banner 728x250
News  

Pasca Blokade Jalan, Pendulang Tradisional di Mimika Bakal Audiensi dengan DPRK

Para pendulang meninggalkan lokasi aksi di kawasan Jalan Ahmad Yani, Mimika, Selasa (24/3/2026) malam. (Foto: Moh)

Timika, Papuadaily – Aksi protes kelompok pendulang tradisional yang sempat melumpuhkan poros Jalan Ahmad Yani dan Jalan Leo Mamiri, Kabupaten Mimika, berakhir kondusif pada Selasa (24/3/2026) malam.

Massa membubarkan diri secara tertib sekitar pukul 19.36 WIT setelah menggelar aksi sejak siang hari.

Untuk diketahui, aksi yang diwarnai pembakaran ban ini dipicu oleh ketidakpastian operasional toko emas. Akibatnya, para pendulang kesulitan menjual hasil dulangan yang menjadi tumpuan ekonomi mereka.

Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, menyatakan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan persuasif untuk meredam tensi di lapangan.

“Intinya mereka menanyakan kepastian kapan toko atau pembeli emas bisa kembali menerima hasil dulang mereka,” ujar Billyandha kepada awak media di lokasi kejadian.

Ia mengakui bahwa persoalan ini memiliki dimensi luas dan merupakan masalah berulang yang tidak hanya terjadi di Timika.

Sebagai solusi, Kapolres menyarankan koordinator massa untuk segera bersurat ke Polres Mimika guna memfasilitasi audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK).

Dalam audiensi mendatang, Polres Mimika berkomitmen menjembatani komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah daerah.

Fokus utamanya adalah mencari wadah resmi bagi para pendulang.

“Kami sarankan bersurat, lalu kami fasilitasi ke pemerintah dan DPRK. Kita cari solusi, apakah nantinya hasil dulang ini diwadahi oleh koperasi atau mekanisme lain agar masyarakat memiliki kepastian hukum dan ekonomi,” jelas Billyandha.

Ia juga menegaskan bahwa kepolisian bukanlah lawan masyarakat, melainkan mitra dalam menjaga ketertiban.

“Jangan sampai berbuat anarkis karena semua bisa didiskusikan untuk mencari win-win solution,” imbuhnya.

Sebelumnya, suasana di pusat Kota Mimika sempat mencekam sejak Selasa siang. Ratusan pendulang berkumpul setelah mendapati toko emas yang biasa menjadi mitra transaksi tutup tanpa kejelasan.

Bagi para pendulang, setiap gram emas adalah penyambung hidup yang didapat dengan bertaruh nyawa di wilayah pedalaman. Kekecewaan inilah yang memicu luapan emosi hingga menutup badan jalan.

Guna mencegah eskalasi, jajaran Polres Mimika dan Polsek Mimika Baru melakukan pengamanan ketat. Sejumlah perwira tampak turun langsung ke lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas di lokasi kejadian telah kembali normal, dan pihak kepolisian masih menunggu surat resmi dari koordinator pendulang untuk menjadwalkan pertemuan dengan pihak legislatif.