalah pengambilalihan kendali oleh negara atas jalur dana yang selama ini menjadi ruang gelap banyak elite lokal. Karena itu, resistensi pasti ada.
Bukan karena skemanya buruk, tetapi karena ia mengubah struktur kekuasaan.
Dalam politik, perubahan yang menggeser distribusi kekuasaan selalu menimbulkan perlawanan. Namun di sinilah nilai strategis Ibu Yani semakin terasa:
Ia bukan seseorang yang mudah digeser oleh tekanan elite daerah.
Ia bukan hanya seorang anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (Otsus).
Ia berada dekat dengan pusat kekuasaan tidak dapat dihambat lewat cara-cara biasa.
Dalam konteks ini, usulan Ibu Yani bukan hanya gagasan kebijakan, tetapi manuver politik.
4. Siapa OAP? Pertanyaan yang Selama Ini Dibiarkan Kabur
Untuk menyalurkan dana langsung, syaratnya sederhana:
- Satu OAP = Satu NIK elektronik
- Satu NIK = Satu rekening bank
- Data terintegrasi di level nasional
Tetapi ada masalah:
Definisi OAP selama ini sering menjadi wilayah abu-abu juga, dipertarungkan di ranah politik lokal. Dengan model transfer langsung, ruang perdebatan itu harus dipersempit menjadi definisi operasional yang terukur, bukan identitas yang ditafsirkan bebas.
Ini hal baik.
Karena begitu data OAP bersih dan terverifikasi, maka:
- tidak ada orang luar Papua ikut menerima,
- tidak ada data fiktif,
- tidak ada nama ganda,
- tidak ada manipulasi di tingkat distrik atau kampung.
Dengan kata lain, politik identitas OAP masuk era data, bukan lagi era klaim sepihak.
5. Mengapa Orang Papua Mendukung? Karena Mereka Lelah Dibohongi
Mari turun sedikit ke tanah, ke kampung dan lorong-lorong kota. Selama bertahun-tahun, terlalu banyak OAP yang menerima “Otsus” dalam bentuk:
- jalan rusak,
- sekolah roboh,
- rumah sakit tanpa dokter,
- proyek setengah jadi,
- pelatihan yang tak jelas tujuannya,
- dan janji-janji yang dibawa dengan spanduk, bukan hasil.
Dengan skema transfer langsung, akan jadi untuk pertama kalinya OAP bisa memegang kendali atas sebagian dana itu:
- digunakan untuk makan,
- untuk modal jualan,
- untuk membeli alat pertanian/kelauan, dll
- untuk biaya sekolah anak,
- atau untuk kebutuhan mendesak lainnya.
Dana Otsus tidak lagi “mengalir di atas kepala mereka”, tetapi mengalir ke tangan-tangan mereka.
6. Inilah Alasan Mengapa Peran Ibu Yani Menjadi Sangat Politik
Politik Indonesia punya dinamika sederhana:
ide besar hanya bisa hidup jika melalui orang yang tepat. Dan Ibu Yani, dengan jaringannya yang kuat dan posisinya dekat dengan Presiden, telah membawa ide ini ke level yang tidak pernah dicapai sebelumnya.
Banyak orang Papua mungkin punya pemahaman paling dalam tentang penderitaan OAP.
Tetapi tidak semua punya jalan untuk membawanya ke telinga Presiden.
Ibu Yani menempuh jalan itu.
Dan dalam konteks politik nasional, yang kadang keras, kadang dingin, ini adalah sebuah langkah yang:
- berani,
- strategis,
- dan menentukan.
Dengan kata lain, ia menggunakan kekuasaan untuk kebaikan, sesuatu yang tidak selalu dilakukan oleh mereka yang memiliki akses kekuasaan.
7. Pertarungan Baru Sedang Dimulai
Jika usulan ini benar-benar diambil pemerintah, maka Indonesia sedang bersiap masuk ke fase baru pengelolaan Dana Otsus:
- lebih bersih,
- lebih cepat,
- lebih tepat sasaran,
- lebih transparan,
- dan lebih langsung dirasakan.
Tapi tentu saja, pertarungan akan terus ada.
Ada yang merasa kehilangan kontrol.
Ada yang takut kehilangan proyek.
Ada yang kehilangan sumber pendapatan.
Namun sejarah selalu menunjukkan bahwa kebijakan yang benar, meski awalnya ditolak, akan menemukan jalannya jika diperjuangkan oleh orang yang tepat.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aspirasi rakyat Papua sedang menemukan jalannya ke pusat kekuasaan.
Melalui suara seorang perempuan yang bukan OAP, tetapi hati dan keberaniannya berpihak penuh kepada OAP.
Penutup: Jika Dana Otsus Benar-Benar Mengalir ke Rakyat
Jika usulan ini kelak berjalan, sejarah Otsus Papua akan berubah drastis.
Tidak lagi menjadi dana yang “menghilang” di tengah jalan.
Tidak lagi menjadi rebutan elite atau kelompok.
Tidak lagi menjadi lahan baku tipu.
Tetapi menjadi dana yang:
- masuk,
- terlihat,
- terukur,
- dan nyata mengubah kehidupan rakyat Papua.
Dan pada titik itu, OAP Adalah orang yang yang paling jujur, bisa berkata:
“Akhirnya ada yang memperjuangkan kami di pusat kekuasaan.” Dan nama itu, mau tidak mau, akan ikut disebut: Ibu Yani.
Opini adalah pendapat atau gagasan penulis. Keseluruhan tulisan dan atau konten menjadi tanggungjawab penulis.





