Sumpah Pemuda ke-98, Kepala SMA YPPK Tiga Raja: Semangat Pantang Menyerah

Kepala SMA YPPK Tiga Raja, Rofinus Moa
banner 468x60

Timika, Papuadaily – Kepala SMA YPPK Tiga Raja, Rofinus Moa, mengajak generasi muda memaknai Hari Sumpah Pemuda melalui tindakan nyata, seperti kedisiplinan, kerja keras, sikap pantang menyerah, dan kepedulian terhadap sesama.

Ajakan tersebut disampaikan Rofinus dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026). Ia menegaskan, semangat patriotisme tidak hanya ditunjukkan melalui upacara bendera, tetapi juga melalui perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

“Patriotik zaman sekarang adalah bisa merefleksi, bisa melihat bahwa hidup saya ini untuk apa? Jadi, tidak hanya mengikuti upacara bendera, tetapi tetapi juga melakukan kegiatan positif untuk membangun perkembangan pribadi dan menggapai mimpi,” ujarnya.

Ia mengatakan, pelajar dapat mewujudkan semangat cinta tanah air dengan belajar sungguh-sungguh, menaati tata tertib sekolah, serta menggunakan waktu secara bijak. Ia juga mengingatkan agar penggunaan telepon genggam tidak berlebihan hingga mengganggu proses belajar dan interaksi sosial.

Selain itu, Rofinus menekankan pentingnya semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Ia mendorong generasi muda untuk terus berjuang dan bekerja keras demi mencapai cita-cita.

“Mereka bisa mencapai apa yang menjadi harapan mereka. Dengan cara apa? Mereka berjuang dengan gigi tanpa mengenal lelah, tanpa menyerah di dalam menghadapi tantangan,” ucapnya.

Menurut Rofinus, generasi muda juga perlu memiliki empati dengan memperhatikan kesulitan orang lain, membantu teman yang membutuhkan, dan saling mendukung.

Ia menambahkan, pembentukan karakter pelajar membutuhkan dukungan pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua. Ia berharap orang tua turut mengawasi penggunaan telepon genggam anak agar tidak mengganggu waktu belajar dan istirahat.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, SMA YPPK Tiga Raja melaksanakan upacara dengan mengenakan pakaian adat. Rofinus menjelaskan, keberagaman pakaian adat menjadi simbol persatuan di tengah perbedaan budaya dan bahasa.

“Itu hanya mau memberikan simbol bahwa beda budaya, beda bahasa, tetapi, kita satu dalam kerukunan untuk mengisi kemerdekaan yang sudah diraih. Bukan sebatas cantik dilihat, tapi bagaimana kita bisa mengarahkan anak-anak itu bisa mengenang sejarah panjang perjuangan bangsa ini mencapai suatu kemerdekaan,” pungkasnya.

Ia berharap, peringatan Hari Sumpah Pemuda dapat mendorong pelajar memahami sejarah perjuangan bangsa serta mengisi kemerdekaan melalui prestasi, kedisiplinan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama.