Dinkes Mimika Dorong Intervensi Malaria Sebelum Warga Jatuh Sakit

Plh Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Marselino Mameyau
banner 468x60

TIMIKA, Papuadaily – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menempatkan penanganan malaria sebagai salah satu prioritas utama dengan target eliminasi pada 2030. Upaya tersebut akan diperkuat melalui edukasi kesehatan berkelanjutan, pencegahan penularan, pemeriksaan dini, dan keterlibatan aktif masyarakat.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Marselino Mameyau, mengatakan tingginya beban malaria di wilayah tersebut membutuhkan penanganan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga pencegahan sebelum masyarakat jatuh sakit.

banner 325x300

“Mimika tinggi, penyumbang terbanyak. Jadi salah satu target malaria,” kata Marselino dalam wawancara pada Kamis (8/10/2026).

Menurut dia, masyarakat perlu memperoleh informasi kesehatan secara konsisten agar memahami risiko penularan malaria sekaligus mengetahui langkah-langkah pencegahannya.

Edukasi tersebut mencakup upaya menghindari gigitan nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, mengenali gejala malaria, segera menjalani pemeriksaan ketika mengalami keluhan, serta mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas.

Marselino menilai penyampaian informasi tidak boleh hanya dilakukan ketika kasus meningkat atau saat terjadi persoalan kesehatan di tengah masyarakat. Edukasi harus menjadi bagian dari upaya perlindungan kesehatan sehari-hari.

Karena itu, penyebaran informasi mengenai malaria perlu melibatkan fasilitas kesehatan, kader, sekolah, komunitas, tempat kerja, media, hingga berbagai ruang publik. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami ancaman malaria, tetapi juga mampu menerapkan langkah pencegahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembenahan

Marselino, yang mulai bertugas setelah dilantik pada 5 Oktober 2026, juga memprioritaskan pembenahan internal Dinas Kesehatan Mimika untuk memperkuat pelaksanaan program kesehatan.

Ia menilai sistem manajemen dan koordinasi antarbagiannya perlu ditata agar setiap program berjalan lebih efektif dan terarah.

Pembenahan tersebut menjadi langkah awal sebelum memperkuat intervensi kesehatan di lapangan, termasuk penanganan malaria yang membutuhkan kesinambungan program dan keterlibatan berbagai pihak.

“Saya harus perbaiki dulu. Saya kembalikan roh Dinas Kesehatan dulu. Setelah itu baru saya bergerak keluar,” ujarnya.

Selain malaria, Dinas Kesehatan Mimika juga menaruh perhatian pada persoalan kabut asap, stunting, dan tuberkulosis (TB). Namun, tingginya beban malaria membuat penyakit tersebut menjadi salah satu fokus yang memerlukan perhatian khusus.

Butuh Kerja Bersama

Marselino menegaskan, target eliminasi malaria pada 2030 tidak dapat dicapai hanya melalui kerja pemerintah atau Dinas Kesehatan. Dukungan masyarakat, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dunia usaha, sekolah, media, dan mitra lainnya dibutuhkan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit tersebut.

Menurut dia, keberhasilan program bergantung pada konsistensi seluruh pihak dalam menjalankan perannya, mulai dari menyebarkan informasi yang benar hingga mendorong masyarakat memeriksakan diri dan menjalani pengobatan secara tepat.

“Mari satukan langkah dan buktikan bahwa Mimika bisa bebas malaria. Keberhasilan itu bukan karena saya, tetapi karena kita bekerja bersama dan dibantu oleh masyarakat Mimika,” katanya.

Dengan target eliminasi pada 2030, upaya penanganan malaria di Mimika membutuhkan langkah yang berkelanjutan dan terukur. Penguatan edukasi, pencegahan penularan, penemuan kasus secara dini, serta kepatuhan terhadap pengobatan menjadi bagian penting untuk menekan risiko penularan.

Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan dapat menjaga konsistensi upaya tersebut agar target eliminasi malaria tidak berhenti sebagai komitmen, tetapi berkembang menjadi langkah nyata untuk melindungi kesehatan warga Mimika.

ADVERTORIAL