Timika, Papuadaily – Koperasi Dimitegaipugi mengembangkan usaha kopi dari perkebunan di Desa Toko, Distrik Wegemuka, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, hingga ke pasar Kabupaten Mimika. Setelah merintis perkebunan sejak 2009, koperasi tersebut mulai memanen kopi pada 2021 dan kini mengolahnya di Timika untuk memperluas pemasaran.
Di balik upaya mengembangkan potensi kopi lokal itu, koperasi masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya transportasi dari Paniai ke Mimika. Pengiriman melalui jalur udara membuat ongkos distribusi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga jual dan keberlanjutan usaha.
Ketua Koperasi Dimitegaipugi, Mathias Gobai, mengatakan usaha tersebut dibangun melalui proses panjang, mulai dari penanaman, perawatan tanaman, hingga memasuki masa panen. Pada tahap awal, koperasi mendapat dukungan operasional dan pembinaan dari pemerintah.
“Dari 2009 sampai 2021 itu penanaman, perawatan, kemudian masa panen. Panen awal pada 2021,” kata Mathias saat ditemui di Festival dan Bazar UMKM Kabupaten Mimika, Kamis (8/10/2026).
Koperasi memiliki lahan perkebunan seluas lima hektare di Desa Toko. Dari total lahan tersebut, sekitar tiga hektare telah dimanfaatkan, sedangkan dua hektare lainnya masih disiapkan untuk pengembangan.
Dalam menjalankan usaha, koperasi melibatkan sekitar 32 orang, yang sebagian besar berasal dari lingkungan keluarga. Enam orang di antaranya masih berada di Paniai untuk menjaga dan merawat perkebunan.
Mathias mengatakan koperasi berupaya melanjutkan kegiatan produksi secara mandiri sejak 2021, setelah sebelumnya memperoleh dukungan operasional pemerintah.
Dari Paniai, Diolah di Timika
Pengembangan usaha kopi Dimitegaipugi tidak berhenti pada kegiatan perkebunan. Koperasi juga membangun proses pengolahan untuk menghasilkan produk siap jual dan meningkatkan nilai tambah kopi dari Paniai.
Setelah dipanen, buah kopi melewati sejumlah tahapan, mulai dari pembersihan, pengupasan kulit, penjemuran, pemeriksaan kadar air, penyangraian atau roasting, hingga penggilingan.
Biji kopi dari Desa Toko kemudian dikirim ke Timika untuk menjalani proses pengolahan lanjutan. Di Timika, koperasi menyiapkan sejumlah peralatan, termasuk mesin pengupas, mesin penyangrai, dan perlengkapan pengemasan.
Produk yang telah diolah dipasarkan kepada masyarakat melalui promosi langsung, kegiatan pameran, serta platform daring. Festival dan Bazar UMKM Kabupaten Mimika menjadi salah satu ruang bagi koperasi untuk memperkenalkan kopi Paniai sekaligus menjangkau calon konsumen.
Pemasaran juga dilakukan ke daerah asal. Sebagian produk yang telah diolah dikirim kembali ke Paniai untuk dijual melalui agen kepada masyarakat setempat.
Menurut Mathias, koperasi turut membangun jaringan dengan kelompok penggiat kopi dari sejumlah daerah, antara lain Paniai, Mimika, Jayapura, dan Nduga. Jaringan tersebut dihimpun melalui Wamena. Koperasi juga menyebut adanya jalur distribusi menuju Jakarta untuk memperluas jangkauan pasar.
Ongkos Angkut Tekan Harga Jual
Meski berupaya memperluas pasar, biaya pengiriman masih menjadi tantangan bagi koperasi. Selama ini, biji kopi dari Paniai ke Timika diangkut menggunakan transportasi udara.
Pengiriman berkisar 50 kilogram, dengan potensi mencapai 50 hingga 100 kilogram dalam kurun waktu sekitar empat bulan, berdasarkan keterangan pengurus koperasi.
Biaya angkut diperkirakan mencapai Rp20.000 per kilogram. Dengan tarif tersebut, pengiriman 50 kilogram membutuhkan biaya sekitar Rp1 juta, sedangkan pengiriman 100 kilogram mencapai Rp2 juta.
Ongkos distribusi itu menjadi salah satu komponen yang harus diperhitungkan dalam penetapan harga jual. Saat ini, harga kopi yang disebutkan pengurus koperasi mencapai Rp135.000 per kilogram.
Harga tersebut berpotensi naik menjadi Rp150.000 per kilogram pada tahun berikutnya, dengan mempertimbangkan perkembangan biaya operasional dan transportasi.
Kondisi geografis serta ketergantungan pada angkutan udara membuat distribusi menjadi aspek penting dalam pengembangan usaha kopi ini. Di satu sisi, koperasi berupaya meningkatkan produksi dan memperluas pasar. Di sisi lain, biaya logistik perlu dikelola agar usaha tetap berkelanjutan dan produk dapat bersaing.
Kemandirian Keluarga
Bagi Koperasi Dimitegaipugi, usaha kopi tidak semata-mata berorientasi pada penjualan. Keterlibatan anggota keluarga dalam kegiatan perkebunan, pengolahan, hingga pemasaran menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi.
Dalam pengelolaan koperasi, Mathias menjelaskan adanya mekanisme iuran wajib anggota berupa biji kopi sebanyak 25 kilogram per tahun.
Ke depan, koperasi berharap dapat memanfaatkan seluruh lahan yang tersedia, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas jaringan pemasaran. Dukungan permodalan, fasilitas pengolahan, dan kemudahan distribusi dinilai penting untuk menunjang pengembangan usaha.
Perjalanan Dimitegaipugi memperlihatkan bagaimana potensi perkebunan di Paniai dihubungkan dengan kegiatan pengolahan dan pemasaran di Mimika. Dari Desa Toko hingga Timika, kopi menjadi salah satu komoditas yang diupayakan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Papua.
Namun, perluasan usaha tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan dan hasil panen. Efisiensi pengolahan, kepastian distribusi, dan kemampuan menjangkau konsumen juga menjadi faktor penting agar kopi lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.








