banner 728x250

Pedagang di Timika: Harga Plastik Naiknya Sangat Keterlaluan

Ilustrasi

Timika, Papuadaily – Lonjakan harga plastik di Kabupaten Mimika kian memberatkan pedagang kecil. Dalam beberapa waktu terakhir, harga bahkan naik hingga 200 persen dan memukul biaya usaha sehari-hari.

Sejumlah pedagang mengaku kesulitan menutupi biaya operasional akibat kenaikan tersebut. Salah satunya Ibu Astuti, pedagang tahu di Pasar Sentral Timika.

“Harga plastik sekarang naiknya sangat keterlaluan,” ujarnya saat diwawancarai Papuadaily, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, biaya pembelian plastik yang sebelumnya sekitar Rp5 juta kini meningkat menjadi Rp8 juta hingga Rp9 juta.

Dari penelusuran Papuadaily, kondisi yang sama dirasakan pemilik Toko Sinar Sulawesi Plastik, Ibu Hani. Ia mengungkapkan, lonjakan harga plastik saat ini sangat signifikan, bahkan mencapai hingga 200 persen pada beberapa jenis.

“Awalnya kenaikan hanya sekitar 50 sampai 60 persen, tapi sekarang sudah melonjak hingga 200 persen. Bahkan ada beberapa pabrik yang tutup sementara karena kekurangan bahan baku,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kelangkaan bahan baku berupa biji plastik menyebabkan distribusi barang terhambat. Akibatnya, pasokan dari luar daerah, seperti Surabaya, ikut terganggu.

“Sekarang kami mau order sudah tidak ada barang. Di perjalanan juga hampir tidak ada pengiriman karena harga belum pasti,” katanya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada harga jual di tingkat pedagang. Harga yang sebelumnya sekitar Rp800 ribu per karung kini naik menjadi Rp1 juta hingga Rp1,1 juta.

“Kalau stok habis, kami juga kesulitan karena tidak ada barang masuk lagi,” tambahnya.

Selain itu, biaya distribusi juga mengalami kenaikan. Ongkos kirim yang sebelumnya berkisar Rp24 juta hingga Rp25 juta kini meningkat menjadi Rp28 juta hingga Rp30 juta.

Di sisi lain, reaksi konsumen pun beragam. Sebagian tetap membeli karena kebutuhan, namun ada juga yang menunda pembelian akibat harga yang semakin tinggi.

“Memang ada yang marah, tapi tetap beli karena kebutuhan. Kalau ibu rumah tangga, ada juga yang memilih menahan dulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada pengurangan karyawan. Namun, jika kondisi kelangkaan terus berlanjut, hal tersebut berpotensi terjadi.

“Kalau barang terus tidak ada, kemungkinan ke depan bisa saja ada pengurangan karyawan,” katanya.

Sementara itu, karyawan Toko Yuri Plastik, Andi, menyebutkan kenaikan harga terjadi secara bertahap namun cukup drastis. Dalam waktu singkat, harga plastik bahkan melonjak hingga 70 persen.

“Awalnya naik sekitar 10 persen, lalu seminggu kemudian naik lagi sampai 30 persen. Setelah itu terus meningkat hingga 70 persen. Dari harga Rp6.000, sekarang bisa mencapai Rp17.000 sampai Rp18.000,” ujarnya saat ditemui, Senin (6/4/2026) lalu.

Menurut Andi, lonjakan harga mulai terasa setelah munculnya informasi terkait konflik global, termasuk antara Amerika dan Iran, serta insiden kebakaran pabrik plastik. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga dari distributor di Surabaya.

Ia menambahkan, jenis plastik kantong atau kresek menjadi yang paling terdampak.

“Yang paling parah itu kresek, kenaikannya sampai 70 persen. Kalau botol atau cup masih sekitar 30 sampai 40 persen,” tutupnya.