Timika, Papuadaily – Minimnya air bersih menjadi salah satu masalah krusial dihadapi masyarakat khususnya di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Bupati Mimika Johannes Rettob ketika meresmikan program air bersih di SP2 Timika Jaya, Sabtu (12/7/2025), mengatakan pihaknya punya komitmen mengatasi masalah air bersih tidak hanya di wilayah perkotaan tetapi juga di pesisir.
Pemkab Mimika telah menjalin kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membangun fasilitas pengolahan air bersih khususnya di wilayah pesisir Mimika.
BRIN mengembangkan teknologi membran seperti reverse osmosis untuk air laut dan air payau, di beberapa wilayah pesisir seperti Kampung Atuka, Kokonao, Amar, dan Uta.
“Minggu depan, akan diresmikan sistem air bersih di empat lokasi tersebut,” kata Bupati John.
“Di Timika kota, sumber airnya jelas. Namun di kampung-kampung, air sungai diolah hingga mencapai pH 8 agar layak minum,” lanjutnya.
Sejauh ini, kata John, Kampung Amar telah terhubung dengan sistem pengolahan air bersih dan sudah dimanfaatkan. Sistem ini menggunakan energi surya untuk akses air bersih 24 jam.
Program air bersih ini merupakan komitmen nyata bupati dan wakil bupati Mimika untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. John berharap fasilitas yang dibangun oleh pemerintah dapat dijaga dengan baik.
“Program penyediaan air bersih di seluruh wilayah Mimika ditargetkan selesai pada tahun 2027,” pungkas John.
Sebelumnya, dalam laporan Tim KKN-PPN UGM 2025 mengungkap krisis air bersih yang dialami warga Kampung Atuka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Salah satu anggota tim, Fatasya, menjelaskan kesulitan mendapatkan air bersih dan ketergantungan warga pada penampungan air hujan.
“Mencari air bersih sangat sulit. Kami mengandalkan air hujan, dan jika hujan tak turun, ya kami menunggu,” katanya dalam wawancara dengan Papuadaily, Sabtu (5/7/2025).