Timika, Papuadaily – Biasanya, selada dan pakcoy di kebun hidroponik dapat dipanen dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun, kondisi itu kini berubah.
Cuaca panas, berkurangnya debit air, serta kabut asap yang menyelimuti wilayah Mimika membuat sayuran tumbuh lebih lambat dan waktu panen semakin panjang.
Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Agil, penanggung jawab Harif Hidroponik di SP4 Jalur 3, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Saat ditemui wartawan Papuadaily pada Jumat (16/10/2026), Agil menceritakan bagaimana kondisi cuaca dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan tersendiri bagi usaha hidroponik yang dikelolanya.
Dampak El Niño yang dirasakan selama sekitar dua bulan terakhir semakin diperberat oleh kabut asap kiriman yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Merauke. Berkurangnya paparan sinar matahari juga menjadi salah satu kendala yang dirasakan dalam proses pertumbuhan sayuran.
“Dua bulan ini sangat terdampak. Selada dan pakcoy yang biasanya hanya 20 sampai 30 hari sudah bisa dipanen, sekarang bisa lebih dari satu bulan,” ujarnya.
Bagi pengelola hidroponik, waktu panen yang semakin panjang bukan sekadar persoalan menunggu tanaman membesar. Kondisi tersebut juga memengaruhi ukuran dan bobot sayuran yang dihasilkan.
Agil menjelaskan, tanaman yang biasanya tumbuh lebih besar kini cenderung berukuran kecil dan kurus. Sayuran membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai ukuran yang layak dipanen, sementara minimnya sinar matahari menjadi salah satu kendala yang mereka rasakan.
“Sekarang bisa lebih dari satu bulan dan tidak menentu. Apalagi ditambah kabut asap, tanaman menjadi kecil dan kurus,” ungkapnya.
Debit Air Menurun
Tantangan yang dihadapi Harif Hidroponik tidak berhenti pada pertumbuhan tanaman. Di tengah musim kemarau, ketersediaan air untuk kebutuhan budidaya juga mulai terganggu.
Agil mengatakan, sumber air yang sebelumnya mengalir lancar kini mengalami penurunan debit. Akibatnya, proses pengisian penampungan air membutuhkan waktu lebih lama, terutama untuk menjangkau bagian kebun yang berada jauh dari sumber air.
Untuk mengatasinya, ia menggunakan pompa tambahan agar aliran air lebih cepat dan kebutuhan kebun tetap terpenuhi.
Perubahan kondisi air juga membuat pekerjaan sehari-hari menjadi lebih intensif. Jika sebelumnya pemeriksaan cukup dilakukan pada pagi atau sore hari, kini pemantauan ditingkatkan menjadi tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan kadar nutrisi tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kondisi air, termasuk tingkat keasaman atau pH, juga menjadi perhatian agar perubahan yang terjadi dapat diketahui lebih awal.
Pemberian pupuk tetap dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Namun, pengelola kini harus lebih sering memeriksa kondisi air dan pertumbuhan sayuran untuk memastikan keduanya tetap terjaga di tengah perubahan cuaca.
Risiko Gagal Panen
Selain persoalan air dan sinar matahari, penyakit tanaman menjadi tantangan lain yang harus diantisipasi. Gangguan dapat menyerang daun, akar, hingga batang tanaman.
Agil menjelaskan, penyakit yang menyerang bagian akar atau batang cenderung lebih sulit ditangani dibandingkan gangguan pada daun. Jika tidak tertangani, tanaman bisa mati dan berpotensi menyebabkan gagal panen.
Karena itu, pengelola dituntut lebih teliti dalam mengamati perubahan kondisi tanaman. Perawatan tidak hanya berfokus pada ketersediaan air dan pupuk, tetapi juga kesehatan tanaman secara keseluruhan.
Pakcoy menjadi salah satu sayuran yang paling banyak dibudidayakan di Harif Hidroponik, selain selada. Kedua komoditas tersebut memiliki nilai jual yang cukup tinggi, dengan harga pakcoy sekitar Rp25.000 per kilogram dan selada Rp50.000 per kilogram.
Hasil panen dipasarkan di sekitar Mimika dan terkadang dikirim ke sejumlah wilayah lain berdasarkan permintaan, termasuk daerah pedalaman. Namun, ketika pertumbuhan tanaman melambat, ketersediaan sayuran untuk memenuhi permintaan juga ikut terdampak.
Agil menyebutkan, beberapa jenis sayuran mulai kosong karena tanaman membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali siap dipanen.
Di tengah kondisi tersebut, pengelola Harif Hidroponik berupaya menjaga keberlangsungan budidaya dengan meningkatkan pemantauan dan perawatan tanaman.
Bagi pelaku usaha hidroponik, dampak perubahan cuaca terasa dalam pekerjaan sehari-hari, mulai dari aliran air yang melambat hingga waktu panen yang semakin sulit dipastikan.
Ketika cuaca tidak lagi bersahabat, ketelitian menjadi salah satu kunci agar sayuran tetap tumbuh dan usaha terus berjalan.








