banner 728x250

Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda Anak di Mimika

dr Enny Kenangalem

Timika, Papuadaily – Upaya penanganan stunting di Kabupaten Mimika masih menghadapi tantangan serius, terutama pada anak usia di bawah dua tahun. Hal ini mengemuka setelah pelaksanaan diseminasi hasil studi baseline Program PASTI–Papua yang menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam mengatasi persoalan gizi di wilayah Papua.

Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem, menilai bahwa stunting di Mimika masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya paparan penyakit infeksi, khususnya malaria, yang berdampak langsung pada status gizi anak dan ibu hamil.

Ia menjelaskan bahwa stunting dan infeksi malaria memiliki keterkaitan erat. Infeksi malaria dapat memperburuk kondisi gizi anak, sementara stunting dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi yang berulang.

Data menunjukkan, sebanyak 15,2 persen bayi di Mimika lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yang menjadi faktor awal risiko stunting. Di sisi lain, meskipun sebagian besar ibu hamil telah menerima Tablet Tambah Darah (TTD), lebih dari 60 persen belum mengonsumsinya sesuai standar, sehingga meningkatkan risiko anemia dan komplikasi kehamilan.

Pada anak, infeksi malaria berulang terbukti menurunkan nafsu makan, mengganggu penyerapan nutrisi, serta menyebabkan penurunan berat badan. Kondisi ini berkontribusi pada terjadinya wasting yang kemudian berkembang menjadi stunting. Sebaliknya, anak dengan kondisi gizi buruk juga lebih rentan terhadap infeksi, termasuk malaria, sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus.

Meski layanan kesehatan dasar seperti Posyandu, Pustu, dan Puskesmas telah tersedia, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan utama terletak pada akses dan kualitas layanan, terutama di wilayah terpencil.

Faktor geografis yang sulit, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kapasitas kader di tingkat kampung menjadi hambatan dalam optimalisasi layanan. Selain itu, kondisi sosial ekonomi masyarakat turut memengaruhi pola penyediaan dan konsumsi gizi keluarga.

“Layanan sebenarnya sudah ada, tetapi belum semua masyarakat bisa mengaksesnya secara optimal. Ini yang harus kita perbaiki bersama,” tambah dr Enny Kenangalem (Direktur Amungsa Foundation).

Perlu Integrasi Penanganan Stunting dan Malaria

Ia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting harus dilakukan secara terintegrasi dengan program pengendalian malaria dan penyakit infeksi lainnya. Upaya ini memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat.

Pendekatan terpadu tersebut dinilai penting untuk memutus “lingkaran risiko” antara gizi buruk dan penyakit infeksi yang saling memperparah kondisi anak.

Langkah Nyata untuk Masyarakat

Masyarakat juga didorong untuk mengambil langkah sederhana namun berdampak besar, seperti:

  • Menggunakan kelambu untuk mencegah malaria
  • Jika kena malaria, minum obat secara teratur dan tuntaskan pengobatan tersebut
  • Rutin memeriksakan kehamilan dan mengonsumsi Tablet Tambah Darah
  • Memberikan ASI eksklusif dan makanan bergizi untuk anak
  • Memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga
  • Aktif membawa anak ke Posyandu setiap bulan