Mimika  

Pemerintah Diminta Perluas Penanganan Dampak El Nino dan Krisis Pangan di Mimika

(kiri) Bantuan pangan untuk warga. (kanan) Warga kesulitan air bersih di Hoeya.

Timika, Papuadaily Musim kemarau panjang yang sempat berlangsung selama beberapa bulan akibat fenomena El Nino berdampak pada ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Kondisi tersebut dilaporkan terjadi mulai dari kawasan pesisir, perkampungan hingga sejumlah wilayah di sekitar Kota Timika. Cadangan air warga menipis setelah sumur dan sejumlah sumber air mulai mengering.

banner 325x300

Aktivis lingkungan di Mimika, Adolfina Kum, mengatakan dampak kekeringan paling terasa di sejumlah kampung, termasuk wilayah pegunungan seperti Arwano, Hoeya, Tsinga, dan Agimuga.

Selain krisis air bersih, kekeringan juga mengancam tanaman pangan warga. Sejumlah kebun dilaporkan mengalami kekeringan sehingga tanaman seperti keladi dan petatas layu hingga mati.

“Dampak utama adalah krisis air bersih di sejumlah wilayah pesisir dan perkampungan hingga kota. Masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena cadangan air menipis,” kata Adolfina.

Ia menyoroti kondisi masyarakat di Kampung Hoeya. Menurut dia, sebuah video yang beredar di sejumlah grup WhatsApp warga Timika memperlihatkan perempuan dan anak-anak membawa jeriken berkapasitas sekitar lima liter untuk mengambil air dari mata air Negong.

Dalam video tersebut, seorang warga menyampaikan bahwa kekeringan sumber air telah berlangsung selama sekitar enam bulan. Kondisi itu disebut membuat sungai dan kali mengering serta berdampak pada kebun masyarakat.

Adolfina mengatakan mata air Negong kini menjadi salah satu sumber air yang masih diandalkan warga.

“Kami berharap hanya mata air Negong ini. Kali besar itu semua sudah tidak ada, kering. Jadi setiap hari kami antre di sini menimba. Kami berharap pemerintah, YPMAK, Freeport, tolong lihat dan bantu kami di Kampung Hoeya,” ujarnya, mengutip keluhan warga dalam video tersebut.

Adolfina juga mengingatkan dampak kekeringan terhadap kesehatan masyarakat. Cuaca panas dan kering, menurut dia, berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi serta gangguan pernapasan, terlebih ketika kondisi udara di Timika diselimuti asap.

Ia meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan memastikan masyarakat terdampak mendapatkan akses air bersih.

Adolfina juga mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika menyiapkan langkah antisipasi, termasuk kemungkinan distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan air.

“Pemerintah diharapkan mulai siaga darurat dan memastikan apakah BPBD Mimika sudah menyiagakan bantuan untuk mendistribusikan air bersih bagi masyarakat terdampak,” katanya.

Dinas Kesehatan Mimika juga diminta memperkuat sosialisasi mengenai pencegahan gangguan kesehatan selama periode cuaca panas dan kering, termasuk imbauan menjaga asupan air dan mengurangi paparan asap.

Krisis Pangan

Menurut Adolfina, persoalan air dan pangan bukan sepenuhnya persoalan baru bagi masyarakat Mimika. Ia mengatakan perempuan nelayan di Pomako serta perempuan buruh kelapa sawit di Iwaka sebelumnya telah menghadapi persoalan akses pangan dan air bersih yang dikaitkan dengan perubahan ruang kelola dan lingkungan.

“Kami sudah lama memperoleh keresahan dan keluhan tentang krisis pangan lokal dan air bersih yang dialami perempuan nelayan dan perempuan buruh kelapa sawit di Kampung Pomako dan Iwaka,” ujarnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut kini diperberat oleh musim kemarau panjang.

Adolfina menyebut pihaknya pada Agustus lalu telah berkoordinasi dengan Maria Kristina Timang, Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Mimika, untuk membahas kondisi perempuan terkait akses pangan dan air bersih.

Pada 11 September 2026, menurut Adolfina, Dinas Ketahanan Pangan Mimika melalui bidang kerawanan pangan bersama sekretariat dinas mulai menyalurkan bantuan bahan kebutuhan pokok kepada sejumlah kelompok masyarakat.

Bantuan tersebut antara lain diberikan kepada mama-mama nelayan di Pomako, perempuan buruh kelapa sawit di Iwaka, serta masyarakat adat di SP 6, Kampung Naenamuktipura. Bantuan berupa beras, telur, minyak goreng, dan gula.

Langkah tersebut mendapat respons positif dari masyarakat penerima. Koordinator perempuan nelayan Pomako, Agustina Yataneya, mengatakan bantuan tersebut membantu warga menghadapi kondisi kekeringan dan kerawanan pangan.

“Bantuan ini sangat bermanfaat dengan kondisi riil kami saat ini, di mana hari ini musim kekeringan dan kerawanan pangan terjadi di kampung-kampung pesisir,” kata Agustina, seperti disampaikan Adolfina.

Adolfina mengapresiasi langkah Dinas Ketahanan Pangan Mimika yang mulai menyalurkan bantuan ke sejumlah kampung. Namun, ia meminta penanganan diperluas dengan mempertimbangkan persoalan air bersih dan pangan yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah Mimika.

Ia juga berharap pemerintah daerah dan PT Freeport Indonesia dapat mendukung program penanganan pangan yang telah berjalan, terutama bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Harapannya pemerintah dan Freeport mendukung program Dinas Ketahanan Pangan yang sudah berjalan ini dengan melihat persoalan krisis air bersih dan pangan kepada masyarakat Timika secara lebih luas,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi kekeringan perlu ditangani secara terpadu agar persoalan air bersih, pangan, kesehatan, dan lingkungan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.