Timika, Papuadaily – Meningkatnya kasus bunuh diri pada anak usia 5–10 tahun di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di NTT dan Timika, menjadi perhatian serius. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan tentang faktor pemicu serta peran keluarga dalam mencegahnya.
Psikolog muda di Mimika, Dwi Gilda, menegaskan bahwa pengajaran dan edukasi tentang kesehatan mental sejak dini sangat penting untuk mencegah kasus serupa terjadi.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu.
Pertama, faktor sekolah dan lingkungan sosial. Anak usia sekolah dasar sangat rentan terhadap perundungan (bullying). Orang tua tidak berada di sekolah selama 24 jam, sehingga tidak selalu mengetahui apa yang dialami anak. Bisa saja anak mengalami tekanan, ejekan, atau kekerasan dari teman sebaya namun memilih untuk diam.
Kedua, faktor keluarga. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga dapat berdampak besar pada kondisi psikologis anak. Anak yang sering menyaksikan pertengkaran, kurang mendapat perhatian, atau merasa tidak aman di rumah berpotensi menyimpan beban emosional yang berat.
Ketiga, faktor ekonomi. Tekanan ekonomi dalam keluarga juga dapat memengaruhi suasana rumah dan secara tidak langsung berdampak pada kesehatan mental anak.
Dwi menambahkan, orang tua sebenarnya dapat mengenali tanda-tanda perubahan perilaku pada anak sejak dini.
“Misalnya, anak yang awalnya ceria tiba-tiba menjadi murung, atau anak yang biasanya rajin dan aktif mendadak malas dan menarik diri. Perubahan seperti ini perlu diobservasi,” ujarnya saat wawancara, Minggu (22/2/2026).
Ia menekankan pentingnya kepekaan orang tua terhadap perubahan sikap anak.
“Orang tua perlu bertanya dalam hati, ‘Kenapa anak saya berubah? Apa yang sedang dia alami?’ Jangan langsung menghakimi, tetapi cari tahu penyebabnya,” jelasnya.
Terkait cara menghadapi anak yang sedang mengalami kesulitan, Dwi menyarankan pendekatan emosional sebagai langkah utama.
“Tidak semua anak bisa langsung bercerita. Ada yang membutuhkan rasa aman dan nyaman terlebih dahulu sebelum membuka diri. Kedekatan emosional harus dibangun secara konsisten, bukan hanya sesekali,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi banyak orang tua yang sibuk bekerja, sehingga anak kerap tidak memiliki ruang untuk berbagi cerita sepulang sekolah. Emosi yang dipendam dalam waktu lama dapat menumpuk, sementara anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pemenuhan kebutuhan materi tidak selalu sejalan dengan pemenuhan kebutuhan emosional.
“Anak tidak selalu membutuhkan barang mewah. Mereka membutuhkan kehadiran dan peran orang tua,” ujarnya.
Ia menambahkan, istilah seperti fatherless atau motherless tidak selalu berarti ketiadaan sosok, melainkan minimnya peran dan keterlibatan emosional orang tua dalam kehidupan anak.
Dwi juga mengingatkan agar penggunaan gadget pada anak tetap dalam pengawasan dan batasan yang jelas. Memberikan gawai hanya agar anak tenang bukanlah solusi jangka panjang.
“Orang tua perlu tahu anak mengakses apa, bermain dengan siapa, dan konten apa yang ditonton. Kita memang tidak bisa mengontrol lingkungan luar sepenuhnya, tetapi kita bisa mengontrol pola asuh dan pengawasan di rumah. Kehadiran, perhatian, komunikasi, dan observasi adalah kunci utama,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan emosional, komunikasi terbuka, pengawasan yang bijak, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak harus menjadi prioritas bersama agar kasus serupa dapat dicegah sejak dini.



