Timika, Papuadaily – Layar bioskop mungkin akan padam setelah film selesai diputar. Namun, cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan kebebasan tidak seharusnya ikut berakhir. Ingatan tentang mereka yang pernah memperjuangkan keadilan perlu terus dirawat agar tidak hilang ditelan waktu.
Pesan itulah yang terasa dalam kegiatan nonton bareng film Laut Bercerita yang digelar komunitas literasi Singgah Baca berkolaborasi dengan Pal 8 Pictures di XXI Diana Mall, Timika, Papua Tengah, Kamis (29/10/2026) malam.
Dimulai pukul 18.00 WIT, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan bagi komunitas literasi dan masyarakat untuk menikmati karya sastra melalui medium film. Lebih dari sekadar menonton, kegiatan tersebut mengajak peserta menyelami kembali cerita tentang kemanusiaan, ingatan, dan perjuangan yang tidak boleh dilupakan.
Film Laut Bercerita merupakan adaptasi dari novel karya Leila S. Chudori yang mengisahkan Biru Laut bersama kawan-kawannya, sekelompok aktivis yang mengalami represi ketika memperjuangkan keadilan.
Melalui kisah persahabatan, kehilangan, perjuangan, hingga keluarga yang ditinggalkan, film ini menghadirkan gambaran tentang sisi kemanusiaan dari sebuah sejarah yang penuh luka.
Bagi Founder Singgah Baca, Dina menghadirkan cerita tersebut melalui layar lebar merupakan bagian dari upaya memperluas makna literasi. Membaca tidak hanya berhenti pada halaman buku, tetapi juga dapat tumbuh melalui film, percakapan, pertukaran perspektif, dan refleksi bersama.
Sebelumnya, ia telah menggelar diskusi buku Laut Bercerita bersama komunitas dan ahli di bidang psikologi. Pemutaran film kali ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk kembali mendalami cerita yang sama melalui medium berbeda.
Kolaborasi dengan Pal 8 Pictures sekaligus mempertemukan dunia literasi dan perfilman dalam sebuah pengalaman kolektif. Film menjadi pintu masuk untuk mengenal cerita, sementara percakapan setelahnya menjadi ruang untuk menjaga pesan tetap hidup.
Salah satu pesan yang diangkat dalam kegiatan tersebut berbunyi, “Jangan biarkan Biru Laut dan kawan-kawannya berjalan sendirian di lorong sunyi.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa merawat ingatan bukan sekadar mengetahui peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, dibutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, memahami, dan memberi ruang bagi cerita-cerita yang tidak boleh dilupakan.
Salah satu penonton, Ajik, mengapresiasi inisiatif Singgah Baca yang menghadirkan ruang literasi melalui kegiatan menonton film. Menurutnya, semangat literasi perlu terus dilanjutkan dalam berbagai bentuk dan ruang.
“Terima kasih kepada Singgah Baca yang sudah mengundang kita semua untuk menonton bareng Laut Bercerita. Untuk Singgah Baca, teruskan gerakan literasinya ke mana pun dan melalui apa pun. Seperti dalam cerita ini, membaca adalah melawan dan menulis juga adalah melawan,” ujarnya saat wawancara di Timika.
Setelah membaca novelnya dan menyaksikan film tersebut, Ajik menilai Laut Bercerita menjadi pengingat bahwa kebebasan dan pergerakan memiliki harga yang tidak murah.
Ia berharap semangat pergerakan, perlawanan, dan keberanian menyampaikan kritik tetap dijaga dalam berbagai bentuk. Sebab, kritik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi pihak-pihak yang menerima kritik tersebut.
“Kebebasan itu mahal, pergerakan juga mahal. Ini mengingatkan kita bahwa pergerakan, perlawanan, dan kritik harus terus dilakukan, apa pun bentuknya. Karena dari situlah pihak-pihak yang kita kritik juga bisa belajar,” tambahnya.
Sebagai komunitas literasi berbasis di Timika, Papua Tengah, Singgah Baca percaya bahwa ruang belajar dapat tumbuh melalui berbagai medium. Membaca buku, menonton film, dan berbagi cerita menjadi cara untuk memperluas perspektif sekaligus membangun empati terhadap pengalaman orang lain dan berbagai persoalan ketidakadilan.
Melalui kegiatan ini, Singgah Baca dan Pal 8 Pictures berharap pengalaman menonton tidak berhenti ketika layar bioskop padam. Peserta juga diajak membagikan kesan, pengalaman, dan ulasan film melalui Instagram Story untuk memperluas percakapan serta menghubungkan lebih banyak orang dengan cerita Laut Bercerita.
Tentang Singgah Baca
Singgah Baca merupakan gerakan dan komunitas literasi berbasis di Timika, Papua Tengah, yang berupaya mendekatkan akses terhadap buku dan menghadirkan ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Dimulai melalui lapak baca gratis pada November 2024, Singgah Baca terus mengembangkan berbagai kegiatan, seperti membaca nyaring, diskusi buku, piknik buku, dan aktivasi literasi bersama komunitas.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Singgah Baca berupaya membangun kebiasaan membaca sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial agar masyarakat, khususnya anak-anak, berani bermimpi, berpikir kritis, serta merawat kehidupan dan lingkungan.





