Timika, Papuadaily – Ajang Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 2026 di Kuala Kencana Fireground, Mimika, menampilkan berbagai inovasi keselamatan kerja tambang.
Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah booth Terowongan Ali Budiardjo yang memamerkan teknologi mitigasi risiko bawah tanah, Selasa (27/10/2026).
Terowongan Ali Budiardjo, juga dikenal sebagai AB Tunnel, adalah jalur akses utama menuju kawasan tambang bawah tanah milik PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Booth Officer Terowongan Ali Budiardjo, Christian Sitepu, menjelaskan bahwa pameran tersebut fokus menunjukkan sistem penanganan kedaruratan di area tambang bawah tanah yang memiliki risiko tinggi.
“Booth kita hari ini menunjukkan apa saja teknologi, inovasi, dan penanganan kedaruratan di tambang bawah tanah,” ujar Christian di Kuala Kencana Fireground, Selasa (27/10/2026).
Christian memaparkan, salah satu risiko terbesar dalam operasional tambang bawah tanah adalah wet muck atau material lumpur basah.
Untuk mencegah paparan langsung terhadap pekerja saat penarikan bijih (ore), perusahaan menerapkan sistem kendali jarak jauh bernama mine game.
Selain itu, aspek pelacakan posisi pekerja kini semakin akurat menggunakan High Precision Tracking Unit (HPT).
Teknologi ini menggantikan sistem lama (Mindset Technology / MST) sebagai bagian dari langkah korektif pasca-insiden yang terjadi pada September lalu.
“Orang di mana pun posisinya, itu akan terdeteksi secara akurat dan real-time, tidak ada delay,” kata Christian.
Untuk sistem peringatan darurat, pihak pengelola mengandalkan kombinasi radio, perangkat Firefly, dan Stens Gas guna memastikan informasi darurat tersampaikan dengan cepat kepada seluruh karyawan.
Dalam hal evakuasi mandiri, booth tersebut juga memperkenalkan Self-Rescue Lifedevice (SRLD) atau sabuk penyelamat seberat hampir tiga kilogram yang diikat di pinggang.
Alat ini memungkinkan pekerja bernapas dengan sistem tertutup (closed system) agar aman dari gas beracun saat menuju refuge chamber (ruang perlindungan).
Jika kondisi darurat menuntut evakuasi lanjutan, tim penyelamat dilengkapi dengan alat pernapasan BG4 yang mampu bertahan hingga empat jam, serta perangkat pencari korban dalam timbunan.
Dari berbagai inovasi yang ditampilkan, Christian menyebutkan bahwa perangkat SRLD dan refuge chamber menjadi miniatur yang paling banyak menarik perhatian pengunjung karena jarang ditemui di area permukaan (lowland).
“Harapannya alat-alat ini dapat membantu penyelamatan, tetapi kita tetap berharap tidak ada kondisi emergensi yang terjadi di underground,” pungkasnya.








