Timika, Papuadaily – Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) VIII menjadi ajang bagi Tim Amungme PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk menguji kemampuan, memperkuat kekompakan, dan menambah pengalaman dalam menghadapi berbagai skenario penyelamatan.
Bagi sebagian besar personel Tim Amungme, kompetisi yang berlangsung di Mimika Sport Complex (MSC), Kabupaten Mimika, Papua Tengah, itu menjadi pengalaman pertama. Meski menghadapi persaingan ketat, mereka berupaya memberikan penampilan terbaik dalam setiap kategori yang dipertandingkan.
Kapten Tim Amungme PTFI, Made Prayoga, mengatakan banyaknya peserta debutan menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar dan meningkatkan kompetensi.
“Saya senang karena tim ini solid. Rata-rata anggota Tim Amungme ini banyak debutan, tahun pertama mereka ikut. Saya berharap melalui event pertama ini, mereka mendapatkan pembelajaran untuk ke depannya,” ujar Made, Jumat (30/10/2026).
Dalam IFRC VIII, Tim Amungme mengikuti enam kategori, yakni Confined Space Rescue, Road Accident Rescue (RAR), High Angle Rescue, Structural Firefighting, Collapsed Structure Rescue, dan Underwater Rescue.
Pada hari pertama, tim berlaga di tiga kategori, yaitu penyelamatan di ruang terbatas, penyelamatan kecelakaan lalu lintas, dan penyelamatan di ketinggian. Made mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan kategori RAR yang menjadi bahan evaluasi bagi tim.
Memasuki hari kedua, para personel kembali menghadapi tantangan melalui kategori pemadaman kebakaran struktural, penyelamatan pada bangunan runtuh, dan penyelamatan bawah air.
Made mengatakan tim telah berusaha menjalankan seluruh tantangan sesuai arahan pelatih dengan mengerahkan kemampuan terbaik. Adapun hasil akhir kompetisi diserahkan kepada dewan juri.
“Kami sudah mencoba yang terbaik untuk tim. Kami bermain semaksimal mungkin. Untuk hasil akhirnya, tentu kami serahkan kepada penilaian juri,” katanya.
Skenario Tertutup Uji Kesiapan Tim
Persaingan dalam IFRC VIII semakin menantang dengan keikutsertaan 17 tim yang memiliki persiapan dan strategi masing-masing. Untuk menghadapi kompetisi tersebut, Tim Amungme telah menjalani latihan intensif selama enam bulan.
Namun, durasi latihan bukan satu-satunya faktor penentu. Format kompetisi dengan skenario tertutup juga menuntut setiap personel mampu beradaptasi dengan situasi yang tidak diketahui sebelumnya.
Made menjelaskan, format tersebut berbeda dari challenge yang skenarionya telah diketahui peserta. Dalam kompetisi dengan skenario tertutup, setiap regu harus siap menghadapi kondisi di lapangan tanpa mengetahui secara terperinci tantangan yang akan dihadapi.
“Kalau challenge, kita sudah tahu skenarionya. Tetapi dalam kompetisi ini, skenario benar-benar tertutup. Jadi, saat berada di lapangan, kita harus siap dalam kondisi apa pun dan tahu bagaimana memecahkan masalah,” jelasnya.
Kondisi tersebut menuntut personel untuk berpikir cepat, mengambil keputusan secara tepat, serta menyusun langkah penanganan sesuai situasi yang dihadapi. Kemampuan beradaptasi dan koordinasi tim menjadi bagian penting dalam menyelesaikan setiap tantangan.
Menurut Made, operasi penyelamatan tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Kesiapan mental, ketenangan saat menghadapi tekanan, dan kemampuan bekerja sama juga menentukan keberhasilan personel dalam menjalankan tugas.
Evaluasi untuk Meningkatkan Kompetensi
Bagi Tim Amungme, IFRC VIII tidak semata-mata menjadi ajang untuk meraih prestasi. Kompetisi ini juga menjadi ruang evaluasi untuk mengidentifikasi kekurangan, mengukur kemampuan personel, dan mempersiapkan tim menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya.
Pengalaman para peserta debutan diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi berikutnya sekaligus meningkatkan kesiapan dalam menjalankan operasi penyelamatan.
Made berharap Tim Amungme dapat terus berkembang melalui latihan, evaluasi, dan pengalaman bertanding.
“Harapan saya, ke depan Tim Amungme bisa lebih baik, lebih solid, dan lebih siap, baik secara fisik maupun mental. Kami harus lebih banyak belajar karena kompetisi seperti ini membutuhkan persiapan yang benar-benar matang,” tutupnya.
Melalui pengalaman di IFRC VIII, Tim Amungme diharapkan semakin mampu membangun kerja sama yang kuat dan meningkatkan keterampilan teknis dalam menghadapi berbagai tantangan penyelamatan.








