Pensil Hitam dan Mimpi Sang Seniman Muda Timika

Laporan: Crystal/ PapuaDaily.com

Di tengah riuhnya Festival UMKM Mimika, selembar kertas putih dan sebatang pensil hitam menjadi pembeda yang mencolok. Di sanalah, tangan seorang anak muda bergerak tenang, menelusuri garis demi garis hingga wajah yang ia lukis tampak hidup. Namanya Christian, anak kelahiran Timika yang membawa karya-karya potret hitam putihnya untuk pertama kalinya tampil di sebuah pameran terbuka.

Langkah pertamanya itu terasa istimewa. Ia hadir dalam rangka memperingati HUT UMKM Nasional ke-10 sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun di balik karya yang dipamerkan, tersimpan kisah perjuangan, keterbatasan, dan harapan besar bagi dunia seni di tanah kelahirannya.

  • Bakat yang Mengalir dari Garis Keturunan

Christian tumbuh dan besar di Timika biasa disebut anak labeti(lahir besar Timika). Dunia lukis sudah dikenalnya sejak bangku SMP, sekitar tujuh tahun silam. Namun keseriusannya menekuni seni ini baru dimulai tiga tahun terakhir. Baginya, minat melukis bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan sudah menjadi bagian dari dirinya—warisan yang mengalir dari keluarga.

“Minat melukis itu sudah ada dalam garis keturunan kami. Meski tak semua keluarga berprofesi sebagai seniman, namun rasa cinta terhadap seni memang sudah ada sejak dulu,” ujarnya dengan rendah hati saat ditemui PapuaDaily, Selasa (11/8/2026).

Ia memilih fokus melukis potret wajah, dalam balutan hitam putih sederhana. Belum ada gaya khas yang sengaja dibangun. Hanya ketekunan membiaskan bayangan dan garis wajah di atas kertas.

“Saya hanya fokus menggambar wajah, terutama tampak samping. Belum ada ciri khusus yang saya bangun, memang masih berfokus pada gambar wajah orang saja,” ujarnya.

  • Berkarya di Tengah Keterbatasan

Di balik keindahan garis pensilnya, tersimpan kenyataan bahwa menjadi pelukis di Papua bukan perkara mudah. Peralatan lukis yang ia butuhkan pun harus dipesan dari luar daerah, bahkan dari Jawa. Butuh waktu, biaya, dan kesabaran ekstra hanya untuk sekadar memastikan pensil dan kertas tersedia.

“Menjadi pelukis di Papua tentu ada tantangannya. Apalagi untuk mendapatkan peralatan lukis, kami harus memesannya dari luar daerah. Itu saja sudah butuh perjuangan,” ceritanya.

Jumlah pelukis di Timika pun masih sangat terbatas. Sepengetahuannya, baru ada tiga hingga empat pelukis yang pernah ia temui. Yang lebih menyedihkan: belum ada komunitas, belum ada wadah, belum ada tempat berkumpul di mana mereka bisa saling berbagi pengalaman dan tumbuh bersama.

“Belum ada yang mewadahi kami untuk bisa berkumpul dan berkarya bersama. Belum terbentuk komunitas,” ungkapnya pelan.

  • Antara Kuliah dan Waktu yang Terbatas

Tiga tahun lalu, sebelum masuk kuliah, waktu hampir sepenuhnya milik seni. Ia bisa melukis seharian tanpa terganggu. Kini, sebagai mahasiswa, lukisan harus berbagi tempat dengan buku-buku kuliah. Kesibukan belajar menyita tenaga dan waktu.

“Dulu saya sangat rajin melukis, waktu masih murni untuk berkarya. Sekarang setelah masuk kuliah, waktu mulai terbatas dan tidak lagi sepenuhnya bisa melukis,” ungkapnya.

Pesanan lukisan memang ada, namun datangnya dari teman-teman terdekat saja. Media sosial yang ia miliki—TikTok, YouTube, dan Instagram—lebih menjadi ruang berbagi karya, bukan tempat mencari nafkah. Ia merasa belum pantas membuka jasa secara luas.

“Pertama, saya merasa kemampuan saya masih perlu dikembangkan. Kedua, peminatnya pun masih terbatas. Dan ketiga, saya sendiri belum sepenuhnya konsisten, kadang mengikuti suasana hati,” akuinya jujur.

  • Harapan: Agar Bakat Anak Papua Tak Terhenti di Tembok

Karya yang dipamerkan di Festival UMKM kali ini belum dibekapi makna mendalam. Ia hadir untuk belajar, mengenal dunia luar, dan memberi kesan bahwa seniman muda Papua pun ada dan berkarya. Namun di hatinya, harapan itu besar.

Ia melihat banyak anak muda di Timika sebenarnya memiliki bakat melukis yang luar biasa. Lukisan-lukisan di tembok-tembok kota menjadi bukti nyata. Namun sayang, bakat itu sering kali berhenti di situ—tak tersalurkan, tak dibina, tak diberi ruang untuk tumbuh.

“Saya melihat banyak anak muda Papua yang ternyata memiliki bakat melukis. Banyak sekali. Hanya saja, bakat mereka kadang terhambat pergaulan atau kurang mendapat bimbingan. Jika diperhatikan, betapa banyaknya karya gambar yang ada di tembok-tembok Timika,” ujarnya.

Karena itu, ia memohon: hendaknya ada pihak—baik pemerintah maupun swasta—yang menyediakan ruang, wadah, dan bimbingan bagi para seniman muda. Agar bakat yang terukir di tembok-tembok kota bisa berpindah ke atas kertas, dipelihara, dan dikembangkan bersama.

“Harapan saya, ke depan ada dukungan pemerintah maupun pihak swasta yang menyediakan ruang bagi kami para seniman muda. Agar kami bisa berkembang bersama,” pungkasnya.

Sementara itu, pensil hitam itu masih ia genggam erat. Sederhana, namun cukup untuk menuliskan mimpi: suatu hari nanti, seni Papua tumbuh, bersatu, dan dikenal bukan hanya di tembok-tembok kota, melainkan melanggar jauh ke masa depan. (Selesai)