Timika, Papuadaily – Kerajinan tangan karya mama-mama Papua turut meramaikan ajang Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-VIII yang digelar PT Freeport Indonesia di Fire Ground Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Melalui stan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika, berbagai produk kerajinan lokal dipamerkan sekaligus dipasarkan kepada peserta dan pengunjung kompetisi. Produk tersebut meliputi noken, ukiran, anyaman, aksesori, hingga sejumlah olahan lokal.
Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Mimika, Nela Manggara, mengatakan keikutsertaan dalam ajang tersebut menjadi kesempatan bagi para pengrajin lokal untuk memperluas promosi dan menjangkau pasar yang lebih besar.
Menurut Nela, banyak pengrajin di Mimika memiliki keterampilan dan mampu menghasilkan produk berkualitas. Namun, keterbatasan akses promosi dan pemasaran masih menjadi kendala bagi mereka untuk memperkenalkan hasil karya kepada masyarakat luas.
“Target yang ingin kami capai melalui Dekranasda adalah menjawab tantangan yang selama ini dihadapi para pengrajin UMKM. Mereka memiliki talenta dan mampu menghasilkan berbagai kerajinan, tetapi hasil karya mereka belum mendapatkan respons yang baik untuk dipromosikan, dipamerkan, maupun dijual,” kata Nela saat diwawancarai di Timika, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, produk yang dibawa dalam kegiatan tersebut berasal dari pengrajin lokal. Sekitar 90 persen pengrajin yang terlibat merupakan Orang Asli Papua (OAP).
Kehadiran stan Dekranasda di tengah kompetisi yang diikuti kalangan industri itu diharapkan dapat mempertemukan pengrajin dengan calon pembeli potensial, termasuk perusahaan yang membutuhkan produk kerajinan lokal.
Antusiasme terhadap produk tersebut terlihat dari kunjungan Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, yang menyempatkan diri mendatangi stan Dekranasda dan membeli sejumlah produk kerajinan.
Nela berharap, partisipasi dalam IFRC VIII tidak hanya memberikan dampak terhadap penjualan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga membuka peluang kerja sama pemasaran dalam jangka panjang.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini semakin banyak pengunjung yang tertarik dan terbangun hubungan kerja sama. Jika suatu saat mereka membutuhkan produk kerajinan lokal dalam jumlah besar, mereka bisa berkomunikasi dan memesan melalui Dekranasda,” ujarnya.
Noken dan Minyak Tradisional Diminati Pengunjung
Sejumlah produk khas Papua menjadi perhatian pengunjung stan Dekranasda. Di antaranya noken berbahan kulit melinjo dan noken berbahan benang dengan tulisan Timika, Papua.
Selain kerajinan tangan, produk minyak tradisional seperti minyak daun bungkus, minyak daun gatal, dan minyak lintah juga menarik minat pembeli.
Meski belum melakukan rekapitulasi penjualan secara menyeluruh, Nela mengatakan stan Dekranasda cukup ramai dikunjungi selama kegiatan berlangsung.
Pengurus Dekranasda bersama anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Mimika turut melayani pengunjung sekaligus memberikan penjelasan mengenai produk yang dipamerkan.
Menurut Nela, tingginya minat pengunjung menjadi peluang yang perlu ditindaklanjuti melalui penguatan promosi dan perluasan jaringan pemasaran. Dengan demikian, kerajinan lokal tidak hanya dikenal sebagai produk budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat pembuatnya.
Dorong Pemerataan Manfaat Ekonomi
Nela berharap perusahaan besar, termasuk PT Freeport Indonesia, dapat terus menghadirkan kegiatan yang memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk mempromosikan produk mereka.
Ia mengatakan, Dekranasda Mimika juga akan terus mencari pola pendampingan dan pemasaran agar semakin banyak pengrajin memperoleh manfaat dari program yang dijalankan.
Nela mengakui, menjangkau seluruh pengrajin bukan perkara mudah karena jumlah mereka cukup banyak. Karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperluas jangkauan program sekaligus membuka akses pasar yang lebih baik.
“Kami memang belum bisa menjangkau seluruh pengrajin karena jumlahnya sangat banyak. Namun, kami akan terus mencari cara agar semakin banyak pengrajin bisa merasakan manfaat program Dekranasda. Kami berharap mereka juga dapat merasakan manfaat pembangunan yang sedang berlangsung di Kabupaten Mimika,” katanya.
Melalui partisipasi dalam IFRC VIII, Dekranasda Mimika berharap kerajinan karya mama-mama Papua semakin dikenal dan memiliki peluang pasar yang lebih luas. Upaya tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkuat peran UMKM lokal dalam menggerakkan perekonomian masyarakat Mimika.








