News  

Alun-Alun Kota Timika Dirancang di Lahan 400×400 Meter, Kearifan Lokal Jadi Konsep Utama

Timika, Papuadaily – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang mulai mematangkan perencanaan pembangunan alun-alun Kota Timika di area pohon jomblo, Jalan Hasanuddin.

Kawasan seluas 400 x 400 meter itu nantinya diarahkan menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus ruang publik yang mengakomodasi unsur budaya dan kearifan lokal.

banner 325x300

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi, dalam seminar pendahuluan perencanaan pembangunan alun-alun Kota Timika, Selasa (1/9/2026).

Ia mengatakan, seminar pendahuluan menjadi ruang untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak terhadap konsep yang telah disusun konsultan.

Konsultan yang dilibatkan dalam perencanaan tersebut memiliki pengalaman dalam merancang alun-alun kota. Karena itu, desain yang ditawarkan diharapkan tidak berhenti sebatas konsep, tetapi benar-benar dapat diaplikasikan dalam pembangunan.

“Unsur-unsur budaya, kearifan lokal itu wajib masuk. Teman-teman konsultan membutuhkan masukan-masukan itu karena usulan tersebut akan diaplikasikan pada perencanaan yang lebih komprehensif,” katanya

Menurutnya, alun-alun Kota Timika nantinya diarahkan menjadi pusat aktivitas masyarakat dalam berbagai kegiatan positif.

Kawasan tersebut dirancang untuk menyediakan ruang kuliner, jogging track atau olahraga, hingga tempat hiburan bagi masyarakat.

“Fungsi dari alun-alun Kota Timika ini akan menjadi pusat aktivitas masyarakat Timika. Dalam aktivitas positif, baik ada kulinernya, ada aktivitas jogging track atau olahraga, juga aktivitas hiburan buat masyarakat,” ujarnya.

Namun, sebelum memasuki tahap pembangunan, sejumlah aspek teknis masih harus dimatangkan. Di antaranya kondisi tanah, konstruksi, lalu lintas dan transportasi, termasuk akses kendaraan maupun pergerakan pejalan kaki di kawasan tersebut.

Ia juga mengatakan, kondisi tanah menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhitungkan karena kawasan tersebut nantinya akan diisi berbagai konstruksi.

“Hal teknis harus dipertimbangkan, termasuk bagaimana kondisi jenis tanah yang ada di situ berkenaan dengan nanti akan dibangun berbagai konstruksi,” jelasnya.

Selain itu, aspek lalu lintas dan transportasi juga akan dikaji agar aktivitas kendaraan maupun masyarakat di kawasan alun-alun dapat berjalan dengan baik.

Perencanaan alun-alun tersebut telah dikerjakan konsultan sejak Juni 2026. Selama sekitar tiga bulan, tim konsultan mengumpulkan data lapangan yang kemudian disesuaikan dengan regulasi serta konsep pembangunan pemerintah daerah.

Sejumlah filosofi pembangunan turut dituangkan dalam konsep tersebut, termasuk gagasan tentang Kota Timika, harmoni dan konsep smart city.

Setelah seminar pendahuluan, proses akan dilanjutkan dengan seminar antara untuk melihat kesesuaian konsep yang ditawarkan dengan kondisi nyata di lapangan.

Masukan yang diperoleh dalam seminar antara nantinya digunakan untuk menyempurnakan konsep sebelum memasuki seminar akhir.

“Jangan sampai cuma sebatas konsep saja, tapi tidak bisa diaplikasikan. Makanya ada hal teknis yang harus dipertimbangkan,” tegas Prayoga.

Terkait anggaran, ia mengatakan nilai pembangunan belum ditetapkan karena proses perencanaan masih berlangsung. Besaran anggaran nantinya akan dipengaruhi berbagai kebutuhan teknis, termasuk material dan konstruksi yang digunakan.

Ia memastikan pembangunan alun-alun akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan dan ketersediaan anggaran daerah.

“Ketika seminarnya sudah rampung dengan terakhir pada seminar akhir, kita harapkan ada ketersediaan anggaran untuk dilakukan pembangunan di tahun berikut, secara bertahap,” katanya.

Ia juga berharap seluruh tahapan perencanaan dapat menghasilkan desain yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga sesuai kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, serta karakter budaya dan kearifan lokal Timika.