Timika, Papuadaily – Merah Putih berkibar di tengah bentang pegunungan Papua, pada ketinggian sekitar 4.885 meter di atas permukaan laut. Di kawasan Zebra Wall, kaki Puncak Cartensz atau Carstensz Pyramid, upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia digelar dengan latar salah satu bentang alam paling ekstrem di Indonesia.
Upacara tersebut dipimpin Kapolda Papua Tengah Irjen Pol. Jeremias Rontini dan diikuti Kapolres Mimika, perwakilan PT Freeport Indonesia, aparat kepolisian, tokoh masyarakat, serta masyarakat adat dari sejumlah suku yang mendiami kawasan Pegunungan Sudirman.
Puncak Cartensz dikenal sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik, sekaligus menjadi bagian dari daftar Seven Summits, tujuh puncak tertinggi yang menjadi tujuan para pendaki dari berbagai belahan dunia.
Bagi Jeremias, upacara tersebut memiliki makna tersendiri. Ini menjadi kali kedua ia memimpin pengibaran Bendera Merah Putih di kawasan puncak tertinggi Indonesia. Sebelumnya, ia pernah memimpin upacara serupa pada 2013 ketika masih menjabat sebagai Kapolres Mimika.
“Ini sebuah kebanggaan bagi saya pribadi. Selaku Kapolda Papua Tengah, saya kembali memimpin pengibaran bendera di puncak tertinggi ini. Pertama kali saya lakukan pada tahun 2013,” ujar Jeremias di sela kegiatan.
Menurut dia, upacara tersebut bukan sekadar seremoni memperingati kemerdekaan. Momentum itu juga menjadi cara memperkenalkan potensi Puncak Cartensz sebagai salah satu aset wisata alam yang dimiliki Papua Tengah.
“Kesan pribadi tentu sangat mendalam. Sekaligus ini menjadi momen untuk mempromosikan salah satu objek pariwisata unggulan yang kita miliki,” katanya.
Kolaborasi untuk Cartensz
Jeremias menilai pengembangan kawasan Puncak Cartensz tidak bisa dilakukan oleh satu pemerintah daerah saja. Letak kawasan dan keterhubungan wilayah di sekitarnya, menurut dia, membutuhkan kolaborasi lintas pemerintah daerah, masyarakat adat, serta pihak swasta.
Ia mengajak Pemerintah Kabupaten Mimika, Intan Jaya, Puncak, Paniai, Deiyai, serta Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk membangun kerja sama dalam pengelolaan potensi wisata di kawasan pegunungan tersebut.
“Mari kita berkolaborasi dan mengelola kawasan ini secara profesional agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua Tengah,” ujar Jeremias.
Pengelolaan yang terintegrasi, menurut dia, diharapkan tidak hanya menjadikan Cartensz sebagai destinasi bagi pendaki mancanegara, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di wilayah sekitar.
“Harapannya, ini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah, baik bagi provinsi maupun kabupaten-kabupaten yang berada di sekitar kawasan Puncak Cartensz,” katanya.
Alam dan Budaya yang Harus Dijaga
Di tengah dorongan pengembangan pariwisata, Jeremias mengingatkan bahwa kawasan Cartensz memiliki ekosistem yang harus dijaga. Pengembangan wisata, kata dia, tidak boleh mengorbankan keaslian alam, habitat tumbuhan dan satwa, maupun nilai budaya masyarakat adat.
“Mari kita jaga lingkungan, kebersihan, serta habitat asli tumbuhan dan hewan di sini. Keaslian alam inilah yang membuat kawasan ini istimewa,” ujarnya.
Selain keindahan bentang alam dan formasi pegunungan, kawasan Pegunungan Sudirman juga menyimpan kekayaan budaya masyarakat adat. Keberadaan komunitas Amungme, Moni, Dani, dan Damal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kawasan tersebut.
Kapolda Papua Tengah menekankan pentingnya menciptakan situasi keamanan yang kondusif untuk mendukung aktivitas wisata.
“Kita harus memastikan kawasan ini aman, nyaman, dan kondusif untuk dikunjungi. Semua upaya itu harus bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Cartensz dan Harapan Ekonomi Masyarakat Adat
Pada kesempatan yang sama, Maximus Tipagau menyebut Puncak Cartensz memiliki daya tarik yang melampaui batas Indonesia. Sebagai bagian dari Seven Summits, kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu tujuan yang diburu para pendaki dunia.
Kehadiran wisatawan dan pendaki dari berbagai negara, menurut Maximus, seharusnya dapat membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat adat di sekitar kawasan.
“Pengembangan pariwisata bukan hanya bicara tentang keindahan alam. Ada potensi ekonomi bagi masyarakat, daerah, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat adat dapat menjadi bagian utama dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan tersebut, bukan sekadar menjadi penonton di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata.
Kegiatan pengibaran Bendera Merah Putih di Zebra Wall juga menjadi simbol komitmen untuk memperkuat kerja sama antara aparat keamanan, pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah, pihak swasta, dan masyarakat adat.
Pengembangan pariwisata Puncak Cartensz, kata sejumlah pihak yang terlibat dalam kegiatan itu, harus mengedepankan prinsip keselamatan dan kelestarian.
Di ketinggian ribuan meter, di tengah tebing batu dan cuaca pegunungan yang tak mudah diprediksi, Merah Putih yang dikibarkan pada peringatan HUT ke-81 RI membawa pesan lain: bahwa Cartensz bukan hanya tentang menaklukkan puncak, tetapi juga tentang bagaimana menjaga alam, menghormati masyarakat adat, dan mengelola kekayaan Papua agar manfaatnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya.





