banner 728x250
News  

Momen para tahanan dihadirkan di prosesi perdamaian hingga Polisi buru provokator

Papuadaily/Crystal

Timika, Papuadaily – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika menghadiri prosesi perdamaian antara dua kubu yang berlangsung di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Senin (12/01/2026).

Prosesi ini dihadiri oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, Wakil Bupati, Emanuel Kemong, Wakil Bupati Puncak, Naftali Awakal, Pejabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, unsur pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta tokoh agama dan masyarakat.

Pantauan lapangan Papuadaily, dalam proses perdamaian sempat diwarnai negosiasi yang sedikit alot dari Kelompok Dang. Mereka menuntut agar para tahanan konflik dibebaskan.

Setelah drama negosiasi yang cukup lama, ritual adat perdamaian akhirnya dilaksanakan.

Ritual adat ini ditandai dengan panah babi dari masing-masing kelompok. Setelah dipastikan mati, kedua belah pihak saling bertukar babi.

Dilanjutkan dengan prosesi patah panah yang dipimpin langsung Bupati Mimika, Johannes Rettob menandai berakhirnya konflik.

Di waktu yang sama, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman dan Dandim 1710/Mimika Letkol Inf. Redi Dwi Yudha Kurniawan keduanya melepaskan tembakan ke udara yang memadai perdamaian kedua kubu.

Usai prosesi, Bupati Mimika, Johannes Rettob menyampaikan dengan tegas bahwa perdamaian ini diharapkan mengakhiri semua konflik adat di tanah Papua.

“Saya kira ini menjadi contoh bagi kita semua untuk hidup damai, dan hidup lebih baik menjadi satu keluarga,” tegasnya.

Tak hanya ditandai ritual adat, perdamaian juga dibuktikan dengan penandatanganan surat pernyataan damai sebagai komitmen untuk mengakhiri konflik dan bersepakat untuk tidak mengulangi konflik.

Johannes menjelaskan Pemkab Mimika dan Pemkab Puncak telah berusaha kurang lebih empat bulan dalam proses ini.

“Kita  lakukan dari awal, mulai dari adanya korban satu sama sampai 11 korban untuk menyepakati perdamaian ini,” ucapnya.

“Tidak ada perang suku dan selesaikan dengan damai, dengan hari yang tulus dan ketika ada persoalan keluarga selesaikan secara keluargaan,” ujarnya menambahkan.

Prosesi patah panah dan tukar babi dari kedua kubu menjadi simbol berakhirnya konflik, yang digelar di wilayah antara Kelompok Dang dan Kelompok Newegalen.

Di saat momentum perdamaian berakhir, para tahanan yang dihadirkan untuk mengikuti prosesi perdamaian digiring kembali ke mobil polisi.

Saat itu, mama-mama dari kelompok Dang tidak menerima dan melayangkan protes. Mereka meminta para tahanan tidak di kembalikan Polres Mimika.

Di saat yang sama, Pj Sekda Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, menyampaikan komitmen untuk membantu proses hukum yang dijalani para tahanan.

Namun, warga yang melakukan protes tidak mengindahkan imbauan tersebut. Kericuhan pun pecah saat sejumlah oknum yang diduga sebagai provokator  melakukan aksi pelemparan batu ke arah pejabat di tenda VIP.

Suasana berubah mencekam, para pejabat kemudian diamankan oleh aparat keamanan  hingga meninggalkan lokasi.

Sementara itu, aparat keamanan gabungan mengejar para provokator serta melakukan pengamanan di lokasi guna mencegah terjadinya aksi susulan.