Timika, Papuadaily – Festival UMKM Mimika menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang pasar. Namun, bagi pelaku usaha tanaman hias, kegiatan seperti ini diharapkan tidak hanya berlangsung ketika ada festival.
Hal tersebut disampaikan Irsma, salah satu pelaku UMKM yang ikut ambil bagian dalam Festival UMKM Mimika dalam rangka memperingati HUT UMKM Nasional ke-10 sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Irsma berharap pemerintah tidak hanya melibatkan pelaku usaha saat kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan, termasuk melalui pemanfaatan media sosial.
“Harapannya ke depan itu jangan hanya setiap festival saja kita pelaku usaha dilibatkan. Sekarang kan sudah banyak yang menggunakan media sosial, alangkah baiknya kita juga dilibatkan. Tapi jangan dipersulit,” ujarnya ketika ditemui wartawan, Rabu (12/8/2026).
Menurut Irsma, pelaku UMKM tetap membutuhkan dukungan meski tidak sedang ada kegiatan festival. Dengan begitu, produk lokal dapat terus dipasarkan dan masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk berbelanja produk usaha lokal.
“Jangan cuma terjadi ketika ada event. Tidak ada event pun kita pelaku-pelaku usaha tetap diperhatikan, supaya masyarakat juga bisa belanja di kita. Karena kita pelaku usaha bukan saja seperti tanaman hias dan noken, tapi juga ada kuliner,” katanya.
Ia berharap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Mimika juga dapat ikut menggunakan produk-produk dari pelaku UMKM lokal. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menciptakan pasar yang lebih berkelanjutan.
“Jadi mungkin OPD boleh pakai produk kuliner dari pelaku usaha, supaya ada keberlangsungan. Maksudnya, usaha ini tetap berjalan, jangan cuma ketika ada event,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan dalam pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya, tidak semua pelaku usaha, khususnya masyarakat Papua, memahami penggunaan media sosial maupun platform digital untuk memasarkan produk.
“Karena kita orang Papua, tidak semua mengerti media sosial. Kita juga tidak selalu update. Alangkah baiknya langkah-langkahnya diperjelas dan kami dibantu,” tuturnya.
Ia menilai program digitalisasi UMKM seharusnya tidak berhenti setelah produk pelaku usaha masuk ke dalam sebuah platform. Menurutnya, harus ada pendampingan lanjutan agar pelaku usaha benar-benar mampu memanfaatkan platform tersebut.
“Jangan setelah produk itu ada di DCI kemudian berhenti sampai di situ. Seharusnya mesti ada pengembangan dan pendampingan yang berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyinggung pengalaman sebelumnya ketika mengikuti kegiatan peluncuran sebuah program. Ia mengaku kesulitan mengakses layanan karena prosesnya mengharuskan pelaku usaha menggunakan website dan perangkat seperti laptop.
“Kemarin kan kita sempat ada launching yang LPC punya, tapi kita tidak mengerti karena terlalu sulit. Kita harus masuk website dan harus punya laptop, sedangkan sekarang zamannya Android,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap program pemberdayaan UMKM tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Menurutnya, yang paling penting adalah keberlanjutan program dan pendampingan hingga pelaku usaha benar-benar mampu berkembang.
“Jadi kalau boleh, jangan cuma sampai di seremonial. Selanjutnya jangan hanya jadi wacana dan berhenti begitu saja. Harus ada kelanjutannya seperti apa,” tegasnya.




