News  

Nakes Jalan Kaki 12 Jam, Kadistrik: Kalau Koordinasi, Pemerintah dan Freeport Pasti Bertindak

Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu (kanan)

Timika, Papuadaily– Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu, menanggapi viralnya unggahan seorang tenaga kesehatan (nakes) yang mengaku harus berjalan kaki selama 12 jam dari Aroanop menuju Banti untuk mengobati rekannya karena stok obat malaria di Pustu Aroanop dilaporkan habis.

Menurut Dev, substansi persoalan bukan terletak pada viral atau tidaknya unggahan tersebut, melainkan pada minimnya koordinasi dengan pemerintah distrik sebelum perjalanan dilakukan.

banner 325x300

Ia menyayangkan langkah yang diambil tanpa terlebih dahulu menyampaikan kondisi yang dihadapi kepada pemerintah setempat, padahal bantuan dapat diupayakan apabila informasi diterima lebih awal.

“Saya juga sebagai kepala distrik tidak dikonfirmasi terkait perjalanan mereka. Kalau mereka berkoordinasi, kita bisa mengupayakan penjemputan dari pemerintah atau Freeport,” kata Dev kepada wartawan, Kamis (11/6/2026).

Dev menegaskan jalur yang ditempuh dari Aroanop menuju Banti merupakan kawasan dengan tingkat risiko keamanan yang tinggi karena masuk dalam kategori zona merah.

Menurutnya, perjalanan tanpa koordinasi tidak hanya membahayakan keselamatan petugas, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila terjadi insiden di tengah perjalanan.

“Jalur yang dilewati adalah jalur zona merah. Kalau terjadi apa-apa di perjalanan siapa yang disalahkan?” ujarnya.

Ia memastikan Pemerintah Distrik Tembagapura selama ini berupaya hadir membantu kebutuhan tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah pedalaman, termasuk ketika menghadapi kendala logistik maupun kebutuhan dasar lainnya.

Sebagai contoh, Dev mengungkapkan tenaga kesehatan yang bertugas di Kampung Banti pernah mengalami kekurangan bahan makanan. Setelah menerima laporan, pemerintah distrik segera mengambil langkah untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.

“Nakes yang di Banti saja pernah kehabisan bama. Begitu kami dari distrik dapat laporan, langsung kami bawa nakes-nakes itu belanja bama di Shopping Tembagapura. Ini sebagian bentuk kecil pemerintah selalu hadir,” katanya.

Karena itu, ia berharap seluruh tenaga kesehatan dan pihak terkait dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah distrik agar setiap persoalan di lapangan dapat segera ditangani secara bersama-sama.

“Yang paling terpenting itu adalah koordinasi, biar jangan ada dusta di antara kita,” tegasnya.

Sebelumnya, unggahan seorang tenaga kesehatan yang mengaku berjalan kaki selama 12 jam dari Aroanop menuju Banti untuk mendapatkan pengobatan bagi rekannya yang terserang malaria viral di media sosial dan memicu beragam tanggapan publik.

Menanggapi polemik tersebut, Bupati Mimika Johannes Rettob juga mengingatkan agar setiap kendala yang dihadapi petugas di lapangan terlebih dahulu disampaikan kepada pemerintah untuk dicarikan solusi. Ia menilai persoalan pelayanan publik semestinya dikomunikasikan melalui jalur koordinasi yang tersedia, bukan langsung dipublikasikan melalui media sosial, terlebih saat jam kerja.