Berawal dari membawa kopi kampung halaman ke kantor, Alexander Giban membangun AO-Nare14 Coffee & Roastery di Timika. Ia tak sekadar merintis bisnis, tetapi juga ingin membekali anak-anak muda Papua dengan keterampilan agar kelak mampu membuka usaha sendiri.
AROMA biji kopi Arabika yang disangrai perlahan menjadi bagian dari perjalanan Alexander Giban merintis usaha di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di balik setiap biji yang diolahnya, pemuda asal Wamena itu menyimpan cita-cita yang lebih besar daripada sekadar menjual secangkir kopi: membuka jalan bagi anak-anak muda Papua untuk mandiri melalui usaha.
Cita-cita itu kini tumbuh melalui AO-Nare14 Coffee & Roastery, usaha kopi yang dibangunnya dari langkah sederhana, tabungan pribadi, dan keberanian mengambil risiko.
Perjalanan Alexander tidak bermula dari sebuah kedai dengan mesin espresso dan peralatan sangrai modern. Semuanya berawal dari kebiasaan membawa biji kopi Arabika dari kampung halamannya di Wamena ke tempat kerja.
Saat itu, Alexander bekerja sebagai engineer elektro di Mimika. Latar belakang pendidikannya di bidang Teknik Elektro dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) membawanya ke dunia kerja yang berbeda dari bisnis kopi yang kini ia tekuni.
Namun, kecintaannya terhadap kopi membuatnya ingin mengenalkan hasil panen dari tanah kelahirannya kepada orang-orang di sekitarnya.
Biji kopi yang dibawanya dari Wamena diseduh di kantor. Dari sana, percakapan tentang rasa kopi perlahan membuka peluang yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Atasan dan rekan-rekan kerjanya memberikan respons positif. Dukungan sederhana itu menjadi dorongan bagi Alexander untuk mencoba mengubah kegemarannya menjadi sumber penghasilan.
“Atasan bilang, ‘Ah Adi, usahakan saja, boleh.’ Nah itu membuat saya semangat,” tutur Alexander saat ditemui dalam sebuah pameran UMKM di Mimika.
Dari percakapan sederhana itu, langkah pertamanya sebagai pengusaha mulai terbentuk.
Merintis dari Keterbatasan
Alexander tidak langsung memiliki mesin sangrai sendiri. Pada tahap awal, ia memesan biji kopi mentah dari orang tuanya di Wamena. Biji tersebut kemudian diserahkan kepada penyedia jasa sangrai lokal sebelum dikemas menggunakan alat pres sederhana.
Produk yang sudah dikemas dijual kepada rekan-rekan di lingkungan kantor.
Keuntungan dari penjualan itu tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Alexander menyisihkan pendapatannya sedikit demi sedikit untuk menambah modal usaha.
Ia memahami bahwa membangun bisnis tidak selalu membutuhkan modal besar pada permulaan. Dalam perjalanannya, kemampuan mengelola uang dan kesediaan memulai dari keterbatasan justru menjadi bekal penting.
Hasilnya mulai terlihat ketika tabungannya cukup untuk membeli mesin sangrai sendiri.
Kepemilikan mesin itu menjadi titik penting dalam perkembangan usahanya. Alexander tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jasa penyangraian pihak lain. Ia mulai memiliki kendali lebih besar terhadap proses produksi dan kualitas kopi yang dijual.
Peluang kemudian berkembang. Selain memasarkan kopi kemasan, ia membuka jasa penyangraian biji kopi bagi sejumlah kafe di Timika.
Dari usaha tersebut, Alexander kembali mengumpulkan modal untuk melengkapi peralatan. Ia membeli mesin espresso dan grinder, hingga akhirnya membuka kedai kopi mini pada 10 Agustus 2026.
Dari biji kopi yang semula dibawa ke kantor, kini tumbuh sebuah usaha yang menghubungkan hasil kebun di Wamena dengan pasar di Timika.
Perjalanan itu belum selesai. Namun, setiap tahapan yang dilaluinya menunjukkan bahwa bisnis dapat tumbuh melalui proses, selama ada kemauan untuk belajar, keberanian mengambil risiko, dan disiplin mengelola keuangan.
AO-Nare, Secangkir Persaudaraan
Nama AO-Nare yang disematkan pada merek usahanya bukan sekadar identitas dagang.
Dalam bahasa lokal yang digunakan Alexander, AO-Nare bermakna “Kau adalah temanku”. Makna itu mencerminkan suasana yang ingin ia bangun melalui bisnis kopinya: kehangatan, kedekatan, dan persaudaraan.
Baginya, kopi tidak berhenti sebagai minuman yang dinikmati untuk mengusir kantuk atau menemani pekerjaan. Kopi juga bisa menjadi ruang perjumpaan, tempat orang berbagi cerita, membangun hubungan, dan mengenal kebudayaan dari daerah lain.
Nilai tersebut sejalan dengan gagasannya tentang kopi Papua. Di balik secangkir kopi, terdapat tanah tempat tanaman tumbuh, petani yang merawat kebun, serta perjalanan panjang dari hasil panen hingga menjadi produk siap konsumsi.
Alexander melihat keunggulan itu sebagai modal penting bagi pengusaha asli Papua.
