Timika, Papuadaily – Dalam semangat Hari Kartini, komunitas Di Balik Perempuan mengangkat tema “Menelusuri Gelap, Menjemput Terang” sebagai ajakan bagi para perempuan, khususnya orang tua, untuk berani menghadapi trauma masa lalu agar tidak diwariskan kepada anak di masa depan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (19/4/2026) ini dibuka dengan pemutaran film Tuhan Izinkan Aku Berdosa, kemudian dilanjutkan dengan ruang diskusi yang mengangkat isu-isu perempuan.
Perwakilan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kabupaten Mimika, Christin Yoku, menyampaikan bahwa kesadaran untuk mengenali dan mengelola luka batin menjadi langkah penting dalam memutus rantai trauma antargenerasi, khususnya dalam pola pengasuhan anak.
Ia menekankan bahwa trauma masa lalu tidak selalu bisa hilang sepenuhnya, tetapi dapat diproses dengan baik. Oleh karena itu, orang tua memiliki pilihan untuk tidak mewariskan luka tersebut kepada anak-anak mereka.
“Seringkali sebelum menikah kita punya banyak teori parenting, tetapi setelah menjalani kehidupan rumah tangga, hanya sedikit yang benar-benar diterapkan. Karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengambil keputusan sadar, terutama jika memiliki pengalaman luka dari pola asuh sebelumnya, agar tidak mengulanginya kepada anak,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu hal penting dalam pengasuhan adalah memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi. Anak tidak seharusnya dipaksa mengikuti semua keinginan orang tua, termasuk dalam hal interaksi sosial seperti harus bersalaman atau bersikap tertentu kepada orang lain.
Dengan adanya ruang ekspresi, anak akan lebih berani menyampaikan pendapat, termasuk ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman atau bahkan berbahaya, seperti kekerasan seksual.
Ia juga menyoroti fenomena orang tua yang menjadikan anak sebagai “investasi” untuk mewujudkan mimpi yang tidak tercapai di masa lalu. Hal ini seringkali membuat anak berada dalam tekanan, mulai dari tuntutan sekolah, tugas tambahan, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
“Kondisi ini membuat anak kelelahan secara emosional, tetapi seringkali tidak disadari oleh orang tua,” tambahnya.
Dalam pola asuh, menurut Christin Yoku, penting untuk tidak menekan anak, tetapi tetap memberikan batasan yang sehat. Disiplin tetap diperlukan, namun harus diimbangi dengan pendekatan yang positif, seperti adanya penghargaan atau reward.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran orang tua untuk menyelesaikan luka batin yang dimiliki. Jika trauma tersebut masih berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
“Pola asuh yang sehat dimulai dari orang tua yang juga sehat secara emosional. Dengan begitu, anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya,” tutupnya.

