Buruh Angkut Batu “Berulah” Ratusan Sopir Truk Datangi Polsek Kuala Kencana Minta Jaminan Keamanan

Timika, Papuadaily – Sekitar 100 sopir truk mendatangi Kantor Polsek Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Kamis (5/11/2026) pagi. Kedatangan mereka bertujuan menyampaikan aspirasi sekaligus meminta perlindungan dan solusi terkait maraknya dugaan penghadangan, intimidasi, hingga pengerusakan kendaraan yang kerap terjadi saat aktivitas pengangkutan batu, khususnya di kawasan Perempatan Jayanti.

Aksi tersebut diterima langsung oleh Kapolsek Kuala Kencana AKP Djemi Reinhard. Turut hadir Kabag Ops Polres Mimika AKP Yulius Harikatang, Kasubbag Dalops Polres Mimika AKP Y. Sera Ayatonai, Wakapolsek Kuala Kencana Ipda Eko Kurniawan, serta jajaran personel Polsek Kuala Kencana.

Perwakilan sopir truk, Daud Lawa Padang, menyampaikan bahwa dalam beberapa minggu terakhir para sopir kerap mengalami intimidasi saat mengambil tenaga angkut batu di beberapa lokasi, antara lain SP3, sekitar Koramil, dan Perempatan Jayanti. Ia menjelaskan bahwa pihaknya selama ini telah memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemilik lahan maupun buruh angkut sesuai kesepakatan yang berlaku. Namun, adanya tuntutan dari kelompok buruh di lokasi berbeda membuat para sopir kebingungan menentukan tempat pengambilan yang aman.

“Kami tidak mempermasalahkan harga maupun kesepakatan yang berlaku. Kami hanya ingin mendapatkan kepastian dan jaminan keamanan agar bisa bekerja dengan tenang, tanpa adanya penghadangan, pelemparan, maupun pengerusakan kendaraan,” ujar Daud.

Para sopir juga memaparkan terdapat empat kelompok buruh angkut batu yang beroperasi di wilayah Mimika, yaitu kelompok Bundaran SP2 (Suku Kamoro), kelompok SP3 (Suku Dani), kelompok Perempatan Kuala Kencana (Suku Dani), serta kelompok Perempatan Jayanti (Suku Moni dan Suku Dani). Keempat kelompok tersebut dinilai belum memiliki koordinasi terpadu, yang diduga memicu kecemburuan antarkelompok ketika sopir memilih jasa buruh dari salah satu titik, sehingga berpotensi menimbulkan perselisihan hingga pengerusakan kendaraan.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Kuala Kencana AKP Djemi Reinhard menegaskan komitmen pihaknya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, serta tidak menginginkan adanya intimidasi maupun kekerasan yang mengganggu aktivitas warga. Ia menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Kampung Mimika Ginung dan Kepala Kampung Pioka Kencana untuk mencari solusi bersama, termasuk mengantisipasi keterlibatan anak-anak muda yang terpengaruh minuman keras.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk pihak distrik, kepala kampung, tokoh masyarakat, dan pihak terkait lainnya. Kami juga mendorong terbentuknya wadah atau organisasi buruh agar aktivitas di lapangan dapat dikoordinasikan dengan baik,” ujar AKP Djemi Reinhard.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Mimika AKP Yulius Harikatang menekankan pentingnya pendataan menyeluruh terhadap seluruh kelompok buruh angkut batu, termasuk koordinator dan anggotanya, agar penyelesaian persoalan dapat menjangkau semua pihak yang beraktivitas di lapangan.

Pihak kepolisian juga memastikan akan menjadwalkan pertemuan mediasi yang melibatkan seluruh kelompok buruh angkut batu, perwakilan sopir, tokoh adat, kepala kampung, dan pihak terkait lainnya. Dalam pertemuan tersebut akan dibahas penentuan lokasi khusus pengambilan buruh, mekanisme pembagian giliran kerja, keseragaman harga batu, jarak pengangkutan, serta pembentukan sistem koordinasi agar tidak terjadi perselisihan.

“Kami akan memfasilitasi mediasi untuk mencari solusi bersama. Kami juga mengimbau seluruh pihak agar menahan diri, tidak melakukan tindakan anarkis, serta mengutamakan keamanan dan ketertiban sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan aman dan lancar,” ucap AKP Yulius Harikatang.

Setelah mendengarkan arahan pihak kepolisian, para sopir truk meninggalkan lokasi dan kembali ke pangkalan masing-masing. Sepanjang kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan kondusif.

Melalui langkah koordinasi dan mediasi ini, Polres Mimika berharap persoalan antara kelompok buruh angkut batu dan para sopir truk dapat diselesaikan secara damai, sehingga aktivitas perekonomian masyarakat tetap berjalan lancar dan situasi keamanan di Kabupaten Mimika senantiasa terjaga.