Timika, Papuadaily – Tidak mengetahui skenario yang akan dihadapi menjadi tantangan tersendiri bagi peserta Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-VIII yang digelar PT Freeport Indonesia di Fire Ground Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Co- Kapten Tim Adaro Indonesia, Aldo Jo mengungkapkan, sistem kompetisi kali ini berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Peserta tidak diberikan informasi awal mengenai skenario maupun peralatan yang akan digunakan dalam tantangan penyelamatan.
Kondisi tersebut membuat tim harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan melalui latihan yang lebih variatif.
“Awalnya deg-degan banget karena skenarionya tidak diberitahukan. Jadi, kami masih menebak-nebak. Setelah sampai di area simulasi, baru kami mengetahui kasus yang harus dihadapi,” ungkap perwakilan Tim Adaro Indonesia saat diwawancarai di sela-sela kompetisi pada Selasa 27 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pada kompetisi sebelumnya peserta biasanya memperoleh lembar penilaian atau score sheet, gambaran skenario, serta informasi mengenai peralatan yang akan digunakan.
Namun, pada IFRC ke-VIII, peserta dituntut lebih adaptif karena skenario baru diketahui ketika berada di arena perlombaan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat persiapan tim tidak bisa hanya berfokus pada satu jenis simulasi. Latihan harus mencakup berbagai kemungkinan agar anggota tim mampu mengambil keputusan dengan tepat ketika menghadapi situasi darurat.
“Metode latihan kami perlu menggunakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Jadi, tidak terfokus hanya pada satu skenario saja,” jelasnya.
Dari tiga tantangan yang diikuti timnya pada hari itu, yakni High Angle Rescue (HAR), Confined Space Rescue (CSR), dan Road Accident Rescue (RAR), ia menilai RAR menjadi salah satu tantangan paling sulit.
Dalam tantangan tersebut, peserta dihadapkan pada simulasi kecelakaan dengan posisi kendaraan yang telah diatur sedemikian rupa untuk menggambarkan kondisi kecelakaan yang kompleks. Situasi itu menuntut ketepatan teknik dan strategi agar korban dapat dievakuasi dengan aman.
Untuk mengantisipasi kondisi yang tidak terduga, timnya memperbanyak variasi latihan. Pada HAR, misalnya, mereka berlatih menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari korban yang terjatuh hingga kondisi ketika korban harus dinaikkan atau diturunkan.
Dengan latihan tersebut, tim diharapkan mampu menyesuaikan teknik penyelamatan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Selain tantangan teknis, keikutsertaan dalam IFRC di Mimika juga menjadi pengalaman tersendiri bagi timnya. Ia mengaku terkesan dengan keindahan Papua, keramahan masyarakat, serta kekayaan budaya setempat.
Menurutnya, kompetisi ini bukan hanya menjadi ajang menguji kemampuan penyelamatan, tetapi juga kesempatan bagi peserta dari berbagai daerah untuk saling mengenal dan mempelajari budaya yang berbeda.
Ia juga menyoroti komunikasi dengan juri internasional yang menggunakan bahasa berbeda. Meski demikian, kendala tersebut mulai terbantu karena sejumlah juri telah terbiasa mengikuti kompetisi di Indonesia dan memahami beberapa ungkapan dalam bahasa Indonesia.
“Kami juga berusaha meningkatkan kemampuan bahasa asing supaya tidak ada kesenjangan komunikasi antara peserta dan juri internasional,” katanya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia sebagai penyelenggara. Ia menilai kegiatan tersebut berlangsung dengan baik, mulai dari penyambutan peserta hingga dukungan selama kompetisi dan hiburan yang disediakan.
Ia berharap IFRC dapat kembali digelar pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak tim tanggap darurat berkesempatan menguji kemampuan, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kompetensi dalam menghadapi situasi darurat.








