Mimika  

Pemkab Mimika Dorong SPPG Serap Pangan Lokal, Pesanan Petatas dan Singkong Capai 380 Kg

Ilustrasi

Timika, Papuadaily – Pemerintah Kabupaten Mimika mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memanfaatkan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani di daerah itu.

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong mengatakan, dari sekitar 20 SPPG yang ada di Mimika, baru sekitar 10 SPPG yang diketahui telah mengambil bahan pangan lokal melalui sektor ketahanan pangan.

banner 325x300

Pemkab Mimika masih akan memastikan kondisi penyerapan pangan lokal oleh seluruh SPPG, termasuk kemungkinan masih adanya kebutuhan bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah.

“Barang semua tersedia di Mimika ini. Ada yang bisa mereka ambil dari dinas-dinas terkait. Ada peternakan, perikanan, ketahanan pangan dan banyak sekali,” ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (28/9/2026).

Menurut Emanuel, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk memaksa SPPG membeli bahan pangan dari petani lokal. Namun, Pemkab Mimika akan terus mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) dan pengelola SPPG agar memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di daerah.

“Kita hanya sifatnya mengimbau. Kami tidak punya kewenangan sampai bilang harus. Kami hanya mendorong BGN, tolong bantu. SPPG tolong ambil di sini,” katanya.

Dorongan tersebut mulai terlihat melalui penyerapan hasil kebun petani oleh SPPG melalui Kios Pangan Dinas Ketahanan Pangan Mimika.

Permintaan dalam jumlah besar membuat hasil pertanian petani lokal kini memiliki jalur pemasaran tambahan. Salah satu komoditas yang cukup banyak diserap adalah petatas dan singkong.

Kepala Seksi Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan Mimika, Husnia, mengatakan dalam satu kali pemesanan, kebutuhan petatas dan singkong dapat mencapai 360 hingga 380 kilogram.

“Yang paling banyak itu petatas sampai 360 kilo, sampai 380 kilo dan singkong,” ujar Husnia saat diwawancarai pada 7 September 2026.

Menurut Husnia, permintaan tersebut mulai memberikan dampak langsung terhadap penyerapan hasil kebun petani, termasuk mama-mama Orang Asli Papua (OAP).

“Dampaknya terasa sekali untuk petani. Kalau petani sangat senang,” katanya.

Libatkan Lima Kelompok Petani

Untuk memenuhi kebutuhan SPPG, Kios Pangan tidak selalu mengambil hasil pertanian dari satu kelompok petani.

Ketika permintaan meningkat, pengambilan dapat melibatkan lima kelompok petani atau lebih dalam satu hari. Apalagi jika pesanan dari beberapa SPPG masuk secara bersamaan.

Dalam kondisi tersebut, hasil kebun yang harus diangkut dapat mencapai 15 hingga 16 karung. Keterbatasan kendaraan operasional pun menjadi salah satu tantangan dalam proses distribusi.

“Satu mobil Hilux itu bisa full untuk mengangkut singkong. Kalau 380 kilo,” ujar Husnia.

Saat ini Kios Pangan memiliki dua kendaraan operasional. Namun, salah satu kendaraan sempat berada di luar daerah sehingga pengambilan hasil kebun harus menyesuaikan kendaraan yang tersedia.

Selain jumlah komoditas, lokasi kebun petani yang tersebar juga menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, pihak SPPG disebut cukup memahami kondisi tersebut ketika kebutuhan pangan harus dipenuhi dari beberapa kelompok petani.

Tak Hanya Singkong dan Petatas

Komoditas yang diserap untuk kebutuhan SPPG tidak terbatas pada singkong dan petatas. Kios Pangan juga memasok keladi, pisang, berbagai jenis sayuran, cabai hingga tomat.

Untuk cabai, misalnya, permintaan dari SPPG dapat mencapai tiga hingga empat karung dalam sehari.

Namun, pasokan cabai tidak selalu tersedia setiap hari dari satu kelompok petani. Karena itu, Kios Pangan mengatur pengambilan dari kelompok petani lainnya agar kebutuhan SPPG tetap dapat dipenuhi.

Pemesanan bahan pangan umumnya dilakukan beberapa hari sebelum digunakan. Pesanan yang masuk pada Rabu, misalnya, dapat dipersiapkan untuk kebutuhan Jumat, meski waktunya tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing SPPG.

Lebih dari 500 Petani Masuk Binaan

Hingga saat ini, lebih dari 500 petani telah terdata sebagai binaan Kios Pangan Dinas Ketahanan Pangan Mimika. Jumlah tersebut masih dalam proses pemutakhiran karena kelompok maupun petani baru terus mendaftarkan diri.

“Sudah 500 lebih. Banyak yang belum saya rekap. Minggu kemarin banyak yang mendaftarkan kelompok,” kata Husnia.

Sebelum adanya permintaan dari SPPG, hasil pertanian petani binaan tetap diserap melalui penjualan di kios maupun pasar keliling.

Namun, kehadiran SPPG memberikan tambahan jalur pemasaran dengan volume penyerapan yang lebih besar dan kebutuhan yang relatif terjadwal.

Selain memasok SPPG, Kios Pangan juga menggelar pasar keliling dua hingga tiga kali dalam sepekan di sejumlah kawasan permukiman. Langkah ini dilakukan agar hasil kebun petani dapat langsung bertemu dengan konsumen.

Bagi petani lokal, meningkatnya permintaan tersebut membuka peluang pasar baru. Dari kebun, singkong, petatas dan berbagai komoditas lainnya dikumpulkan, diangkut dalam karung-karung, kemudian dipasok ke dapur SPPG untuk menjadi bagian dari makanan yang disajikan kepada anak-anak sekolah melalui program MBG.

Penulis: CrystalEditor: Sevianto