Timika, Papuadaily – Menjawab tantangan distribusi air bersih di sejumlah kota dan kampung, Bupati Mimika Johannes Rettob menekankan pentingnya pengelolaan secara profesional agar fasilitas yang telah dibangun tidak sia-sia.
Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan pembahasan pengelolaan air minum yang berlangsung di ruang rapat Kantor Pusat Pemerintahan SP 3 Kabupaten Mimika, Selasa (24/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Ketua DPRK Mimika Primus Natikapareyau menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan layanan air bersih hingga ke kota dan kampung-kampung.
Menurutnya, program air bersih menunjukkan perkembangan signifikan. Saat ini tercatat sebanyak 14.676 sambungan rumah (SR), dengan sekitar 9.000 SR yang sudah teraliri air bersih dan beroperasi melayani kebutuhan masyarakat di wilayah kota.
“Di kota saya lihat sudah berjalan luar biasa. Fasilitas dan distribusinya cukup baik. Namun di beberapa distrik dan kampung masih ada kendala, terutama dalam pengelolaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil peninjauan lapangan di sejumlah kampung, fasilitas yang telah dipasang sebenarnya sudah memadai. Namun keterbatasan tenaga teknis dan kurangnya pengalaman pengelola menjadi tantangan utama sehingga pemanfaatannya belum maksimal.
“Alatnya sudah bagus, tetapi perlu orang-orang yang profesional untuk mengelola. Kalau tidak ada tenaga ahli, maka sistem yang sudah dipasang tidak bisa berjalan optimal,” katanya.
Ia juga menyoroti masih adanya masyarakat di beberapa kampung yang memilih menggunakan air sungai meskipun instalasi air bersih telah tersedia. Menurutnya, hal ini perlu perhatian serius agar fasilitas yang dibangun benar-benar dimanfaatkan.
Selain itu, ia menyinggung perbedaan kondisi geografis. Di wilayah pegunungan, masyarakat masih dapat memanfaatkan air tawar dari sumber mata air. Namun di wilayah pesisir, air cenderung asin sehingga membutuhkan sistem pengolahan khusus.
“Di pesisir ini tantangannya besar. Kalau tidak dikelola dengan baik, masyarakat kembali menggunakan air kali yang belum tentu bersih,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengelolaan melalui BUMD dilakukan secara profesional dengan menempatkan tenaga yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidangnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Johannes Rettob menegaskan pemerintah daerah tahun ini akan memprogramkan peningkatan layanan air bersih di sejumlah kampung secara bertahap dan berkelanjutan.
Menurutnya, Pemkab Mimika telah menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendukung pembiayaan dan pelaksanaan program pengolahan air bersih di kampung-kampung.
“Melalui kerja sama ini, kita akan mengolah air payau maupun air sungai menjadi air bersih yang layak konsumsi, bahkan bisa langsung diminum dengan standar pH 9,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem yang diterapkan akan membagi pemanfaatan air menjadi dua jalur, yakni air untuk kebutuhan mandi dan mencuci yang dialirkan ke rumah-rumah warga, serta air minum yang disediakan di titik khusus untuk diambil langsung oleh masyarakat.
Johannes mengakui program tersebut membutuhkan waktu karena dilakukan secara bertahap dari kampung ke kampung. Namun ia memastikan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperluas akses air bersih bagi seluruh masyarakat.
“Kita akan terus masuk dari kampung ke kampung. Memang butuh waktu, tetapi ini menjadi komitmen pemerintah daerah,” tegasnya.



