banner 728x250
News  

Pendakian Cartensz 2025 resmi ditutup dengan sukses: SDM lokal kelas dunia

Betho dan Simon bersama seorang pendaki warga negara asing (WNA) berhasil mencapai puncak tertinggi di Indonesia, Piramida Cartensz yang berada di ketinggian 4.884 MDPL. (Foto: Istimewa)

TIMIKA, Papuadaily – Seluruh aktivitas pendakian menuju Puncak Cartensz sepanjang tahun 2025 resmi ditutup pada Senin, 17 November 2025.

Penutupan ini menandai berakhirnya musim pendakian yang dibuka sejak Februari lalu dan berlangsung lancar di bawah pengelolaan PT. Tropis Cartensz Jaya, operator pendakian lokal asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Kesuksesan ekspedisi tahun ini tak lepas dari kolaborasi erat berbagai pihak, mulai dari aparat keamanan, operator penerbangan, hingga peran penting sumber daya manusia (SDM) lokal, terutama anak-anak Orang Asli Papua (OAP) dari suku Amungme. Keterlibatan mereka menjadi tonggak kemajuan dalam upaya pemberdayaan masyarakat di tanah mereka sendiri.

Pendiri sekaligus pemilik PT. Tropis Cartensz Jaya, Irfan Irianto, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kelancaran ekspedisi selama 2025.

Sebagai operator lokal, Irfan menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang seluas-luasnya bagi anak-anak asli daerah agar menjadi pelaku utama dalam pengelolaan potensi wisata alam Mimika.

“Sebenarnya mereka (anak-anak OAP) itu bisa, jadi saya bikin pepatah itu; jangan jadi penonton di rumah sendiri… jangan minder dengan orang yang datang dari luar, kita juga bisa,” tegas Irfan, Senin malam (17/11/2025).

Hingga kini, sedikitnya 20 SDM lokal telah dibina untuk berbagai peran profesional, seperti pemandu pendakian, pengelola basecamp, hingga manajemen operasional.

Irfan menyebut bahwa beberapa SDM lokal sudah mampu diberi tanggung jawab mandiri, sementara lainnya masih dalam tahap pendampingan.

“Mungkin Februari Maret 2025 lalu hanya ada beberapa, tapi sekarang… sudah ada beberapa teman yang sudah menguasai basecamp dan mungkin ke depan kami sudah bisa kasih tanggung jawab dia apa,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada Oktober 2025, sudah ada dua orang yang berhasil mencapai puncak dengan membawa bendera operator pendakian lokal kolaboratif.

“Jadi nanti ke depan Tropic dengan Nemangkawi kolaborasi sama-sama untuk tetap kita jalan sebagaimana mestinya,” tambahnya.

Untuk meningkatkan kualitas SDM lokal, Irfan juga berencana mengirim beberapa di antara mereka mengikuti kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris.

Kisah guide lokal taklukkan Puncak Cartensz

Dua pemuda Amungme, Norbertus Beanal (Betho) dan Simon Beanal, menjadi bukti nyata bahwa SDM lokal mampu bersaing dan berprestasi.

Mereka berhasil mengantar lima pendaki mancanegara mencapai puncak gunung tertinggi Indonesia setinggi 4.884 MDPL.

Menurut Betho, pendakian Cartensz menuntut kemampuan memanjat, teknik tali-temali, ketahanan fisik, serta mental yang kuat.

Betho pun bukan orang baru di dunia alam terbuka. Semasa kuliah, ia aktif sebagai anggota Mapala Universitas Sam Ratulangi Manado, hingga menulis skripsi terkait pengembangan potensi wisata.

Setelah kembali ke Timika, ia bertemu dengan Irfan dan bergabung dengan PT. Tropis Cartensz Jaya untuk belajar manajemen pendakian.

“Kebetulan saya bertemu Bang Irfan… akhirnya kami bergabung,” ujar Betho.

“Jadi kemarin tanggal 15 November saya dengan Simon Beanal berhasil summit di ketinggian 4.884 MDPL,” lanjutnya.

Simon menambahkan bahwa perjalanan menuju puncak bukanlah perkara mudah.

“Kemarin waktu summit itu memang susah sekali tapi puji Tuhan kami bisa sampai di puncak,” tuturnya.

Lahirnya Operator Pendakian Milik SDM Lokal

Keterlibatan Betho, Simon, dan rekan-rekan lainnya di bawah bimbingan PT. Tropis Cartensz Jaya akhirnya melahirkan operator pendakian baru bernama Treking Beanal Nemangkawi Ningok, yang kini berkolaborasi mengelola pendakian Puncak Cartensz.

Billy Beanal, yang bertugas mengoordinir transportasi pendaki dari Timika ke Basecamp Yellow Valley, memberikan apresiasi penuh kepada PT. Tropis Cartensz Jaya atas upaya mereka mendorong keterlibatan masyarakat lokal.

“Terbukti dari kerja keras, komunikasi dan sebagainya yang selalu berjalan dengan lancar,” kata Billy.

Ia berharap kolaborasi antara operator lokal tersebut terus berlanjut dan saling menguatkan.

“Bagaimana dua bendera ini ke depan tetap saling membangun dan tetap jalan,” ujarnya.

Jalur Pendakian Baru dari Tsinga

Menjelang akhir ekspedisi 2025, muncul rencana pembukaan jalur pendakian baru menuju Puncak Cartensz melalui sisi selatan Kampung Tsinga, Distrik Tembagapura.

Jalur ini diharapkan menjadi rute trekking yang memungkinkan pendaki beraklimatisasi lebih baik, berbeda dari jalur saat ini yang seluruhnya mengandalkan penerbangan helikopter.

Irfan menyebut bahwa tahap awal telah dilakukan dengan pemasangan tali sebagai penanda jalur.

“Saat ini kita sudah buang tali yang untuk lewat jalur Tsinga,” ujarnya.

Betho dan Simon pun menunjukkan komitmen penuh terhadap pembukaan jalur baru tersebut.

“Kemarin tanggal 15 itu kita sudah lepas tali,” kata Betho.

“Jadi kita sudah kasih turun tali nanti tahun berikut baru kita naik buka jalur,” tambah Simon.

Billy menegaskan pentingnya memberi masyarakat setempat kendali penuh atas pembukaan dan pengelolaan jalur ini.

“Coba kita percayakan anak-anak lokal ini… mereka amankan dan buka jalur dulu baru setelah itu mau dari operator mana… bisa masuk,” tutupnya.