News  

Beredar Isu Hujan di Timika Hasil Modifikasi Cuaca, ini Penjelasan BMKG

Forecaster BMKG Mimika, Dava. (Papuadaily/Crystal)

Timika, Papuadaily – Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dalam beberapa hari terakhir diselimuti asap tebal yang diduga merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Merauke, Papua Selatan.

Di tengah kondisi tersebut, beredar informasi di media sosial yang menyebut hujan yang turun di Timika merupakan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sehingga air hujan disebut mengandung bahan tertentu dan tidak boleh ditampung maupun dikonsumsi masyarakat.

banner 325x300

Untuk memastikan informasi tersebut, wartawan Papuadaily mengonfirmasi langsung kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mimika, pada Jumat (2/10/2026).

Forecaster BMKG Mimika, Dava, menjelaskan bahwa secara ilmiah fenomena asap yang terjadi di Timika merupakan hasil transportasi adveksi asap dari kebakaran lahan yang masif di Merauke.

Menurutnya, kondisi angin saat ini masih bergerak dari arah timur hingga tenggara. Kondisi tersebut menyebabkan asap dari wilayah Merauke terbawa menuju Timika dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 24 hingga 36 jam.

“Fenomena asap secara ilmiah memang merupakan hasil transport adveksi asap dari kebakaran lahan yang masif di Merauke,” ujar Dava.

Ia mengatakan, BMKG juga memantau sebaran asap melalui overlay citra satelit yang menunjukkan pergerakan asap dan arah angin.

Berdasarkan informasi yang diterima BMKG, di wilayah Merauke terdapat sejumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan berbeda. Tercatat sekitar 33 titik hotspot kategori rendah, 1.767 kategori sedang, dan 141 kategori tinggi.

“Yang 141 itu kategori sangat tinggi,” jelasnya.

BMKG Pastikan Tak Ada OMC

Dava juga meluruskan informasi mengenai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat Mimika.

Ia memastikan bahwa saat ini tidak sedang dilakukan OMC di wilayah Timika. Dengan demikian, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir bukan merupakan hujan hasil modifikasi cuaca.

“Untuk OMC sendiri sekarang di Timika sedang tidak dilakukan. Hujan kemarin benar-benar hujan alami,” katanya.

Menurutnya, pelaksanaan OMC membutuhkan koordinasi sejumlah pihak, di antaranya BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta unsur TNI Angkatan Udara karena pelaksanaan penyemaian awan umumnya menggunakan pesawat.

Selain itu, pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan. Diperlukan pemantauan radar cuaca untuk mengetahui pergerakan dan karakteristik awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

“Tidak asal menabur garam di udara. Kita harus tahu titik-titik awan yang bisa disemai supaya terjadi hujan,” jelasnya.

Dava menyebut OMC telah beberapa kali dilaksanakan di Indonesia, termasuk untuk penanganan kondisi kebakaran di sejumlah wilayah.

Terkait informasi mengenai air hujan yang keruh atau berbusa, Dava mengatakan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan OMC yang saat ini tidak dilakukan di Timika.

Menurutnya, kondisi asap dapat memengaruhi air hujan yang turun di wilayah terdampak. Namun, untuk memastikan keamanan air hujan, tetap diperlukan pengambilan sampel dan pemeriksaan lebih lanjut.

“Untuk konsumsi saat ini belum dianjurkan karena kita harus mengambil sampling air itu sendiri. Mungkin dari Dinas Kesehatan juga perlu melakukan sampling,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat yang ingin menampung air hujan agar tidak langsung menampung air pada awal hujan. Masyarakat disarankan memberikan jeda terlebih dahulu sebelum menampung air untuk keperluan sehari-hari.

“Ketika turun hujan, tidak langsung menampung air hujan. Kasih rentang waktu sekitar 30 menit atau berapa. Setelah itu silakan ditampung untuk keperluan sehari-hari seperti mandi,” katanya.

Namun, untuk konsumsi, masyarakat diminta menghindarinya terlebih dahulu sampai keamanan air tersebut dapat dipastikan melalui pemeriksaan.

Mengenai berapa lama asap kiriman dari Merauke akan bertahan di Mimika, BMKG belum dapat memastikan durasinya.

Dava mengatakan kondisi tersebut sangat bergantung pada perkembangan kebakaran lahan di Merauke dan kondisi cuaca di wilayah tersebut.

Menurutnya, hujan di Merauke nantinya berpotensi membantu meredakan kebakaran sehingga dampak asap juga dapat berkurang.

“Ketika hujan sudah mulai turun di Merauke, mungkin nanti kebakaran itu sudah mulai mereda,” ujarnya.

BMKG memperkirakan hujan di wilayah Merauke mulai meningkat sekitar November. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan kepastian bahwa asap di Timika akan langsung kembali normal.

Sementara itu, terkait kondisi El Niño, Dava mengatakan fenomena tersebut masih memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca hingga 2027.

Menurutnya, intensitas El Niño diperkirakan berada pada kondisi tinggi pada September dan Oktober, kemudian mulai meluruh menjadi kategori moderat pada November.

Meski demikian, Timika masih mengalami hujan karena karakteristik wilayahnya yang memiliki curah hujan tinggi.

“Timika sebenarnya sangat terpengaruh El Niño, tetapi masih kadang terjadi hujan. Timika memang terkenal sebagai kota dengan curah hujan tinggi,” katanya.

Bahkan, BMKG mencatat curah hujan di Timika mencapai sekitar 100 mili dalam satu kejadian hujan dua hari lalu. Hujan tersebut berlangsung sejak malam hingga subuh dan pagi hari.

Curah hujan sekitar 100 mili tersebut masuk dalam kategori sangat lebat, terlebih terjadi ketika Timika masih berada dalam periode kemarau.

BMKG memperkirakan kondisi hujan di Timika akan mulai lebih meningkat menuju November hingga Desember, seiring dengan melemahnya pengaruh El Niño.