Hampir 23 Tahun di Mimika, Paguyuban Joyoboyo Konsisten Lestarikan Budaya Jawa Lewat Wayang Kulit

Papuadaily/Crystal

Timika, Papuadaily – Selama hampir 23 tahun, Paguyuban Joyoboyo Timika konsisten mempertahankan tradisi wayang kulit dalam peringatan 1 Suro.

Di tengah perubahan zaman, tradisi budaya Jawa tersebut terus hidup dan menjadi bagian dari keberagaman budaya di Kabupaten Mimika.

Ketua Paguyuban Joyoboyo Timika, Gogot Wijanarko, mengatakan peringatan 1 Suro merupakan momentum penting untuk memperkuat persaudaraan, melestarikan budaya Jawa, dan melakukan introspeksi diri dalam menyongsong tahun baru Jawa.

Menurutnya, tema Tri Dharma Paguyuban Handarbeni, Hangrukebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani mengajarkan pentingnya rasa memiliki, menjaga warisan budaya, serta keberanian mengevaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Peringatan 1 Suro bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga sarana refleksi dan penguatan kebersamaan. Kami ingin mengajak masyarakat terus menjaga kerukunan dan melestarikan budaya Jawa sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Ia mengungkapkan, Paguyuban Joyoboyo telah hadir di Kabupaten Mimika selama hampir 23 tahun dan secara konsisten menggelar peringatan 1 Suro setiap tahunnya. Salah satu agenda utama yang selalu ditampilkan adalah pementasan wayang kulit sebagai upaya melestarikan budaya Jawa di tanah Papua.

“Alhamdulillah, hampir 23 tahun paguyuban ini berdiri di Mimika. Setiap tahun kami berusaha konsisten menggelar wayang kulit sebagai bagian dari peringatan 1 Suro. Ini merupakan bentuk komitmen kami untuk menjaga dan memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda serta masyarakat luas,” katanya.

Peringatan 1 Suro 1960 Tahun Jawa Be tahun ini akan digelar di Jalan Poros SP2–SP5, Kabupaten Mimika. Selain menjadi ajang silaturahmi warga, kegiatan tersebut diharapkan terus menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.