News  

Dipicu Harga Emas dan Tarif Penerbangan, Inflasi Timika Tertinggi di Papua Tengah

Kantor BPS Kabupaten Mimika. (Foto: Moh)

Timika, Papuadaily – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika mencatat laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Timika mencapai 3,28 persen pada Juli 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,36. Angka tersebut menjadikan Timika sebagai daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Provinsi Papua Tengah.

Kepala BPS Kabupaten Mimika, Dian Sudarmanto KS, mengatakan lonjakan inflasi terutama dipicu kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya emas perhiasan, serta meningkatnya biaya transportasi.

“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan harga tertinggi, yakni 20,78 persen secara tahunan, dengan andil inflasi sebesar 1,48 persen,” ujar Dian di Timika, Selasa (4/8/2026).

Menurut dia, kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 1,40 persen, seiring tren penguatan harga emas yang masih berlangsung.

Selain itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 10,63 persen secara tahunan dengan kontribusi 0,93 persen terhadap inflasi keseluruhan. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi faktor dominan dengan andil 0,58 persen, disusul naiknya harga bensin sebesar 0,19 persen, serta peningkatan harga kendaraan roda empat dan pelumas mesin.

Tekanan inflasi juga merambah sektor kebutuhan pokok. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,25 persen dengan sumbangan 0,55 persen terhadap IHK.

Sejumlah komoditas pangan yang mendorong kenaikan harga antara lain ikan kembung dengan andil 0,23 persen, ikan mumar 0,15 persen, udang basah 0,14 persen, beras 0,14 persen, serta minyak goreng 0,10 persen.

Di sektor perumahan, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga turut memberikan andil inflasi sebesar 0,30 persen.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi Timika pada Juli 2026 tercatat 0,26 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 3,18 persen.

Deflasi Komoditas Pangan Menahan Laju Inflasi

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, BPS mencatat penurunan harga pada beberapa bahan pangan mampu meredam laju inflasi yang lebih tinggi.

Komoditas dengan kontribusi deflasi terbesar adalah daging babi, yang memberikan andil -0,80 persen. Penurunan harga juga terjadi pada tomat (-0,22 persen), cabai rawit (-0,15 persen), serta daging ayam ras (-0,10 persen).

Di luar sektor pangan, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 1,79 persen secara tahunan akibat turunnya harga pakaian dan sepatu anak.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga mencatat deflasi 1,29 persen, dipengaruhi penurunan harga produk pembersih seperti deterjen dan sabun cair.

Tantangan Logistik Masih Membayangi

Inflasi sebesar 3,28 persen pada Juli 2026 melanjutkan tren kenaikan dalam tiga tahun terakhir. Pada periode yang sama, inflasi Timika tercatat 3,05 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 3,16 persen pada 2025.

Di tingkat Provinsi Papua Tengah, Timika menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, sedangkan Kabupaten Nabire mencatat inflasi terendah sebesar 1,79 persen.

Tingginya ketergantungan Mimika terhadap pasokan barang dari luar daerah, ditambah fluktuasi biaya transportasi udara dan distribusi logistik, masih menjadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga di wilayah tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa selain dipengaruhi pergerakan harga komoditas global seperti emas, dinamika inflasi di Mimika juga sangat dipengaruhi faktor struktural, terutama biaya distribusi dan rantai pasok barang ke Papua Tengah.