Timika, dengan aktivitas industri dan masyarakat yang beragam, dinilainya memiliki pasar potensial bagi usaha kopi. Tingginya aktivitas ekonomi dan beragamnya latar belakang penduduk membuka peluang bagi produk kopi lokal untuk berkembang.
Namun, menurut Alexander, potensi pasar saja tidak cukup. Produk harus memiliki identitas yang jelas, kualitas yang terjaga, dan cerita yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita orang asli yang punya tanah, yang punya kebun. Kalau kita sendiri yang jelaskan dari mana kopi itu berasal, nilainya sangat beda. Itu otentik dan natural,” tegasnya.
Bagi Alexander, hubungan dengan kampung halaman bukan hanya sumber pasokan bahan baku. Hubungan itu juga menjadi kekuatan untuk memperkenalkan karakter kopi Papua kepada konsumen yang lebih luas.
Ia ingin konsumen mengetahui bahwa kopi yang mereka nikmati memiliki asal-usul dan cerita, bukan sekadar nama pada kemasan.
Bukan Sekadar Menjual Kopi
Di tengah upaya mengembangkan bisnis, Alexander membawa misi yang melampaui keuntungan finansial.
Ia memilih merangkul anak-anak muda Papua yang belum memiliki pekerjaan untuk belajar dan terlibat dalam usahanya. Alih-alih mencari barista yang sudah berpengalaman, ia ingin membagikan pengetahuan yang dimilikinya kepada mereka yang belum memiliki kesempatan.
Bagi Alexander, keterampilan meracik kopi dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi.
Anak muda yang belajar menyeduh kopi tidak hanya memperoleh pengalaman bekerja. Mereka juga berkesempatan memahami proses usaha, mulai dari mengenal bahan baku, mengolah produk, melayani pelanggan, hingga mempelajari cara mengembangkan bisnis.
Ia berharap pengetahuan tersebut tidak berhenti digunakan di kedainya. Kelak, anak-anak muda yang dilatihnya bisa membangun usaha sendiri dan menciptakan peluang bagi orang lain.
“Saya tidak cari orang yang sudah pro. Ilmu yang saya punya, saya bagikan ke teman-teman anak Papua yang tidak punya pekerjaan. Yang penting bukan nilainya dulu, tapi pengalaman dan ilmunya agar kelak mereka bisa membuka usaha sendiri,” ujar Alexander.
Pilihan itu menunjukkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda.
Di tengah tantangan mencari pekerjaan, keterampilan praktis dan pengalaman langsung dapat menjadi modal awal untuk memasuki dunia kerja atau membangun usaha mandiri. Alexander ingin membuka ruang tersebut melalui bisnis yang sedang dirintisnya.
Ia menyadari bahwa perjalanan menjadi pengusaha tidak selalu mudah. Konsistensi menjaga kualitas rasa dan kemampuan mengelola keuangan menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Pelanggan, menurutnya, akan kembali ketika kualitas produk tetap terjaga. Karena itu, pengembangan usaha tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan kepercayaan konsumen.
Keberanian mengambil risiko juga harus disertai perhitungan. Bagi Alexander, memulai dari kecil bukan sesuatu yang memalukan. Yang lebih penting adalah terus belajar dan tidak terjebak pada gengsi untuk terlihat berhasil sebelum usaha benar-benar kuat.
Dari Timika untuk Kopi Papua
Ke depan, Alexander menargetkan AO-Nare14 Coffee & Roastery berkembang melalui pembukaan kedai di lokasi yang lebih strategis, terutama di tepi jalan utama Kota Timika.
Ia juga ingin memanfaatkan pameran dan festival UMKM sebagai ruang memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas. Penjualan langsung menjadi salah satu cara untuk mendekatkan kopi Papua dengan konsumen sekaligus membangun pengenalan terhadap mereknya.
Targetnya tidak berhenti pada pasar lokal. Ia berharap kopi yang berasal dari tanah Papua dapat dikenal lebih luas, termasuk di tingkat nasional dan internasional.
Tentu, perjalanan menuju tujuan tersebut masih membutuhkan kerja keras. Konsistensi produksi, kualitas, penguatan merek, akses pasar, dan pengelolaan usaha akan menentukan sejauh mana bisnisnya dapat bertahan dan berkembang.
Namun, bagi Alexander, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari seberapa besar kedai yang dimiliki atau berapa banyak kopi yang terjual.
Ada cita-cita lain yang ingin ia wujudkan: melihat semakin banyak anak muda Papua berani mengambil langkah pertama, mempelajari keterampilan baru, dan membangun usaha dengan kemampuan sendiri.
Di tengah aroma biji kopi Arabika Wamena yang memenuhi ruang sangrai, Alexander sedang merawat dua hal sekaligus. Yang pertama adalah bisnis yang tumbuh dari kampung halamannya. Yang kedua adalah harapan agar pengetahuan dan peluang ekonomi dapat dibagikan kepada generasi muda.
Sebab, baginya, secangkir kopi tidak hanya membawa cita rasa tanah Papua. Ia juga dapat membawa cerita tentang keberanian memulai, ketekunan membangun, dan kesempatan untuk tumbuh bersama.








