banner 728x250

Progres Pembangunan Rumah Toraja di Mimika Capai 60-65 Persen

Ketua IKT Mimika Yusuf Rombe bersama istri Erda Rombe foto bersama saat meninjau proses pembangunan Tongkonan, Sabtu (16/5/2026). Papuadaily/Sevianto)

Timika, Papuadaily – Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Mimika sedang membangun rumah adat Toraja atau Tongkonan di kawasan Jalan Samratulangi, Timika, Papua Tengah. Bangunan berciri khas arsitektur dan ukiran Toraja itu berdiri di sisi selatan gedung serbaguna milik IKT Mimika yang selama ini menjadi pusat kegiatan masyarakat Toraja di daerah tersebut.

Pembangunan Tongkonan ini menjadi simbol penguatan identitas budaya sekaligus kebersamaan warga Toraja di Kabupaten Mimika. Dalam tradisi masyarakat Toraja, Tongkonan bukan hanya sebagai rumah adat, tetapi juga melambangkan persatuan dan kekeluargaan dengan kepemilikan komunal dalam kehidupan masyarakat adat.

Selama ini, gedung serbaguna IKT Mimika juga kerap disebut Tongkonan karena menjadi satu-satunya tempat berkumpul masyarakat Toraja dalam berbagai momentum kebersamaan. Namun, dengan pembangunan rumah adat permanen tersebut, masyarakat Toraja di Mimika nantinya akan memiliki Tongkonan yang sesungguhnya.

Ketua IKT Mimika, Yusuf Rombe Pasarrin, mengatakan progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 60 hingga 65 persen.

“Kalau pengadaan kayu saja sudah lengkap itu sebenarnya sudah 50 persen. Apalagi sekarang pembangunan rangka dasar sudah selesai. Hitungan saya sudah mencapai 60-65 persen,” kata Rombe.

Pada Sabtu (16/5/2026), Ketua IKT Mimika bersama istri Ny. Erda Rombe berkesempatan meninjau langsung proses pembangunan Tongkonan dengan membawa snack dan kopi untuk para pekerja.

Menurut dia, tahapan pekerjaan yang diperkirakan memerlukan waktu paling lama adalah proses pengukiran atau massura’, yang menjadi ciri khas utama rumah adat Toraja.

“Yang nanti agak lama dikerjakan itu mengukir (massura’). Mungkin itu yang paling lama dari semua bagian pekerjaan. Setelah itu tinggal pekerjaan finishing,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pembangunan berjalan relatif cepat karena didukung peralatan modern seperti senso dan excavator, serta tingginya partisipasi masyarakat Toraja yang terlibat secara sukarela melalui kerja gotong royong.

“Kita bersyukur karena antusias masyarakat Toraja memberikan bantuan secara sukarela sangat tinggi. Seperti contoh pemasangan scaffolding (ma’bongloi’) ini bisa lebih cepat karena cukup banyak warga Toraja yang datang membantu secara sukarela,” katanya.

Pembangunan fisik Tongkonan ditargetkan dapat rampung dalam dua bulan ke depan apabila proses pengerjaan berjalan lancar dan rutin.

“Apalagi tukang tinggal di area Tongkonan jadi akses mereka jauh lebih mudah ke pekerjaan mereka,” ujar Rombe.

Selain membangun rumah adat utama, panitia juga merencanakan pembangunan alang atau lumbung khas Toraja yang umumnya berdiri berpasangan dengan Tongkonan.

“Biasanya memang yang dikerja lebih dulu itu rumah, setelah itu baru alang (lumbung),” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan, Marthen Mallisa, juga memastikan progres pembangunan saat ini telah berada pada tahap yang sama, yakni sekitar 60-65 persen.

“Target penyelesaian kurang lebih tiga minggu ke depan. Setelah itu masuk proses pengukiran, kurang lebih tiga minggu juga sudah jadi,” ujar Marthen.

Dalam tahap awal, panitia merencanakan pembangunan satu unit Tongkonan dan satu unit alang. Ke depan, tambahan alang akan dibangun secara bertahap melalui dukungan para donatur.

“Semua untuk dan atas nama masyarakat Toraja, bukan pribadi,” katanya.

Marthen menjelaskan sumber pendanaan pembangunan berasal dari partisipasi masyarakat Toraja di Mimika atau Sangtorayan, dukungan para donatur, anggota DPRD asal Toraja, hingga dana kas IKT Mimika.

“Sejauh ini pengurus IKT telah menyerahkan sekitar Rp280 juta kepada panitia pembangunan. Kemudian dana yang terkumpul melalui koordinator wilayah IKT itu kurang lebih Rp180 juta,” ungkapnya.