Laporan: Crystal Erawati / Papuadaily.comSuara tifa bergema, membelah riuhnya suasana Festival UMKM Mimika di halaman gedung Eme Neme. Iramanya lembut namun teguh, berulang dan menyatu, persis seperti denyut kehidupan yang telah mengalir sejak lama di tanah pesisir ini. Di atas panggung, gerak para penari dari Kampung Mioko menyusun harmoni—kaki melangkah serempak, lekukan badan menyatuh dengan alam serta lengan tangan mengikuti detak nada, seakan menyapa langit, menyapa bumi, dan menyapa setiap jiwa yang hadir.
Itulah satu dari sekian tarian asli Suku Kamoro, yang tampil dalam Festival UMKM, turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi. Lebih dari sekadar pertunjukan pembuka dihari kedua, tarian ini menjadi jembatan halus yang menyampaikan pesan mendalam: bahwa di tengah keberagaman wilayah dan suku, persatuan adalah kekuatan yang tak terpisahkan.
Gerak yang Bercerita Kebersamaan
Setiap gerakan yang dipersembahkan para penari Mioko bukan sekadar keindahan belaka. Di balik lambaian tangan dan hentakan kaki, tersimpan pesan persatuan—persatuan dari ujung timur hingga barat Mimika, persatuan antara masyarakat pesisir dan pegunungan, persatuan antara rakyat dan pemerintah.

Samuel Yogi hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Mimika. Baginya, kebersamaan itu adalah kunci pembangunan yang sejati.
“Ini tandanya bahwa kita harus bersatu dari timur sampai barat, bersama pemerintah Kabupaten Mimika yang pembangunannya terus berjalan,” ujarnya di hadapan warga, suaranya tulus dan dekat.
Pembangunan, katanya, tak akan tegak berdiri jika hanya ditopang pemerintah semata. Ia butuh tangan-tangan masyarakat, butuh kebersamaan, butuh keyakinan bahwa kemajuan adalah milik bersama.
“Pemerintah kabupaten turun langsung, supaya pembangunan ini kita sama-sama sukseskan,” ajaknya lembut namun tegas.
Nostalgia di Tanah Pesisir
Bagi masyarakat Kampung Mioko, kehadiran Samuel Yogi di tengah mereka bukan hal yang asing. Ia bukan orang yang datang sekadar membawa pesan dari jauh. Ia adalah salah satu dari mereka—anak yang tumbuh besar di tanah ini, yang dikenal sejak kecil hingga dewasa di sepanjang wilayah pesisir, dari timur hingga barat Mimika.
“Beliau adalah anak kandung, Bapak Ibu. Dari kecil sampai dewasa, dirinya sudah dikenal di pesisir, khususnya pesisir dari timur sampai barat,” ujar perwakilan masyarakat dengan nada penuh kehangatan.

Kedekatan itu terasa nyata. Bukan sekadar kedekatan jabatan, melainkan kedekatan hati—yang tumbuh bersama ombak pantai dan angin yang berhembus dari hutan. Maka ketika tarian Kamoro dipersembahkan di panggung festival, itu adalah ungkapan tulus dari hati masyarakat: bahwa budaya mereka tetap hidup, tetap berharga, dan tetap memiliki tempat terhormat dalam setiap langkah pembangunan.
Di Persimpangan Budaya, Usaha, dan Harapan
Festival UMKM Mimika tahun ini pun menjadi lebih bermakna. Ia bukan sekadar tempat mempromosikan barang dan jasa. Di sana, terjadi pertemuan yang indah: antara kekuatan budaya yang menjaga jati diri, semangat usaha yang mengangkat kehidupan, dan harapan masyarakat yang ingin terus tumbuh bersama.
Tarian Kamoro dari Mioko mengingatkan kita: bahwa kemajuan tak harus melupakan akar. Bahwa langkah ke depan akan kokoh jika tetap berpijak pada persatuan. Bahwa irama tifa yang bergema hari ini adalah doa dan harapan—agar Mimika terus tumbuh, bersatu, dan berkembang dalam kebersamaan.
“Mari kita sama-sama menikmati pertunjukan budaya ini,” ajak Samuel Yogi.
Dan di bawah langit yang cerah itu, diiringi bunyi tifa yang masih berdenting, satu hal menjadi jelas: persatuan adalah tarian terindah yang bisa dipersembahkan anak-anak Mimika untuk tanah kelahiran mereka. (Selesai)





