Timika, Papuadaily – Antusiasme masyarakat terhadap penerimaan murid baru di SMAN 1 Mimika terlihat dari ramainya calon peserta didik dan orang tua yang datang ke sekolah sejak pagi hari untuk mengikuti proses pendaftaran.
Sebagai salah satu sekolah favorit di Kabupaten Mimika, SMAN 1 selalu menjadi tujuan utama banyak lulusan SMP setiap tahunnya. Tingginya minat masyarakat membuat proses penerimaan murid baru mendapat perhatian khusus agar berjalan tertib dan sesuai ketentuan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SMAN 1 Mimika menyediakan daya tampung sebanyak 432 peserta didik yang terbagi dalam beberapa jalur penerimaan, yakni jalur domisili (zonasi) 39 persen atau 168 siswa, jalur prestasi 30 persen atau 130 siswa, jalur afirmasi 30 persen atau 130 siswa, serta jalur mutasi 1 persen atau 4 siswa.
Salah seorang orang tua calon peserta didik, Pak Tio, warga Jalan Kartini, mengaku sengaja datang sejak pagi untuk memastikan proses pendaftaran anaknya berjalan lancar. Menurutnya, pelaksanaan penerimaan murid baru tahun ini jauh lebih tertib dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Lebih teratur. Orang tua juga tidak dilibatkan masuk ke area pendaftaran sehingga prosesnya lebih tertib. Tidak ada ribut-ribut, semuanya masih aman,” ujarnya.
Ia menilai pembagian jalur penerimaan, seperti jalur domisili, afirmasi, prestasi, dan jalur khusus Orang Asli Papua (OAP), membantu menciptakan keteraturan selama proses pendaftaran berlangsung.
Meski sebagian warga telah datang sejak dini hari untuk mendapatkan antrean lebih awal, suasana di lokasi tetap kondusif. Para calon peserta didik mengikuti arahan panitia dan mengantre sesuai jalur yang telah ditentukan.
“Ada yang datang sejak malam bahkan dini hari, tetapi saat pelayanan dibuka semua tetap mengikuti aturan dan mengantre dengan baik,” katanya saat wawancara, Selasa (22/6/2026).
Hal senada disampaikan orang tua calon peserta didik lainnya yang datang ke sekolah sejak pukul 05.30 WIT untuk mengantar anaknya mendaftar melalui jalur domisili. Ia mengapresiasi kebijakan sekolah yang mengutamakan kemandirian siswa selama proses pendaftaran.
“Yang antre anak-anaknya, bukan orang tua. Kami hanya mengantar lalu menunggu di luar,” ujarnya.
Menurutnya, suasana pendaftaran tahun ini terasa lebih nyaman karena orang tua tidak diperkenankan masuk ke area pelayanan. Dengan demikian, proses antrean menjadi lebih tertib dan tidak menimbulkan penumpukan di lokasi pendaftaran.
“Sudah bagus karena terbagi berdasarkan jalur yang ada. Anak-anak juga rapi saat masuk dan mengikuti antrean. Tidak ada orang tua yang ikut campur di dalam,” katanya.
Para orang tua berharap sistem penerimaan murid baru yang diterapkan tahun ini dapat dipertahankan dan terus disempurnakan pada tahun-tahun mendatang sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin baik, transparan, dan tertib.
