News  

Freeport Tuan Rumah IFRC 2026, Wiyono: Bukan Sekadar Berebut Trofi

Timika, Papuadaily – PT Freeport Indonesia menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah 8th Indonesia Fire & Rescue Challenge (IFRC) 2026 di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan tim penyelamat, tetapi juga sarana mengevaluasi kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya.

Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia, Carl Tauran, mengatakan pihaknya bangga kembali dipercaya menjadi tuan rumah setelah sekitar 21 tahun sejak terakhir kali menyelenggarakan kegiatan serupa.

“Setelah 21 tahun, akhirnya kita dipercaya lagi untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan IFRC ke-8 tahun 2026,” ujarnya saat konferensi pers pada Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, IFRC menjadi wadah bagi perusahaan pertambangan dan energi untuk berbagi praktik terbaik dalam penanganan keadaan darurat.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan tim tanggap darurat dalam mendukung keselamatan operasional perusahaan,” pungkasnya.

Ia menegaskan, keselamatan atau safety merupakan prioritas utama PT Freeport Indonesia. Salah satu faktor penting untuk memastikan operasional berjalan aman adalah kesiapan tim tanggap darurat dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko.

Sementara itu, Koordinator Juri yang mewakili Pertapindo, Wiyono Winarno, menegaskan bahwa kompetisi penyelamatan tidak semata-mata bertujuan memperebutkan trofi, melainkan mengukur dan meningkatkan kemampuan peserta dalam menghadapi keadaan darurat.

“Kompetisi di bidang rescue itu tidak bisa 100 persen dilakukan sebagai kompetisi. Sebab, ujian sesungguhnya ada di lapangan,” ujarnya.

Menurut Wiyono, keberhasilan tim penyelamat tidak cukup dinilai dari kemenangan dalam perlombaan. Kemampuan tersebut harus tercermin dalam efektivitas penanganan keadaan darurat, efisiensi waktu, dan keselamatan korban.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan IFRC 2026 menggunakan standar pengukuran internasional. Hal ini diharapkan membuat kemampuan tim yang meraih prestasi dapat diukur dengan standar yang sama ketika mengikuti kompetisi di tingkat internasional.

“Kalau kita bisa menyelamatkan korban, berarti kita bisa menyelamatkan masa depan sebuah keluarga,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan risiko, teknologi, dan metode penanganan darurat menuntut setiap tim penyelamat untuk terus memperbarui kompetensi. Karena itu, IFRC menjadi salah satu sarana evaluasi sekaligus pembelajaran bagi personel firefighter dan rescue.

“Penyelenggaraan ini direncanakan melibatkan juri internasional dari berbagai latar belakang dan wilayah dunia. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya perspektif peserta mengenai protokol, teknik, dan pendekatan penyelamatan yang berkembang secara global,” tutupnya.

Melalui IFRC 2026, peningkatan kompetensi tim penyelamat diharapkan tidak berhenti pada arena kompetisi, tetapi juga diterapkan dalam penanganan keadaan darurat yang sesungguhnya demi meningkatkan keselamatan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.