Bukan Sekadar Temu Kangen, Alumni Binterbusih Disiapkan Jadi Penggerak Papua

Timika, Papuadaily – Memasuki usia 50 tahun, Yayasan Bina Teruna Indonesia Cenderawasih (Binterbusih) kembali memperkuat komitmennya dalam menyiapkan generasi muda Papua.

Komitmen itu ditegaskan melalui kegiatan Temu Kangen Alumni Binterbusih ke-5 yang digelar di Gedung Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (4/9/2026).

banner 325x300

Ketua Yayasan Binterbusih, Pascalis Abner, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para alumni untuk mempererat hubungan sekaligus membahas peran mereka dalam pembangunan di Tanah Papua.

Temu kangen alumni juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 50 tahun karya Binterbusih. Sebelumnya, rangkaian kegiatan diawali dengan bedah buku Petualangan di Tengah Kota karya Paul Sudiyo di Timika, Kamis (3/9/2026).

Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk merefleksikan perjalanan Binterbusih dalam membina pelajar dan mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Pulau Jawa dan sekitarnya.

Para alumni didorong tidak hanya berkumpul dalam kegiatan seremonial, tetapi juga mengambil peran nyata sebagai mitra pemerintah dan penggerak masyarakat.

“Sekaligus setelah sampai di Papua, bagaimana peran serta para alumni untuk bisa menjadi mitra pemerintah, tapi sekaligus menjadi sarana untuk menggerakkan masyarakat dalam segala aspek yang ada di Kabupaten Mimika secara khusus karena tuan rumah, tapi juga di wilayah Papua Raya, enam provinsi di pulau ini,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah agenda strategis turut dibahas. Salah satunya pembentukan kepengurusan alumni Binterbusih di seluruh Papua Raya, baik di tingkat pusat maupun kewilayahan.

Alumni juga akan membahas pola pertemuan organisasi, penguatan keberlangsungan organisasi serta peluang membangun kemitraan dengan pemerintah daerah.

“Para alumni akan membicarakan terkait dengan kepengurusan alumni di seluruh Papua Raya, baik di tingkat pusat maupun tingkat kewilayahan,” katanya.

Fokus Binterbusih Tetap pada Kaderisasi

Memasuki usia setengah abad, Binterbusih memastikan fokus utamanya tetap pada pembinaan dan pendampingan generasi muda Papua.

Binterbusih tidak memiliki sekolah sendiri. Namun, yayasan menjalankan program pembinaan dan pendampingan bagi pelajar dan mahasiswa Papua sebagai bagian dari proses kaderisasi sumber daya manusia Papua.

“Yayasan Binterbusih sesuai visinya tetap ada di ranah pembinaan dan pendampingan bagi generasi muda Papua yang studi di Pulau Jawa dan sekitarnya,” ujarnya.

Pembinaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Para mahasiswa dipersiapkan agar memiliki bekal intelektual dan kepribadian ketika kembali serta mengambil peran di daerah.

“Penyiapan kaderisasi untuk Papua di masa depan, menyiapkan para mahasiswa untuk memiliki intelektual yang baik dan karakteristik yang memang betul-betul dibutuhkan di daerah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan yang ada,” katanya.

Menurutnya, tantangan generasi muda Papua ke depan semakin berat. Karena itu, Binterbusih perlu terus berbenah, melakukan inovasi dan memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah.

“Karena tantangan ke depan semakin sulit, maka itu kita juga harus terus berbenah diri, melakukan inovasi dan kreativitas, dan bermitra dengan pemerintah daerah, karena Binterbusih tidak bisa sendiri,” ujarnya.

Saat ini, Binterbusih telah membangun kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah, di antaranya Pemerintah Kabupaten Puncak, Pegunungan Bintang, Merauke dan Pemerintah Provinsi Papua Selatan.

Ke depan, Binterbusih berharap semakin banyak pemerintah daerah di Tanah Papua yang membangun kerja sama dalam bidang pembinaan dan pengembangan generasi muda.

Hampir 1.000 Pelajar dan Mahasiswa Dibina

Selama perjalanan panjangnya, Binterbusih telah membina hampir 1.000 pelajar dan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Mereka berasal dari tingkat SMP dan SMA hingga mahasiswa S1, S2 dan S3, termasuk dari Kabupaten Puncak, Pegunungan Bintang, JPMK di Timika serta sejumlah wilayah kampung di Mimika.

“Pelajar dan mahasiswa, SMP, SMA, mahasiswa S1, S2 dan S3,” katanya.

Program pembinaan dilakukan secara bertahap. Mahasiswa mendapatkan pelatihan pembinaan tingkat dasar pada semester tiga dan pembinaan tingkat lanjut pada semester lima.

Ia juga memberikan pelatihan kewirausahaan untuk membangun kemandirian mahasiswa, serta pembekalan memasuki dunia kerja bagi mereka yang akan menyelesaikan pendidikan.

“Training kewirausahaan untuk membangun jiwa wirausaha mandiri para mahasiswa. Lalu persiapan dunia kerja bagi mereka yang sudah akan lulus, mau wisuda, supaya nanti ketika menghadapi dunia kerja tidak merasa kesulitan, mereka lebih siap untuk menghadapi dunia kerja,” jelasnya.

Perjalanan tersebut telah melahirkan sejumlah alumni yang kini mengambil peran penting di Papua. Salah satunya Sekda Mimika yang disebut merupakan penerima beasiswa JPMK angkatan pertama.

Selain itu, terdapat pula dokter pertama dari kalangan Kamoro yang kini menjabat sebagai rektor.

“Dari ribuan itu yang bisa kelihatan ya, salah satunya Pak Sekda angkatan pertama. Pak Sekda ini, angkatan pertama beasiswa itu juga melalui kami,” ungkapnya.

Baginya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan ilmu, karakter dan pengalaman yang diperoleh dapat kembali digunakan untuk membangun Papua.

Melalui Temu Kangen Alumni Binterbusih ke-5 dan peringatan 50 tahun karya, Binterbusih menegaskan kembali arah perjuangannya: menyiapkan anak-anak Papua agar tidak hanya menjadi lulusan, tetapi juga menjadi kader yang mampu mengambil bagian dalam menjawab kebutuhan daerah dan masyarakat.

Penulis: CrystalEditor: Sevianto