Tiga Dekade Mimika, UMKM Lokal Diuji Menembus Pasar Nasional

Timika, Papuadaily – Tiga dekade Kabupaten Mimika tak hanya dirayakan dengan seremoni. Pemerintah Kabupaten Mimika ingin menjadikan usia ke-30 sebagai momentum menguji kekuatan produk lokal Papua Tengah untuk naik kelas dan menembus pasar nasional.

Langkah itu dikemas melalui Festival UMKM yang akan digelar di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, 6–8 Oktober 2026.

banner 325x300

Festival yang digelar bertepatan dengan rangkaian HUT ke-30 Kabupaten Mimika tersebut disiapkan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Koperasi dan UMKM bersama TIFA Creative sebagai ruang temu antara pelaku usaha lokal, pemerintah, dunia usaha, hingga calon pasar yang lebih luas.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, mengatakan festival tersebut dirancang bukan sekadar menjadi panggung promosi produk, tetapi sebagai langkah awal memperkuat daya saing UMKM Papua Tengah.

“Mimika memiliki perjalanan panjang dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi,” ujar Samuel dalam konferensi pers di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Selasa (22/9/2026).

Festival ini juga diarahkan menjadi ruang kolaborasi bagi delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Sejumlah daerah mulai disiapkan untuk membawa produk unggulannya, termasuk Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya hingga Nabire.

Menurut Samuel, keterlibatan kabupaten lain menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem UMKM Papua Tengah.

Ia menilai penguatan UMKM tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinergi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pelaku usaha dan berbagai pihak diperlukan agar produk lokal tidak hanya berputar di pasar daerah.

Targetnya jelas: produk lokal Papua Tengah harus punya jalan menuju pasar nasional.

Untuk membuka akses tersebut, Pemkab Mimika mengundang sejumlah pihak strategis, mulai dari jajaran kementerian, Staf Khusus Presiden, Gubernur dan Forkopimda Papua Tengah, hingga Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Papua Tengah.

Dukungan juga diarahkan dari sektor dunia usaha dan lembaga lokal, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Freeport Indonesia serta Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).

Samuel juga mengajak masyarakat, khususnya masyarakat adat tujuh suku di Mimika, ikut menjaga suasana yang kondusif selama festival berlangsung.

Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan tiga hari, tetapi mampu membuka ruang kerja sama baru bagi pelaku UMKM.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Winny Matulessy, mengatakan persiapan teknis terus dilakukan, termasuk pengiriman undangan dan koordinasi dengan sejumlah pihak.

Dalam dua hingga tiga hari ke depan, tim dari Mimika dijadwalkan melakukan koordinasi ke Nabire dan Jakarta.

Kehadiran kabupaten lain juga mulai terlihat dari pemesanan stan. Intan Jaya telah memastikan keikutsertaannya dengan membawa produk lokal, sementara Paniai berencana memamerkan kopi khas daerahnya.

“Intan Jaya sudah oke. Mereka sudah meminta dua stan, tetapi saya sampaikan satu stan. Paniai juga ada rencana membawa produk kopi. Deiyai dan Nabire juga begitu,” katanya.

Komunikasi dengan pemerintah pusat juga terus dilakukan. Winny menyebut Staf Khusus Presiden bidang UMKM telah memberikan respons positif dan meminta undangan resmi dikirimkan setelah pertemuan awal di Jakarta.

Festival UMKM ini pada akhirnya akan menjadi salah satu ujian bagi Mimika dan Papua Tengah: seberapa jauh produk lokal mampu keluar dari pasar sendiri, bertemu konsumen yang lebih luas, dan bersaing di panggung nasional.

Di usia 30 tahun, Mimika ingin ulang tahun bukan sekadar menjadi perayaan. Dari Gedung Eme Neme Yauware, pemerintah daerah mencoba membuka pintu baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat dan masa depan UMKM Papua Tengah.