News  

Warga Pesisir Menginap di Emperan Toko saat Festival Mimika, Begini Penjelasan Disbudparekraf

Warga beristirahat di emperan toko Senyum Lima Ribu Timika. (gambar disempurnakan dengan AI)
banner 468x60

Timika, Papuadaily – Sejumlah warga dari wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang datang menyaksikan Festival Seni Budaya Mimika, terlihat beristirahat di emperan Toko Senyum Lima Ribu, Jalan Yos Sudarso, kawasan Pasar Lama Timika.

Kondisi tersebut menjadi sorotan setelah foto mereka beredar di media sosial dan memunculkan keluhan mengenai keterbatasan akomodasi bagi warga dari wilayah jauh.

banner 325x300

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, menjelaskan warga tersebut berasal dari Pomako. Mereka datang untuk menyaksikan festival yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-30 Kabupaten Mimika.

Elisabeth mengatakan, setelah mengetahui keberadaan warga tersebut, ia turun langsung menemui mereka untuk memastikan asal dan alasan mereka berada di lokasi itu.

“Saya kumpul mereka dan saya tanya, kamu orang dari mana semua? Mereka bilang dari Pomako. Ada juga dari Peceblas,” ujar Elisabeth saat diwawancarai media pada Kamis (8/10/2026).

Menurut Elisabeth, warga mengaku datang atas inisiatif sendiri meski mengetahui kegiatan festival tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang diundang oleh dinas.

“Mereka bilang sudah tahu, tapi mereka sendiri yang naik. Mereka datang untuk menyaksikan, mau melihat dan menonton langsung. Mereka tahu tidak diundang, tetapi datang atas kemauan sendiri untuk meramaikan kegiatan,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian warga memilih bertahan di sekitar lokasi karena mempertimbangkan biaya dan kebutuhan transportasi apabila harus bolak-balik ke tempat asal mereka.

Elisabeth menyayangkan warga tidak lebih dahulu menginformasikan kedatangan mereka kepada pihak penyelenggara. Akibatnya, panitia tidak mengetahui keberadaan mereka sejak awal kegiatan.

Setelah bertemu langsung dengan warga, Elisabeth memastikan pihaknya telah menyediakan makanan dan menyiapkan kendaraan untuk mengantar mereka kembali ke daerah asal.

“Saya sudah kasih makan mereka semua, kendaraan juga sudah siap. Hari ini setelah kegiatan penutupan, kami antar mereka pulang,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga tersebut juga telah menyampaikan permohonan maaf karena tidak memberitahukan kedatangan mereka kepada pihak dinas.

Sebelumnya, beredarnya foto warga yang beristirahat di emperan toko memunculkan perhatian terhadap kesiapan akomodasi bagi masyarakat pesisir yang datang dari wilayah jauh untuk menyaksikan festival.

Tokoh perempuan Kamoro, Agustina Yatanea, menyayangkan kondisi tersebut. Ia mendukung penyelenggaraan festival sebagai bagian dari upaya pemerintah memberdayakan masyarakat melalui seni dan budaya Amungme serta Kamoro.

Namun, menurut Agustina, penyelenggaraan kegiatan serupa ke depan perlu lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat yang datang dari luar pusat kota, terutama mereka yang menghadapi kendala transportasi dan tempat beristirahat.

Ia juga berharap pemerintah melibatkan tokoh-tokoh Amungme dan Kamoro sejak tahap perencanaan kegiatan. Dengan demikian, informasi mengenai pelaksanaan festival dapat tersampaikan lebih baik dan masyarakat yang datang dari wilayah jauh memperoleh pendampingan yang memadai.

Peristiwa ini menjadi catatan bagi penyelenggara agar kegiatan kebudayaan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga memperhatikan akses informasi, kebutuhan dasar, dan kenyamanan masyarakat yang ingin ikut merayakannya.