banner 728x250

Soal Penerapan BLUD pada Faskes, Bupati Mimika: ini Bicara Pelayanan Prima

Timika, Papuadaily – Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan pentingnya peningkatan pelayanan kesehatan yang merata hingga ke wilayah pesisir dan pedalaman Kabupaten Mimika.

Hal itu disampaikan Bupati Mimika saat membuka workshop penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada fasilitas kesehatan di lingkungan pemerintah kabupaten Mimika, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk berbagi pengalaman dan memperkuat pelayanan kesehatan di daerah, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

“Kegiatan ini sangat baik karena menjadi kesempatan bagi kita untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait pelayanan kesehatan, terutama penerapan BLUD di puskesmas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini Kabupaten Mimika memiliki 24 puskesmas dan 13 di antaranya telah menerapkan sistem BLUD. Menurutnya, sistem tersebut bertujuan meningkatkan pelayanan yang lebih cepat, efektif, dan maksimal kepada masyarakat.

“BLUD ini berbicara tentang pelayanan prima. Intinya bagaimana pelayanan kesehatan bisa semakin dekat dan mudah dijangkau masyarakat,” katanya.

Johannes mengakui, pelayanan kesehatan di Mimika masih menghadapi berbagai kendala, terutama di wilayah pedalaman. Selain faktor keamanan, kondisi geografis dan keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan.

Ia mencontohkan, kekurangan tenaga dokter spesialis maupun dokter gigi masih menjadi persoalan serius, bahkan di rumah sakit besar sekalipun.

“Kita punya fasilitas yang cukup baik, tetapi masih kekurangan tenaga dokter, terutama dokter spesialis dan dokter gigi. Ini menjadi tantangan besar bagi pelayanan kesehatan kita,” ungkapnya.

Menurutnya, Pemkab Mimika terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan mendekatkan fasilitas kesehatan kepada masyarakat. Jika akses menuju puskesmas sulit, maka pemerintah akan berupaya memperbaiki sarana transportasi agar pelayanan tetap bisa dijangkau dengan cepat.

“Kami ingin fasilitas kesehatan lebih dekat dengan masyarakat. Kalau puskesmas jauh, maka akses transportasinya harus diperbaiki supaya masyarakat tidak mengalami kesulitan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti persoalan keterbatasan rumah dinas bagi tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah pedalaman. Kondisi tersebut menyebabkan tenaga medis harus bergantian atau rolling dalam menjalankan tugas.

Karena itu, ia akan menargetkan pembangunan rumah dinas bagi tenaga kesehatan, guru, dan aparat distrik agar mereka dapat tinggal dan bekerja lebih nyaman di lokasi penugasan.

“Kalau tenaga kesehatan tinggal di tempat tugas, maka pelayanan kepada masyarakat juga bisa lebih maksimal,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menghasilkan berbagai masukan dan inovasi baru guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Mimika.

“Pelayanan kesehatan membutuhkan inovasi, kreativitas, dan komitmen bersama agar masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat, merata, dan berkualitas,” tutupnya.