Dari Wamena ke Mimika Bawa Harapan 160 Kelompok Pengrajin Papua

banner 468x60

DARI Wamena, Yutinus Kobak datang ke Mimika bukan hanya membawa gelang, kalung, noken, kopi dan berbagai aksesori. Ia membawa cerita tentang ratusan pengrajin yang menggantungkan harapan dari hasil kerajinan tangan mereka.

Selasa (6/10/2026) pagi, Yutinus tiba di Mimika menggunakan pesawat Hercules. Ini merupakan kali pertama ia datang dan ikut berjualan dalam Festival dan Bazar UMKM Kabupaten Mimika yang digelar dalam rangka HUT ke-30 Kabupaten Mimika.

banner 325x300

Baginya, kehadirannya di Mimika bukan sekadar kesempatan untuk menjual produk. Ia ingin memperkenalkan hasil karya pengrajin Papua sekaligus mencari peluang pasar baru.

“Saya selain belajar, datang untuk mempromosikan hasil kerja saya,” katanya.

Di balik produk yang dipajangnya, ada perjalanan panjang yang telah ia jalani sejak 2009. Selama bertahun-tahun, Yutinus membangun usaha sekaligus membina kelompok-kelompok pengrajin orang asli Papua di Wamena.

Kini, sekitar 160 kelompok berada dalam jaringan yang dibinanya. Mereka membuat berbagai produk, mulai dari noken, gelang, kalung hingga aksesori lainnya.

Ia juga memiliki tujuh orang karyawan yang bekerja di rukonya. Namun, menurutnya, jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari usaha tersebut jauh lebih besar.

Sebab, para pengrajin yang dibinanya bekerja berdasarkan kebutuhan dan pesanan. Ketika membutuhkan uang untuk memenuhi keperluan keluarga, mereka dapat membuat kerajinan kemudian membawanya untuk dijual.

“Pas mereka butuh, mereka bikin noken, gelang, kalung. Seperti itu mereka langsung bawa untuk bayar uang sekolah, kebutuhan berobat dan lain sebagainya,” ujarnya.

Karena itu, baginya, sebuah produk kerajinan tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Di dalamnya ada kerja keras dan kebutuhan hidup sebuah keluarga.

Harga produk yang dibawanya pun beragam. Ada gelang dan aksesori yang dijual mulai dari Rp10 ribu. Sementara produk bernilai tinggi, seperti baju berbahan noken, bisa mencapai Rp15 juta.

Selama ini, produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Wamena. Jaringan pembelinya telah menjangkau sejumlah daerah di Papua, seperti Paniai, Nabire, Jayapura, Merauke hingga Manokwari.

Usaha yang diberi nama Souvenir Tourism itu juga memiliki hubungan dengan sektor pariwisata. Ia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan wisatawan mancanegara yang berkunjung langsung ke objek-objek wisata di Wamena.

Dari aktivitas tersebut, kerajinan tangan Papua diperkenalkan bukan hanya kepada masyarakat lokal, tetapi juga kepada orang dari berbagai daerah dan negara.

Bukan Sekadar Pajangan

Melihat pelaksanaan Festival dan Bazar UMKM Mimika, Yutinus memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah kabupaten Mimika.

Menurutnya, fasilitas berupa tenda, meja dan penerangan yang disiapkan melalui dinas terkait sudah cukup representatif untuk para pelaku usaha.

Namun, ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada penyediaan tempat dan pajangan produk.

Ia ingin pemerintah bersama seluruh stakeholder ikut menggerakkan masyarakat untuk membeli produk-produk yang dijual para pelaku UMKM.

“Ini jangan dijadikan sebagai pajangan, tetapi memberikan kontribusi dengan belanja supaya itu meningkatkan perekonomian keluarga dan membangun kemandirian masyarakat,” tegasnya.

Baginya, ketika seseorang membeli sebuah noken, gelang atau kalung buatan pengrajin, yang dibeli bukan hanya sebuah barang.

Ada keluarga yang ikut terbantu. Ada biaya sekolah yang bisa dibayar. Ada kebutuhan berobat yang bisa dipenuhi. Dan ada pengrajin yang kembali memiliki modal untuk menghasilkan karya berikutnya.

Karena itu, ia berharap festival dan bazar UMKM dapat digelar secara rutin setiap tahun dan semakin banyak melibatkan masyarakat serta stakeholder.

Bagi Yutinus, perjalanan dari Wamena ke Mimika hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, produk yang ia bawa membawa perjalanan yang jauh lebih panjang—perjalanan ratusan pengrajin Papua yang terus bekerja, berkarya dan berharap kerajinan tangan mereka dapat menjadi jalan menuju kehidupan keluarga yang lebih mandiri.

Crystal Erawati – Papuadaily