News  

IDI Mimika: Air Quality Index Capai 108 Alarm bagi Kesehatan Publik

dr. Enny Kenangalem, M.Biomed

Timika, Papuadaily – Kualitas udara di Timika menjadi perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika setelah indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tercatat mencapai 108.

Ketua IDI Mimika, dr. Enny Kenangalem, mengatakan angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi menjadi alarm bagi kesehatan publik, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.

banner 325x300

“Angka 108 ini bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm bagi kesehatan publik,” ujar Enny melalui pesan WhatsApp, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, pada kondisi tersebut dampak kesehatan dapat lebih mudah dirasakan oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti asma dan penyakit jantung.

Paparan udara dengan AQI di atas 100 dalam waktu lama, lanjutnya, juga dapat memengaruhi individu yang sebelumnya dalam kondisi sehat. Keluhan yang dapat muncul antara lain kesulitan bernapas serta iritasi pada tenggorokan, mata dan hidung.

Dalam kondisi tertentu, paparan polutan juga dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat.

Bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, Enny menyarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95.

Masyarakat yang berada di dalam ruangan juga disarankan menutup jendela dan pintu untuk mengurangi masuknya polutan. Jika tersedia, penggunaan air purifier dapat membantu mengurangi paparan polutan di dalam ruangan.

Ia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang muncul selama kondisi kualitas udara buruk.

“Jika Anda atau keluarga mengalami sesak napas, batuk terus-menerus, atau nyeri dada, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat. Jangan tunda,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga kecukupan cairan dengan memperbanyak minum air putih.

ISPA Masih Tinggi

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, mengatakan ISPA merupakan salah satu penyakit yang masih banyak ditemukan di Kabupaten Mimika.

Ia menyebut, pada periode yang sama tahun 2025 tercatat sebanyak 61.758 kasus ISPA.

“Dari tahun ke tahun memang masih tinggi ISPA-nya. Waktu kemarin kemarau kan banyak debu. Untuk pernapasan begini, misalnya ada riwayat asma, kalau dengan asap begini biasanya keluhannya akan lebih berat, sampai bisa sesak,” ujar Kamaludin saat diwawancarai, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kondisi udara yang dipenuhi asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit seperti asma.

Kamaludin mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan penting ketika kondisi udara dipenuhi asap.

“Kalau lagi kemarau begini, banyak debu, kemudian kebetulan sekarang ada asap, masker juga digunakan untuk proteksi. Sama kalau ada keluhan, bisa ke fasilitas kesehatan untuk bisa mendapatkan pertolongan,” katanya.

Di sisi lain, Enny meminta pemerintah daerah dan pemangku kebijakan di Papua Tengah tidak hanya menangani dampak kesehatan, tetapi juga segera menelusuri sumber polusi udara yang terjadi di Mimika.

Ia mengatakan sumber polusi perlu dipastikan, apakah berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, aktivitas industri, atau faktor lainnya.

“Penanganan sumber masalah harus menjadi prioritas utama, bukan hanya penanganan dampaknya,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi kualitas udara yang dikutip dari laman AccuWeather, AQI Timika tercatat berada pada angka 108. Dalam skala AQI yang digunakan secara umum oleh AirNow/EPA, angka 101–150 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sementara masyarakat umum relatif lebih kecil kemungkinannya terdampak dibanding kelompok rentan.

Enny mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mengambil langkah perlindungan selama kualitas udara berada pada kondisi tersebut.

“Kesehatan adalah hak asasi manusia. Udara yang bersih adalah fondasi dari kesehatan masyarakat. Mari kita bersama-sama waspada dan melindungi diri serta keluarga kita,” pungkasnya.