Timika, Papuadaily – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Mozes Kilangin Mimika bersama Stasiun Meteorologi Nabire mengeluarkan serangkaian peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Rabu (10/6/2026).
BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang di sejumlah distrik. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, gangguan cuaca mulai terdeteksi sejak dini hari sekitar pukul 01.05 WIT. Lima belas menit kemudian, hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah pegunungan dan kawasan pertambangan, meliputi Distrik Tembagapura, Iwaka, Jila, Alama, dan Hoya.
Fenomena cuaca tersebut kemudian meluas ke kawasan perkotaan dan pesisir, mencakup Distrik Mimika Baru, Kwamki Narama, Wania, Kuala Kencana, Mimika Tengah, Mimika Barat hingga Amar. Intensitas hujan dilaporkan mulai berkurang sekitar pukul 04.30 WIT.
Namun, kondisi atmosfer kembali menunjukkan peningkatan aktivitas pada siang hingga sore hari. Citra satelit cuaca BMKG mendeteksi pertumbuhan awan konvektif signifikan yang berpotensi menghasilkan hujan lebat disertai angin kencang.
Menindaklanjuti perkembangan tersebut, BMKG menerbitkan peringatan dini lanjutan pada pukul 14.40 WIT yang difokuskan untuk wilayah Distrik Kuala Kencana dan sekitarnya, dengan potensi perluasan dampak ke Distrik Mimika Barat dan Amar.
Hingga sore hari, kondisi cuaca ekstrem masih berlangsung. Dalam pembaruan informasi pukul 15.40 WIT, BMKG menegaskan hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang diprakirakan masih akan terjadi setidaknya hingga pukul 16.50 WIT.
Ancaman cuaca ekstrem tersebut diperkuat oleh data Peta Kerentanan InaRisk milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berdasarkan pemetaan tersebut, Kabupaten Mimika berada dalam kategori wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir dan tanah longsor, dengan indeks bahaya mencapai 0,6 hingga 1,0.
Wilayah yang masuk kategori rawan banjir meliputi Distrik Mimika Timur Jauh, Agimuga, Jita, Wania, Mimika Baru, serta sebagian kawasan Mimika Barat Tengah dan Mimika Barat Jauh. Sementara itu, potensi tanah longsor mengancam kawasan pegunungan dan lereng curam seperti Distrik Tembagapura, Hoya, Jila, Alama, serta wilayah utara Kuala Kencana.
BMKG mencatat suhu udara di wilayah dataran rendah Mimika berkisar antara 23 hingga 31 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara mencapai 97 persen. Adapun wilayah pegunungan Tembagapura mengalami suhu yang lebih rendah, berkisar 10 hingga 18 derajat Celsius.
Kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh pergerakan angin dominan dari arah Tenggara menuju Barat Laut dengan kecepatan antara 5 hingga 20 kilometer per jam.
Sementara itu, aktivitas pelayaran di Pelabuhan Amamapare dan Pelabuhan Pomako hingga Rabu sore dilaporkan masih berada dalam kondisi aman. BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut pada periode 11–12 Juni 2026 berada pada kategori rendah, yakni antara 0,5 hingga 1,25 meter.
Meski demikian, nelayan dan operator kapal tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, termasuk peningkatan kecepatan angin hingga 14 knot yang kerap muncul pada malam hari bersamaan dengan hujan lokal.
BMKG mengimbau masyarakat yang bermukim di kawasan lereng perbukitan, daerah rawan longsor, maupun bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Warga juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG guna memperoleh informasi terkini dan menghindari penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.







